Legenda Arema Mengenang Jimat di Kakinya yang Bikin Tendangan Jadi Geledek

oleh Iwan Setiawan diperbarui 30 Jul 2020, 16:00 WIB
Singgih Pitono, legenda Arema yang punya jimat khusus di kedua kakinya. (Bola.com/Iwan Setiawan0

Bola.com, Malang - Di tengah wabah virus corona, Shopee Liga 1 terhenti. Namun, sejumlah pelaku sepak bola kini mulai aktif bermain dalam laga ekshibisi untuk mengisi waktu luang. Bukan hanya pemain, tapi juga mantan pemain yang kini sudah melatih. Asisten pelatih Arema, Singgih Pitono, satu di antaranya.

Pria asal Tulungagung ini aktif bermain dengan para legenda Arema.

Advertisement

“Diajak teman-teman termasuk Kuncoro main dengan Arema legend. Karena ada undangan main di beberapa tempat,” kata Singgih.

Ketika bermain lagi, pria 53 tahun ini kembali teringat ketika aktif jadi pemain Arema. Dia dikenal sebagai striker tajam di eranya. Dua kali gelar pencetak gol terbanyak berhasil diraihnya musim 1992 dan 1993. Tendangan keras terarah jadi senjata ampun untuk merobek gawang lawan.

Di balik kegarangannya itu, rekan-rekannya di Arema sempat menyebut jika Singgih punya jimat di kedua kakinya, sehingga tendangan bisa sangat tajam saat meluncur ke gawang lawan.

Jimat itu adalah perban elastis yang membalut kedua engkelnya. Waktu itu pembalutnya merk tensocrepe dengan warna cokelat. Berbeda dengan sekarang yang sudah berwarna-warni.

“Saya masih ingat waktu itu selalu pakai tensocrepe. Sejak masih muda pakai itu. Rasanya lebih percaya diri kalau pakai. Pernah lupa tidak pakai waktu main di Arema. Rasanya beda main. Seperti ada yang kurang,” kenangnya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Jimat pun Luntur Setelah Menua

Singgih Pitono merangkap jabatan di tim senior dan tim U-19 Arema. (Bola.com/Iwan Setiawan)

Rekannya semasa bermain yang kini juga jadi staf pelatih Arema, Kuncoro sempat bercerita, jika Singgih tidak memakai pembalut di kedua engkelnya, tendangannya tak lagi berbahaya. Pelan dan kurang terarah.

“Kalau main dengan engkel dibalut saya merasa lebih nyaman dan kaki ini rapat sekali. Jadi nendang bisa pas. Karena kebiasaan juga, jadinya kalau lupa pakai ya kurang bagus mainnya,” sambung Singgih.

Hingga masa akhirnya sebagai pemain tahun 2000-an, Singgih masih tetap setia dengan kebiasaannya itu. Namun, usia tak bisa dibohongi.

Ketika sudah memasuki 35 tahun, tendangannya tak setajam dulu lagi. Dia pun gantung sepatu dan memulai karirnya sebagai pelatih Perseta Tulungagung hingga kini jadi asisten pelatih Arema.

Berita Terkait