Azrul Ananda Bercerita Awalnya Tidak Tertarik Mengelola Persebaya

oleh Gregah Nurikhsani diperbarui 17 Jun 2020, 13:21 WIB
Presiden Persebaya Surabaya, Azrul Ananda. (Bola.com/Aditya Wany)

Bola.com, Jakarta - Sosok Azrul Ananda merupakan satu di antara sekian faktor yang bisa membuat Persebaya Surabaya bangkit dari banyak sisi. Namun, pengakuan mengejutkan terlontar, bahwa dulu ia sempat tidak ada niatan untuk mengelola tim kebanggaan Bonek itu.

Tahun ini merupakan yang keempat buat Azrul Ananda menjabat sebagai Presiden Persebaya. Sudah banyak perubahan yang ia lakukan, utamanya dari segi finansial.

Advertisement

Pecinta bola basket dan penggagas sekaligus Direktur Utama PT Deteksi Basket Lintas (DBL) Indonesia itu bercerita, pernah dua kali menolak usulan sejumlah pihak agar mau menjadi orang nomer satu di tim berjulukan Green Force tersebut.

Melalui podcast di channel YouTube Green Nord, Azrul bercerita bahwasanya ditemui oleh pemilik lama klub. Namun, ia menegaskan menolak mengelola Persebaya sebanyak dua kali dalam rapat.

"Sampai hari ini saya masih sering ditanya orang, kenapa mau ambil alih Persebaya, satu, sejarah keluarga saya dekat dengan Persebaya, ayah saya dulu Ketua Umum Persebaya, pernah mengorbankan warisan saya untuk Persebaya," kata Azrul.

"Dia (Dahlan Iskan) sangat Bonek, mungkin dia orang paling Bonek di keluarga saya. Tapi, saat proses institusi mengambil alih Persebaya, ayah saya tidak tahu sama sekali, karena banyak ke luar negeri dan lain-lain."

"September 2016, saya ditemui pemilik lama Persebaya. Waktu itu saya langsung tolak, saya tidak tertarik sama sekali, saya sedang asyik dengan kesibukan saya, ada bola basket. Jadi, saya resmi menolak mengelola Persebaya dua kali dalam rapat," ujarnya lagi.

 

Video

2 dari 3 halaman

Takut Persebaya Dikelola oleh Orang yang Punya Tujuan Bukan demi Kebaikan Klub

Presiden Persebaya (depan kiri), Azrul Ananda saat memegang trofi juara Liga 2

Meski mendapat penolakan terus dari Azrul Ananda, pemilik lama Persebaya tak berhenti melakukan diskusi intens dengan perwakilan institusi Azrul.

Melalui pertimbangan matang, Azrul Ananda akhirnya bersedia mengelola Persebaya. Alasannya, ia takut Persebaya jatuh ke tangan orang yang tidak tulus mengembangkan klub kebanggaan warga Surabaya itu.

"Mewakili saya waktu adalah Mas Candra Wahyudi yang sekarang menjadi Direktur tim, beliau terus melakukan diskusi intens dengan Persebaya," kata Azrul melanjutkan ceritanya.

"Saya juga memantau situasi yang terjadi baik di Surabaya maupun PSSI, waktu itu kan menunggu Munas, Kongres dan lain-lain. Saya bicara dengan Mas Candra, muncul kekhawatiran dari saya."

"Kekhawatiran saya adalah kalau Persebaya dikelola oleh orang-orang yang tujuannya bukan murni mengembangkan Persebaya sebagai institusi profesional, Persebaya bisa terancam lagi."

"Warga Surabaya khawatir dengan imej lama. Jadi, dibutuhkan pengelola yang bisa mengubah imej Persebaya, yang profesional, juga harapan Bonek yang mau tim ini jadi lebih baik," ujarnya lagi.

 

3 dari 3 halaman

Komitmen Sang Presiden Persebaya

Presiden Persebaya, Azrul Ananda. (Bola.com/Aditya Wany)

Azrul Ananda lantas tergerak. Ia langsung melakukan analisis dari berbagai sisi, terutama mengenai finansial dan rencana jangka panjang Persebaya, sektor mana yang mesti diperbaiki.

Ia sadar betul bahwa Persebaya memiliki potensi besar untuk menjadi klub yang mapan, baik itu secara institusi maupun prestasi. Namun, komitmen utama yang diusung Azrul yakni soal lokasi.

Seperti diketahui, sempat ada wacana untuk memindahkan homebase Persebaya di luar Surabaya. Oleh karena itu, pemetaan dilakukan beserta tetek bengek legalitas dan sebaginya sehingga Bajul Ijo bisa tetap bermarkas di habitat aslinya, yakni di Surabaya, Jawa Timur.

"Saya buat komitmen, bukan diminta, bahwa Persebaya tidak akan saya jual ke pihak luar. Kalau tidak sanggup, silakan jalankan saja," katanya lagi.

Sumber: YouTube/GreenxNord 27