Richard Mainaky Mengenang Momen Memasangkan Tontowi Ahmad dengan Liliyana Natsir

oleh Yus Mei Sawitri diperbarui 18 Mei 2020, 20:59 WIB
Pasangan Indonesia, Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir, saat melawan wakil Cina, Zheng Siwei/Huang Yaqiong, pada laga Indonesia Masters 2019 di Istora, Jakarta, Minggu (27/1). Tontowi/Liliyana kalah 21-19, 19-21, 16-21. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Bola.com, Jakarta - Pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dikenang sebagai satu di antara ganda campuran legendaris yang pernah dimiliki Indonesia. Kehebatan dan keistimewaan mereka dibuktikan dengan rentetan titel bergengsi, termasuk medali emas Olimpiade 2016. 

Gelar prestisius di Olimpiade Rio de Janeiro tersebut datang setelah Tontowi/Liliyana berpasangan selama enam tahun. Sepanjang periode itu mereka mengalami fase naik turun dalam karier maupun hubungan personal. 

Advertisement

Tontowi/Liliyana bagaikan pasangan yang saling melengkapi. Liliyana dikenal sebagai sosok yang ceplas-ceplos dalam mengutarakan pendapat, bahkan kadang disebut galak. Di sisi lain Tontowi lebih tenang dan kalem. 

Dalam urusan skill, Tontowi punya kelebihan untuk bola-bola atas dan servis. Kelebihan itu digenapi dengan keahlian Butet dalam bertahan dan bermain di depan net. 

Menurut pelatih ganda campuran Pelatnas PBSI, Richard Mainaky, faktor-faktor itu menjadi satu di antara alasannya memasangkan Tontowi dan Liliyana pada 2010. 

"Waktu itu Nova Widianto yang berpasangan sama Liliyana memutuskan pensiun dan saya harus cari pemain muda buat dipasangkan sama Butet. Pilihannya waktu itu ada Owi, Muhammad Rijal dan Devin Lahardi. Saya coba ketiganya dipasangkan dengan Butet dan memang hasilnya bagus semua. Tapi feeling saya mengatakan Owi yang paling cocok sama Butet, dan Butet juga paling sreg sama Owi. Saya bersyukur juga PBSI waktu itu percaya dengan keputusan yang saya ambil," kata Richard. 

"Sempat banyak pertanyaan kenapa saya pilih Owi karena memang waktu itu dia tidak begitu meyakinkan, terutama footwork-nya yang kurang. Owi memang berkharisma, tapi lainnya masih nol waktu itu." 

"Saya memasangkan pemain itu melihat dari kebutuhan individu. Saya pilih pemain yang saling membutuhkan. Terkadang memasangkan pemain yang sama-sama jago dan punya skill komplet belum tentu cocok. Kadang malah bisa jadi kompleks, malah ego yang keluar," urai Richard Mainaky, ketika dihubungi Bola.com, Senin (18/5/2020). 

"Kalau Tontowi dan Liliyana itu saling membutuhkan. Yang satu punya kelebihan ini, yang satunya itu. Saling mengisi kekosongan," imbuh Richard. 

 

 

 

2 dari 2 halaman

Tradisi Senior - Junior

Pasangan Indonesia, Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir, bersama wakil Cina, Zheng Siwei/Huang Yaqiong, pada laga Indonesia Masters 2019 di Istora, Jakarta, Minggu (27/1). Tontowi/Liliyana kalah 21-19, 19-21, 16-21. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Richard mengatakan keputusannya memasangkan Tontowi dengan Liliyana tak lepas dari tradisi di ganda campuran Indonesia. Sejak dirinya dipercaya menangani tim ganda campuran, ia kerap memiliki pasangan yang terdiri atas senior-junior. 

"Sejarahnya ganda campuran seperti itu, pasangannya senior-junior. Misalnya Tri Kusharjanto/Minarti Timur, Vita Marissa/Nova Widianto, Nova/Liliyana, kemudian berlanjut ke Tontowi/Liliyana, hingga Praveen Jordan/Debby Santoso," kata Richard. 

"Jadi ketika yang senior pensiun, yang tadinya junior sudah jadi senior. Kemudian ia akan dipasangkan dengan junior lainnya. Begitulah awal terbentuknya pasangan Tontowi/Liliyana," sambung Richard. 

Keputusan Richard Mainaky menduetkan Tontowi/Liliyana sangat tepat. Mereka perlahan menahbiskan diri menjadi satu di antara ganda campuran terbaik dunia, dengan gelar yang bergelimang, mulai dari All England hingga emas Olimpide 2016.   

Liliyana lebih dulu memutuskan gantung raket pada Januari 2019. Sekitar setahun berselang, Tontowi mengikuti jejak Butet dengan mengumumkan pensiun dari bulutangkis, Senin (18/5/2020)