Aksi Berkelas Ronaldo yang Tidak Terlupakan, Paris Menjadi Saksi Kehebatannya

oleh Suharno diperbarui 11 Mei 2023, 21:15 WIB
Selebrasi striker Inter Milan, Ronaldo Nazario setelah mengalahkan Lazio pada laga final Piala UEFA 1997/1998 di Parc des Princes Stadium, Paris (6/5/1998). Didatangkan dari Barcelona pada awal musim 1997/1998, Ronaldo Nazario langsung menggila di musim debutnya bersama Inter Milan dengan mencetak 34 gol di semua ajang dengan rincian 25 gol di Serie A, 3 gol di Coppa Italia dan 6 gol di Piala UEFA. (AFP/Jack Guez)

Bola.com, Jakarta - Penggemar Inter Milan mungkin pernah mengetahui kualitas maksimal Ronaldo Luis Nazario de Lima. Serangkaian cedera lutut yang mengancam karier tidak hanya membatasi pengaruhnya di San Siro, tetapi juga memaksa pemain Brasil itu untuk menyesuaikan permainannya.

Namun, untuk satu musim debut yang brilian,  pemain berjulukan Il Fenomeno tersebut memukau Serie A dengan perpaduan kecepatan, kekuatan, dan keterampilan yang luar biasa. Puncak dari musim itu tentu saja laga final Piala UEFA 1998 melawan Lazio.

Advertisement

Inter Milan melakukan perjalanan ke Parc de Princes di Paris pada awal Mei untuk merenungkan hal yang tidak terpikirkan jelang final Piala UEFA 1998. Setahun sebelumnya, Inter memecahkan rekor dunia saat merekrut Ronaldo dari Barcelona dengan harga 19,5 juta pounds.

Namun, rekrutan besar tersebut tidak serta merta membuat Inter Milan berkuasa di Italia. Nerazzurri tersingkir dari Coppa Italia menyusul kekalahan telak 0-5 dari rival beratnya AC Milan.

Perjuangan Inter Milan pada perebutan gelar scudetto Serie A juga tersendat di babak terakhir setelah kekalahan 0-1 dari Juventus dan hasil imbang kandang dengan klub kecil, Piacenza. Lalu bagaimana Ronaldo yang berstatus sebagai pemain termahal dunia mengubah itu?

 

2 dari 5 halaman

Harapan Besar

Logo Inter Milan - Saat ke Indonesia (Bola.com/Adreanus Titus)

Setelah gagal di Coppa Italia dan Serie A, Inter Milan hanya menyisakan perburuan gelar Piala UEFA di musim 1997/1998. Jika kalah di final Piala UEFA manajer Luigi Simoni menghadapi kenyataan musim tanpa trofi bagi timnya.

Prospek Nerazzurri melaju ke final juga tidak bagus. Pada musim sebelumnya, Inter kalah di final Piala UEFA melalui babak adu penalti dari klub Jerman, Schalke.

Sementara lawannya di final Piala UEFA 1997/1998 adalah sesama tim Italia yang dibesut manajer andal, Sven Goran Eriksson. Saat itu, Lazio berisi pemain yang tengah bersinar seperti Alessandro Nesta, Pavel Nedved, dan Roberto Mancini.

Lazio juga baru saja menjuarai Coppa Italia dan memiliki rekor bagus di Serie A dengan melumat Inter 3-0 di Olimpico.

 

3 dari 5 halaman

Penebusan Ronaldo

Ronaldo Luis Nazario da Lima memperkuat Inter Milan pada tahun 1997-2002 dan mempersembahkan gelar Piala UEFA pada tahun 1998. (AFP/Patrick Kovarik)

Inter Milan sangat berharap banyak kepada Ronaldo di final Piala UEFA karena pemain asal Brasil ini mampu mencetak 25 gol di Serie A dan 34 gol di semua kompetisi bagi Nerazzurri.

Sayangnya Ronaldo gagal membawa Inter juara Serie A setelah kekalahan kontroversial melawan Juventus yang membuat beberapa politikus ikut berkomentar.

