Deretan Pemain Afrika yang Memesona Bersama Arema

oleh Iwan Setiawan diperbarui 05 Mei 2020, 09:15 WIB
Arema FC - Pemain Afrika di Arema (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Malang - Arema yang sudah eksis sejak era Galatama dalam perjalanannya kerap menggunakan pemain asing dari berbagai belahan dunia. Dalam perjalanannya itu, Arema pernah memiliki sederet pemain asing asal Afrika yang memberikan pesona luar biasa bersama Singo Edan.

Dalam perkembangan sejak era Galatama yang kemudian menyatu dengan klub Perserikatan di Liga Indonesia, sudah banyak pemain asing yang berkiprah di sepak bola Indonesia. Pemain dari Amerika Selatan dan Afrika lebih dulu menjadi idola, sebelum akhirnya pemain Eropa dan Asia juga menjadi favorit.

Advertisement

Arema pernah memiliki sejumlah pemain asing asal Afrika. Namun, pada musim ini, tim yang bermarkas di Stadion Kanjuruhan, Malang, itu memang tidak memiliki satu pun pemain asing dari Afrika. Terakhir, Makan Konate yang merupakan pemain asal Mali yang berada di Arema pada musim lalu.

Gelandang Arema FC, Makan Konate, memperhatikan rekannya saat menghadapi Persija Jakarta pada laga Shopee Liga 1 di SUGBK, Jakarta, Sabtu (3/8). Persija bermain imbang 2-2 atas Arema. (Bola.com/YoppyRenato)

Padahal, seperti halnya Makan Konate, pemain-pemain asal Afrika memiliki kekuatan fisik yang luar biasa dan berimbas positif terhadap permainan dan hasil yang didapatkan oleh tim. Postur tubuh yang kukuh, kuat mempertahankan bola, dan memiliki skill yang bagus juga menjadi kunci sukses mereka.

Sejumlah pemain asing asal Afrika pun sempat tampil memesona bersama Singo Edan. Kali ini, Bola.com mengulas 4 pemain asing asal Afrika yang sempat menjadi pujaan saat memperkuat Arema dan punya kisah sisi lain yang menarik yang diingat oleh Aremania.

 

Video

2 dari 5 halaman

Emalue Serge, Kehilangan Taji Setelah Patah Kaki

Emalue Serge menjadi satu di antara beberapa striker terbaik Arema yang didatangkan dari Kamerun. Arema mendapatkan Emalue Serge pada 2005. Posturnya ideal, tehnik bagus dan punya naluri gol tinggi. Dia sempat jadi top scorer Copa Indonesia 2006 dan ikut mengantar Arema jadi juara.

Sayang, cerita miris terjadi pada awal musim 2007. Dia mengalami cedera patah kaki. Tepatnya di tulang keringnya. Waktu itu Arema melakoni pertandingan melawan Persipura Jayapura. Ketika menguasai bola, Serge dapat tackling dari pemain Persipura yang senegara dengannya, Bio Paullin.

Pemain yang tampil nyentrik dengan rambut blonde ini awalnya tak sadar jika dia mengalami patah tulang. Saat mencoba berdiri, kaki kanan yang dijadikan tumpuan sudah bengkok. Dia pun menangis di lapangan lalu dilarikan ke rumah sakit. Cedera itu membuatnya absen dalam satu musim.

Saat kembali, Serge tak segarang sebelumnya. Musim 2009 dia hanya bertahan setengah musim. Lantaran dia mulai akrab dengan cedera. Selanjutnya dia sempat berkarier di Persija Jakarta dan Persela Lamongan. Tapi performanya sudah menurun.

 

3 dari 5 halaman

Francis Yonga, Playmaker yang Overweight

Gelandang serang asal Kamerun ini hanya satu musim di Arema, yakni pada 2005. Dia direkrut Arema dari Persikota Tangerang. Dia merupakan pemain asing dengan pengalaman lumayan. Yonga pernah merasakan kompetisi kasta kedua di Jerman, bersama Fortuna Dusseldorf yang berlanjut dengan berkarier di China.

Hanya saja saat tiba di Arema, Yonga sempat mengalami masalah dengan berat badan. Yonga terlihat overwight. Pelatih Arema, Benny Dollo memberikan program khusus agar dia cepat kembali ke bentuk badan ideal. Tapi, saat kompetisi Yonga masih bisa tampil bagus dengan badan yang masih sedikit gemuk.

Dia mengakalinya dengan main cerdik. Tidak banyak berlari, tapi cerdik dalam mengatur serangan Arema. Dia pun ikut membawa Arema juara Copa Indonesia pada musim 2005.

Namun, Yonga hanya bertahan satu musim di Arema. Musim selanjutnya dia digantikan gelandang yang lebih bertenaga, Anthony Jomah Ballah. Namun, Yonga termasuk pemain yang cukup berhasil memberikan hiburan bagi Aremania.

Kini Yonga masih aktif di lingkup sepak bola Indonesia setelah gantung sepatu. Hanya saja dia tidak memilih jalur sebagai pelatih, melainkan agen pemain asing. Namun, Arema tidak lagi menggunakan jasanya dalam merekrut pemain asing dalam beberapa tahun terakhir.

 

4 dari 5 halaman

Anthony Jomah Ballah, Perang Dingin dengan Pelatih

Pemain asal Liberia ini sempat menjadi gelandang serang andalan Singo Edan pada musim 2006 hingga paruh musim 2007. Permainannya impresif. Pelatih Benny Dollo yang waktu itu menariknya karena Anthony sempat jadi anak buah Bendol ketika main di Persita Tangerang. Dia ikut menyumbangkan gelar Copa Indonesia musim 2006.

Sayang, akhir ceritanya dengan Arema ditutup dengan perang dingin dengan pelatih selanjutnya, Miroslav Janu, yang menggantikan Bendol pada musim 2007. Karakter bermainnya dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan skema pelatih asal Republik Ceko tersebut.

“Dalam tim ini sekarang ada like dan dislike. Jadi saya harus pergi,” kata Anthony terkait kepemimpinan Janu di Arema.

Merasa dibuang Janu, Anthony justru menyeberang ke klub rival Arema, Persebaya Surabaya. Ini membuat Aremania seakan tak respek lagi dengan Anthony yang sebelumnya sempat jadi pujaan di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang.

 

5 dari 5 halaman

Pierre Njanka, Bentakan Menakutkan Sang Kapten

Ban kapten Arema saat menjadi juara ISL 2010 berada di lengan Pierre Njanka. Itu tak lain karena pengalaman merasakan dua kali tampil di Piala Dunia, yaitu 1998 dan 2002. Ia menjadi andalan Timnas Kamerun saat itu.

Hal tersebut membuat perannya di Arema sangat dominan. Kapten tim yang memberikan ketenangan bagi rekan-rekannya.

Selain disegani, Njanka merupakan kapten yang galak. Ada sebuah momen pertandingan, di mana gelandang Arema, Tomy Pranata, melakukan kesalahan. Njanka langsung membentaknya.

Setelah momen itu, Tomy lebih banyak jadi pemain cadangan. Sejak itu, pemain Arema berusaha tak melakukan kesalahan lagi di lapangan.

Meski demikian, dia termasuk pemain yang sangat disiplin. Sangat jarang Njanka absen latihan atau terlambat. Dia seakan memberi contoh kepada rekan-rekannya untuk tidak hanya memberikan janji lewat ucapan, tapi juga lewat kedisiplinan di lapangan.

Setelah pensiun pada 2012 silam, Njanka pulang ke negaranya dan mencoba memberikan ilmunya kepada pemain muda.