Cerita Erol Iba, Gagal Bermain di Liga Australia Akibat Masalah Uang Transfer

oleh Abdi Satria diperbarui 26 Jul 2020, 18:20 WIB
Erol Iba (kiri) dan Rocky Putiray beraksi pda ajang Indonesia Allstars melwan Padang Allstars pada pembukaan Irman Gusman Cup 2016 di Stadiom Agus Salim, Padang, Minggu (13/3/2016). (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Bola.com, Jakarta - Pencapaian terbaik Erol Iba di level klub adalah membawa Arema Malang dua kali beruntun meraih trofi juara Copa Indonesia yakni pada 2005 dan 2006.

Ia juga pernah merasakan atmosfer Liga Champions 2007 bersama Persik Kediri. Meski Persik sudah tersingkir pada penyisihan Grup E, penampilan individual Erol mendapat apresiasi. Klub Australia, Sidney FC yang berada satu grup dengan Persik tertarik memakai jasanya.

Advertisement

Pada channel YouTubeMinang Satu, Erol mengungkap ketertarikan Sidney FC kepadanya setelah ia dinilai tampil apik saat Persik menjamu klub Australia itu di Stadion Manahan Solo, 12 April 2007.

Kala itu, Persik menang dengan skor 2-1 lewat gol Aris Budi Prasetyo dan Budi Sudarsono. Sementara gol Sidney dicetak oleh Steve Corica. Tak lama setelah laga itu, pihak Sidney FC mengajukan penawaran ke Persik untuk memakai jasa Erol. Mendengar kabar itu, Erol mengaku sangat antusias.

"Bagi saya ini adalah pengalaman berharga. Selain bisa meningkatkan kemampuan teknik, saya bisa pun belajar bahasa Inggris. Tapi, sebagai pemain profesional saya serahkan keputusan kepada manajemen Persik," kenang Erol dalam channel YouTube Minang Satu.

Seperti diketahui, Erol akhirnya gagal berkostum Sidney. Itu karena manajemen Persik meminta uang transfer sedang Sidney ngotot memakai skema pinjaman.

"Andai saat itu punya uang banyak, saya siap menalangi nominal transfer yang diminta Persik. Tapi, akhirnya saya kembalikan lagi ke Allah SWT, berarti bukan rejeki saya."

Selepas dari Persik, Erol Iba berturut-turut memperkuat Pelita Jaya musim 2008-2009, Persipura Jayapura (2009-2010), Persebaya Surabaya (2010-2012), Gresik United (2012-2013), Sriwijaya FC (2013-2014) dan Persepam Madura Utama (2014-2015)

Video

2 dari 3 halaman

Jadi Pelatih SSB di Papua

Elie Aiboy (kiri) melewati Erol Iba pada laga Padang Allstars melawan Indonesia Allstars di pembukaan Turnamen Irman Gusman Cup 2016 U-17 dan U-19 di Stadion Agus Salim, Padang, Minggu (13/3/2016). (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Setelah gantung sepatu, Erol Iba meneruskan kariernya sebagai pelatih. Ia kini melatih sekolah sepak bola sebuah perusahan Migas di Papua.

"Mereka menawarkan ke saya untuk menjadi pelatih sekaligus menjadi karyawan. Alhamdulillah ada kegiatan setelah pensiun sebagai pemain," ungkap Erol.

Bergelut di pembinaan usia dini membuat Erol mengaku banyak belajar. Terutama bagaimana melahirkan pemain dan mencetak prestasi secara berjenjang.

"Minimnya prestasi timnas Indonesia di level senior karena pondasinya tak kuat di pembinaan usia muda. Padahal ini sangat penting dan tidak ada yang instan dalam sepak bola," tegas Erol.

3 dari 3 halaman

Komentar Tentang Timnas Indonesia

Erol Iba (kiri) dan Ellie Aiboy (kanan) berpose bersama. (Bola.com/Gatot Susetyo)

Erol pun mengomentari fenomena Timnas Indonesia usia muda yang berprestasi tapi di level senior menghilang. Ia menunjuk masih maraknya pencurian umur yang dilakukan pembina, orangtua atau pelatih yang diawali dari sekolah sepak bola.

"Rata-rata mereka mengubah usia pemain 2-3 tahun. Jadi ketika sang pemain masuk dilevel senior biasanya hilang," jelas Erol.

Itulah mengapa dibutuhkan kejujuran dan ketulusan dalam membina pemain.

"Indonesia sulit berprestasi kalau masih banyak kepentingan diluar sepak bola. Padahal sepak bola itu sebenarnya sudah menjadi sumber kehidupan. Kalau pun, tidak mendapat kesempatan bermain di liga, lewat sepak bola, sang pemain bisa mendapat pekerjaan sebagai karyawan kantor. Yang penting tekun dan kerja keras," pungkas Erol.

Berita Terkait