Ronaldo berusaha menebus kesalahannya itu di final Piala UEFA. Dia berada di lini depan dalam formasi 4-3-3 yang disukai Simoni, bersama Zamorano serta Youri Djorkaeff yang bertugas sebagai trequartista tepat di belakang dua pemain depan.

Itu berarti pemain Brasil itu akan berhadapan dengan Alessandro Nesta muda, yang saat itu berada di puncak permainannya bersama Lazio. Nesta adalah harapan sekaligus ketenangan bagi Lazio karena kelugasannya sebagai seorang bek.

 

4 dari 5 halaman

Ronaldo Vs Nesta

6. Alessandro Nesta - Sebagai bek tengah di lini pertahanan Lazio pada tahun 1993-2002, Nesta menjadi tembok kokoh yang sulit ditembus setiap lawan skuat Biancocelesti. (AFP/ Gabriel Bouys)

Benar saja pertarungan Inter Milan melawan Lazio serupa duel sengit antara Ronaldo kontra Nesta yang dimulai sejak menit pertama. Wasit memutuskan memberikan pelanggaran kepada Inter Milan saat Nesta menarik kaus Ronaldo.

Beberapa menit kemudian, pertarungan antara kedua pemain kembali terjadi dan Ronaldo yang jadi pemenangnya. Ia mampu melewati bahkan membuat Nesta terjatuh.

Eriksson sepertinya memang memberi tugas kepada Nesta untuk selalu mengikuti Ronaldo pergi.

Namun, taktik itu ternyata menjadi bumerang bagi Lazio lantaran terlalu fokus kepada Ronaldo. Padahal Inter Milan tidak hanya Ronaldo seorang, karena mereka masih memiliki sejumlah pemain berbahaya seperti Zamorano, Djorkaeff hingga Diego Simeone.

 

5 dari 5 halaman

Kecerdikan Ronaldo

1. Ronaldo - Inter Milan mendatangkan bomber asal Brasil ini dari Barcelona pada tahun 1997. Peraih gelar FIFA World Player of the Year tahun 1996, 1997 dan 2002 itu mencetak 49 gol dalam 68 laga. (AFP/Electronic Image)

Fokus Lazio yang hanya tertuju kepada Ronaldo terbukti menjadi malapetaka bagi mereka. Pemain Inter yang lain mampu mencetak gol seperti Ivan Zamorano di menit kelima dan Javier Zanetti menit ke-60.

Berusaha mengejar ketertinggalannya, Lazio terus menekan untuk mencetak gol dan malapetaka justru menimpa mereka. Pada menit ke-70, Ronaldo yang lolos jebakan offside menerima umpan brilian dari pemain pengganti Francesco Moriero.

Ronaldo berhadapan satu lawan satu dengan penjaga gawang Lazio Marchegiani dan itu adalah posisi favorit sang striker untuk mengelabuhi kiper sebelum mencetak gol. Inter Milan akhirnya juara Piala UEFA.

Ronaldo akhirnya mempersembahkan gelar bagi La Beneamata.

"Kami bermain sangat baik dan pantas meraih kemenangan. Kami tidak membuat kesalahan dari menit pertama hingga terakhir. Saya senang karena ini adalah trofi pertama saya bersama Inter," ujarnya.

"Sangat menyenangkan bisa menang di Paris. Saya akan kembali ke sini bersama Timnas Brasil dan memberikan segalanya untuk menjuarai Piala Dunia juga," imbuh Ronaldo. 

Sayangnya, Ronaldo tidak mempersembahkan Scudetto untuk Inter selama kariernya di Giuseppe Meazza dan trofi Piala UEFA jadi satu-satunya bagi sang pemain di klub.

Paris juga akan memiliki arti yang berbeda bagi Ronaldo. Setelah laga terbesarnya untuk Inter, Paris menjadi tempat terburuknya kala memperkuat Brasil di final Piala Dunia 1998.

Sumber: Planet Football

Berita Terkait