Plus dan Minus 4 Kiper Timnas Indonesia Pilihan Shin Tae-yong

oleh Abdi Satria diperbarui 27 Jul 2020, 14:15 WIB
Timnas Indonesia - Kiper-kiper di Timnas Indonesia (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Makassar - Pelatih kepala Timnas Indonesia, Shin Tae-yong, telah memanggil empat kiper untuk menjalani pemusatan latihan Timnas Indonesia di Jakarta. Keempatnya adalah Nadeo Argawinata (Bali United), Muhammad Riyandi (Barito Putera), Miswar Saputra (PSM Makassar), dan Rivky Mokodompit (Persebaya Surabaya).

Keempatnya menyingkirkan sejumlah nama populer seperti Teja Paku Alam (Persib Bandung), Andritany Ardhiyasa (Persija Jakarta), Muhammad Ridho (Madura United), dan Wawan Hendrawan (Bali United).

Advertisement

Bagi Herman Kadiaman, eks pelatih kiper PSM Makassar, pemanggilan keempat kiper itu sudah tepat sesuai penampilan terakhir mereka di Liga 1 2020.

"Shin Tae-yong tentu sudah punya kriteria sendiri untuk menjadi acuan memilih pemain. Khusus kiper yang dipanggil, saya pikir sudah sesuai dengan kebutuhan tim menghadapi lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2022 dan Piala AFF 2020," ujar Herman kepada Bola.com, Senin (27/7/2020).

Menurut Herman yang pernah mengorbitkan Kurnia Meiga sebagai kiper nomor satu Timnas Indonesia, keempat kiper yang dipanggil masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

"Secara teknik dasar dan refleks, mereka yang terbaik saat ini. Hanya, di era sepak bola modern, seorang kiper juga harus jadi bagian dari permainan tim atau menjadi pembangun serangan dari bawah," papar Herman.

Dari empat nama kiper diatas, dua di antaranya pernah ditangani langsung oleh Herman, yakni Nadeo dan Rivky. Nama terakhir malah pernah sangat lekat dengan PSM pada tiga edisi terakhir Liga 1, di mana Herman bertindak sebagai pelatih kiper. "Nadeo pernah bersama saya di Borneo FC. Kalau Miswar dan Riyandi, saya melihatnya saat membela klub masing-masing."

Terkait siapa di antara mereka yang pantas jadi kiper utama, Herman memilih Rivky. Eks pelatih kiper Arema Indonesia, Persiram Raja Ampat dan Persela Lamongan ini menjelaskan Rivky memiliki kelebihan pada postur dan refleksnya dalam menghalau bola serangan lawan.

Rivky juga bisa memanfaatkan kedua kakinya untuk membangun serangan. "Rivky sangat menguasai daerah kotak kecil. Kelemahan Rivky adalah ia kerap kehilangan fokus dan konsentrasi," terang Herman.

Setelah Rivky, Herman menunjuk Miswar sebagai pelapis yang pas. Berdasarkan pengamatannya, Miswar cukup piawai dalam memotong umpan yang mengarah ke gawangnya, termasuk umpan silang dari kedua sisi sayap.

Hanya, Miswar juga memiliki kelemahan mendasar, yakni tangkapannya kadang kurang lengket. "Ia juga kerap terlihat 'sibuk' di bawah mistar yang membuatnya tak fokus hingga kebobolan oleh gol yang sebenarnya bisa diantisipasi," ujar Herman mengenai kiper Timnas Indonesia yang kini bermain di PSM Makassar itu.

Video

2 dari 2 halaman

Nadeo dan Riyandi

Kiper Timnas Indonesia, Muhammad Riyandi, saat sesi latihan di Stadion Madya, Jakarta, Selasa, (18/2/2020). Untuk meningkatkan performa kiper, Shin Tae-yong menambah porsi waktu latihan. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Khusus buat Nadeo, Herman menilai eks kiper Timnas Indonesia U-23 ini memiliki prospek yang bagus. Selain refleks yang bagus, posturnya terbilang ideal. Hanya, Herman menilai, kedua kaki kiper Bali United itu belum optimal untuk membangun serangan.

"Karier Nadeo masih panjang. Saya yakin, kalau mau belajar dan memperbaiki kekurangannya, Nadeo bisa menjadi kiper nomor satu Indonesia untuk waktu yang lama. Tapi, untuk saat ini, saya menilai, Rivki dan Miswar masih lebih baik," papar Herman.

Penilaian serupa ditujukan Herman kepada Riyandi yang menjadi kiper termuda dari empat nama yang dipanggil. "Riyandi sangat berpotensi sebagai kiper masa depan Timnas Indonesia. Dia masih muda, posturnya pun ideal sesuai kriteria Shin Tae-yong," terang Herman.

Berdasarkan pengalamannya sebagai pemain dan pelatih, Herman menjelaskan masa emas bagi seorang kiper berkisar pada usia 25-35 tahun. Dengan catatan, mereka konsisten menjaga kondisi dengan latihan teratur, istirahat cukup dan pola makan.

"Setelah usia 35, sudah sulit buat seorang kiper meningkatkan kemampuannya. Paling mereka tinggal menjaga meski secara alamiah daya refleksnya mulai menurun," pungkas Herman.