Anak 90-an Wajib Kumpul, Ini Deretan 10 Playmaker Terbaik, dari Zinedine Zidane hingga Paul Gascoigne

oleh Gregah Nurikhsani diperbarui 16 Sep 2020, 20:15 WIB
Ilustrasi - Zinedine Zidane, Dennis Bergkamp, Robert Prosinecki, Rui Costa, Michael Laudrup (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Era 90-an dikenal dengan periode yang melahirkan banyak playmaker kelas dunia. Zinedine Zidane, Paul Gascoigne, dan Manuel Rui Costa merupakan beberapa di antaranya.

Anggapan lain menyebutkan bahwa striker memenangi pertandingan dan pemain bertahan memenangi gelar. Lalu bagaimana dengan playmaker?

Advertisement

Playmaker merupakan jantung dan ruh sebuah tim. Mereka bertugas mengkreasi serangan dan mengatur tempo permainan dalam sebuah pertandingan.

Memasuki era sepak bola modern, kita dikenalkan pada beberapa tipe playmaker. Andrea Pirlo misalnya, dianggap sebagai deep-lying playmaker terbaik di zamannya.

Marco Veratti, Thiago Alcantara, dan Mateo Kovacic juga contoh vitalnya peran deep-lying playmaker. Bahkan belakangan ini muncul beberapa istilah lain yang memiliki peran hampir mirip, sebut saja raumdauter.

Playmaker juga dianggap sebagai 'orang kedua'. Artinya, dia adalah pemain kedua yang menerima bola seketika bek atau kiper menghadang serangan lawan dan melancarkan serangan balik cepat.

Bisa dibilang, playmaker merupakan pemain yang paling sering mengolah bola karena poros serangan terpusat atau dimulai dari hasil 'gorengannya'. Di Timnas Indonesia, kita mengenal sosok Evan Dimas dan Firman Utina yang piawai membaca permainan.

Kali ini, Bola.com mencoba menggoyang memori pembaca setia dengan mengulas 10 playmaker terbaik era 90-an. Berikut ini ulasannya:

 

Video

2 dari 11 halaman

Dejan Savicevic

Dejan Savicevic merayakan golnya ke gawang Paris Saint-Germain pada semifinal Liga Champions. (PATRICK HERTZOG / AFP)

Nama Dejan Savicevic mungkin agak asing di telinga, tapi tidak buat penggemar berat AC Milan. Ketika aktif bermain, dia adalah satu di antara playmaker terbaik dunia.

Mantan pemain Timnas Yugoslavia terkenal ketika masih membela tim asal Serbia, Red Star Belgrade. Ia sukses membawa timnya meraih Liga Champions (dulu masih bernama Piala Champions) pada 1991.

Penampilan impresifnya membuat Savicevic diboyong ke AC Milan pada 1992 dan bertahan hingga usia 32 tahun. Di sana, ia memenangi trofi Serie A dan Liga Champions 1994.

Memiliki keistimewaan pada kaki kirinya, Dajan Savicevic tidak canggung ketika harus menggunakan kaki kanannya untuk memberikan umpan atau melepaskan tendangan. Kini dia menjabat sebagai Ketua Umum PSSI-nya Montenegro.

3 dari 11 halaman

Abedi Pele

George Weah, Didier Drogba, dan Samuel Eto'o boleh dianggap sebagai penyerang Afrika terbaik sepanjang masa. Tapi satu tempat spesial menjadi milik Abedi Pele.

Abedi Pele terpilih sebagai Man of the Match pada final Liga Champions 1993 bersama Marseille. Saat itu, klub asal Prancis tersebut dihuni oleh banyak nama besar, sebut saja udi Voller, Alen Boksic, Chris Waddle, Jean-Pierre Papin, dan Eric Cantona.

Akan tetapi, mantan kapten Timnas Ghana itu memiliki garis kariernya sendiri, di mana ia menjadi pemain terbaik Afrika tiga kali beruntun sejak 1990, jauh sebelum muncul nama-nama beken seperti Sadio Mane atau Pierre-Emerick Aubameyang.

4 dari 11 halaman

Robert Prosinecki

Robert Prosinecki (dok. culmena.hr)

Dulu, seorang pelatih Dinamo Zagreb bernama Miroslav Blazevic pernah berkata, "Kalau pemain ini benar-benar jadi pemain profesional, saya akan makan sertifikat kepelatihan saya."

Ungkapan Blazevic bukan berarti ia meragukan kualitas Robert Prosinecki, justru sebaliknya. Ya, Robert Prosinecki dikenal sebagai seorang playboy dan doyan merokok, tapi pesulap di lapangan tengah.

Tidak heran Robert Prosinecki gonta-ganti klub karena sulit diatur. Namun jangan tanya soal prestasinya. Ia memenangi tiga gelar juara Liga Kroasia, satu trofi Liga Champions, dan terpilih sebagai pemain pemain muda terbaik pada Piala Dunia 1990.

Setahun berikutnya, ia berada di posisi keempat sebagai pemain terbaik dunia. Robert Prosinecki lalu pindah ke Real Madrid selama tiga musim, kemudian ke Barcelona selama satu musim saja.

Beroperasi di lini tengah, ia menjadi idola publik Santiago Bernabeu dengan nomor punggung 10, jauh sebelum Zinedine Zidane atau Luis Figo bergabung ke El Real.

