Klarifikasi Sudarmaji soal Tudingan Arema Mendukung Liga 1 Tanpa Degradasi

oleh Iwan Setiawan diperbarui 08 Mei 2021, 09:30 WIB
Wawancara Eksklusif - Sudarmaji (Bola.com/Adreanus Titus/Foto: Iwan Setiawan)

Bola.com, Malang - Pro dan kontra terkait format kompetisi Liga 1 2021 masih terjadi. Manajemen Arema FC jadi perbincangan di media sosial. Mereka dikabarkan mendukung kompetisi digelar tanpa degradasi.

Alasannya, saat ini masih dalam masa pandemi virus corona sehingga klub butuh adaptasi terutama dalam hal investasi di tim (perekrutan pemain dll). Mereka harus mengatur keuangan yang belum normal untuk membentuk tim.

Advertisement

Tapi, kabar itu luruskan Media Officer Arema, Sudarmaji. Nama Sudarmaji tercantum dalam komentar di berbagai akun fanspage sepak bola di Instagram.

Dia kaget dengan pemberitaan itu. Sudarmaji merasa tidak pernah diwawancarai media terkait kabar itu. Padahal sikap manajemen Arema memilih menunggu keputusan dari PSSI dan PT Liga Indonesia Baru kedepan seperti apa.

Ibarat nasi sudah jadi bubur. Meski sudah memberikan klarifikasi, Sudarmaji dan Arema sempat jadi sasaran kritik netizen. Karena kompetisi tanpa degradasi dianggap banyak sisi negatifnya. Seperti rawan pengaturan skor, persaingan minim, kurang greget dan sebagainya.

Selain itu, akun instagram pribadi Sudarmaji dan Arema FC juga tak luput dari kritikan. Seperti apa yang kini dirasakan media officer Arema? Berikut wawancaranya.

Media Officer Arema, Sudarmaji saat memberikan keterangan perkembangan pengaturan ulang kontrak pemain. (Iwan Setiawan/Bola.com)

Arema FC dan anda banyak dapat kritikan di media sosial. Sebuah media online menulis apa yang tidak anda sampaikan terkait aturan degradasi Liga 1 2021. Bagaimana tanggapannya? 

Sepak bola itu sarat dinamika dan memang butuh penjelasan ataupun klarifikasi. Kepada media yang bersangkutan kami juga menyampaikan terima kasih atas respons klarifikasi.

Ini penting. Ada prioritas yang diperjuangkan Arema, yakni terkait kelangsungan kompetisi dalam kondisi pandemi. Kami juga sadar bahwa dunia medsos kita akan variatif memahaminya. Ini menjadi sebuah konsekuensi ketika era digital tidak mampu memberi batasan semua orang dalam berpendapat. 

Apa imbas pribadi yang anda dapatkan setelah berita yang salah itu ramai dibicarakan di media sosial? 

Bisa dilihat di Instagram saya seperti apa. Banyak komentar (ratusan) di sana. Tapi saya tanggapi satu per satu. Harus bijaksana meresponnya.

Apa tindakan anda selanjutnya selain memberikan klarifikasi terhadap pemberitaan tersebut? 

Saya sudah memberikan klarifikasi. Sudah komunikasi dengan media tersebut. Sekarang, hanya soal di media sosial, sekali lagi harus bijaksana menghadapinya.

Arema adalah sepak bola kultural dengan harapan fans yang tinggi akan prestasi. Karena itu, harus menjadi perhatian semuanya. Bagi pengelola klub untuk hati-hati dan bijak merespons.

Video

2 dari 3 halaman

Sikap Arema Sebenarnya

Media officer Arema, Sudarmaji (kiri), dan GM Arema, Ruddy Widodo. (Bola.com/Iwan Setiawan)

Lalu seperti apa suara Arema sesungguhnya akan sistem kompetisi nanti? Tanpa atau dengan degradasi? 

Arema tidak ingin berspekulasi soal format kompetisi. Jadi kami menunggu seperti apa keputusan nantinya.

Sekarang Exco PSSI sudah mengambil keputusan (kompetisi tanpa degradasi). Nantinya tinggal menunggu kepastiannya dalam kongres. Kami ingin luruskan jika degradasi atau tidak itu urusannya PSSI. 

Dari segi manajemen, ada pengaruh dengan persiapan tim jika nanti kompetisi digelar dengan degradasi atau tidak? Mungkin jika tidak ada degradasi, investasi Arema dalam membentuk tim akan dikurangi. 

Secara tim persiapan tetap on the track. Semua pemain lokal Alhamdulillah sudah terikat kontrak. Fase selanjutnya mensinergikan program kerja pelatih dengan schedule kompetisi.

Jika tidak ada kendala kompetisi ini diputar 3 Juli. Termasuk kebutuhan pemain asing. Tentu akan dibicarakan intensif dengan pelatih baru. Nama-nama pemain yang sudah bergabung juga telah didiskusikan dengan pelatih baru. 

3 dari 3 halaman

Kinerja Manajemen

Tapi dalam persiapannya, Arema seperti mengubah kebijakan di bursa transfer. Biasanya tertutup, kini mulai terang-terangan terkait pemain bidikan. Padahal pelatih maupun pemain baru dapat offer letter. Belum resmi dikontrak. Apa ingin memberi bukti jika manajemen tengah bekerja atau bagaimana?

Prinsip sluman, slumun, slamet tetap diemban dalam perburuan pelatih dan pemain. Sebenarnya substansi offer letter itu kan kerahasiaan. Karena sifatnya masih penawaran.

Namun, karena intensitas publik dan media gencar ingin mengetahuinya, mungkin yang dilakukan pimpinan adalah memberikan clue sebagai hak jawab kepada media.

Dari sinilah publik medsos juga media penasaran. Awalnya spekulasi namun lambat laun ditemukan mendekati kebenaran. Kami memahaminya dan menghargai kerja jurnalistik, namun memang kami berharap dikemudian hal-hal ini untuk kita minimakan. Sebab masih terkait negoisasi yang juga dipengaruhi kondisi respons di lapangan.

Tidak benar kalau ada anggapan manajemen tidak bekerja. Hampir 25 pemain lokal sudah terikat kontrak dan berlatih. Mereka juga punya kualitas bahkan bebrapa pemain langganan Timnas Indonesia.

Kritikan di medsos itu sebagai dinamika kerinduan dan kecintaan kepada tim apapun bahasa yang mereka sampaikan. Semoga menjadi cambuk semangat untuk pengelola Arema.

 

Berita Terkait