 

5 dari 11 halaman

Dennis Bergkamp

2. Dennis Bergkamp - Pria asal Belanda ini adalah seorang maestro sepak bola sekaligus legenda bagi tim London Utara, Arsenal. Total 11 musim Bergkamp habiskan masa di Arsenal dengan catatan 87 gol dari 315 penampilan. (AFP/Jim Watson)

Dennis Bergkamp terkenal sebagai pemain bersinar di bawah asuhan Arsene Wenger. Ia menjadi playmaker yang pas untuk rekan-rekannya di Arsenal.

"Semuanya harus sempurna, bahkan dalam pelatihan. Semuanya seratus persin. Dia pria yang sangat lucu tetapi ketika dia bekerja tidak ada lelucon," kenang Thierry Henry.

Ia juga merupakan tokoh kunci Arsenal meraih juara Premier League dengan predikat The Invincible.

 

6 dari 11 halaman

Manuel Rui Costa

6. Rui Costa. (AFP/Francisco Leong)

Berambut panjang, mampu mencetak gol-gol indah, dan punya kemampuan di atas rata-rata. Semua kategori tersebut melekat pada diri legenda sepak bola Portugal, Manuel Rui Costa.

Penampilan apiknya bersama AC Milan mungkin baru datang setelah era 1990-an. Namun, kehebatannya saat berbaju Fiorentina sudah cukup membuatnya menjadi satu di antara playmaker hebat di era 1990-an.

 

7 dari 11 halaman

Paul Gascoigne

Paul Gascoigne dan Gennaro Gattuso. (Dok. Twitter/Rangers FC)

Paul Gascoigne merupakan playmaker kreatif dari tanah Inggris. Ia bersinar pada Piala Dunia 1990.

Ia kemudian melanglang buana ke luar Inggris sejak 1992. Dimulai dari Lazio dan lalu ke Rangers. Namun, kariernya hancur mendekati 1990-an akhir. Hidupnya sering terlibat masalah karena karakternya yang temperamental.

 

8 dari 11 halaman

Gheorghe Hagi

7. Gheorghe Hagi, gelandang ini diboyong Cruyff ke Barcelona pada musim 94/95 dari Brescia. Legenda Rumania itu hanya dua musim bersama Barca, karena ia pindah ke Galatasaray saat Cruyff meninggalkan kursinya di Barca. (Bola.com/www.pinterest.com)

Gheorghe Hagi mendapat julukan Maradona of the Carpathians. Pria perpaspor Rumania itu hampir membawa negaranya lolos ke semifinal Piala Dunia 1994.

"Hagi bisa menjadi pemain terbaik di dunia setelah Maradona," kata pelatih rumania, Mircea Lucescu, sebelum turnamen itu.

Dalam karier klubnya, Hagi pernah memperkuat dua tim besar Spanyol yakni Real Madrid dan Barcelona.

 

9 dari 11 halaman

Roberto Baggio

3. Roberto Baggio - Striker legendaris yang identik dengan rambut kuncir kudanya ini menjalani masa paling bersinar saat berseragam Juventus. Bersama Nyonya Tua ia mampu menyabet penghargaan sebagai pemain terbaik FIFA tahun 1993. (Gerard Julien)

Roberto Baggio merupakan playmaker andal asal Italia. Ia mampu mencetak 220 gol di Serie A sebelum kariernya hancur karena cedera.

Ia juga merupakan eksekutor penalti yang ulung. Namun, satu kegagalan dalam mengeksekusi penalti pada Piala Dunia 1994 mengubah segalanya.

Permainan yang menawan selama perhelatan tersebut rontok dan semua orang hanya mengingat penalti buruknya. Namun, terlepas dari itu, ia tetap merupakan satu di antara playmaker terbaik era 90-an.

 

10 dari 11 halaman

Michael Laudrup

Michael Laudrup saat berkostum Barcelona (fcbarcelona)

Michael Laudrup merupakan pemain terbaik Denmark di masanya. Ia memiliki periode bermain pada 1989-1996.

Awal 1990-an ia mendapatkan 58 caps untuk negaranya dan mencetak 23 gol. Sementara di level klub, ia berhasil memenangkan gelar Serie A bersama Juventus dan dua kali dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Denmark.

Setelah itu, ia juga ikut terlibat dalam empat gelar La Liga berturut-turut bagi Real Madrid. Pada 1999 ia mendapat penghargaan pemain asing terbaik sepak bola Spanyol dalam 25 tahun terakhir.

 

11 dari 11 halaman

Zinedine Zidane

Real Madrid - Zinedine Zidane (Bola.com/Adreanus Titus)

Nama Zinedine Zidane muncul sebagai satu di antara playmaker hebat menjelang akhir 1990-an. Ia sukses meraih gelar Piala Dunia 1998, Piala Eropa 2000 bersama Timnas Prancis, dan beberapa trofi bergensi bersama Real Madrid.

Ia juga dinobatkan sebagai Man of the Match di final Piala Eropa 2020, Pemain Terbaik Dunia FIFA, dan Ballon d'Or. Rekan setim Zidane di Juventus, Edgar Davids, pernah menyebutnya sebagai pemain spesial.

"Dia menciptakan ruang ketika rasanya tidak ada. Tak masalah bagaimana dia mendapatkan bola, maka dia bisa keluar dari masalah," kata Davids tentang Zidane.

Sumber: Planet Football