Bola.com, Jakarta - Cole Palmer kembali menorehkan sejarah di Chelsea, lalu langsung mengirimkan peringatan keras kepada para rival Premier League.
Di usia 23 tahun, Palmer kini menjadi pemain pertama dalam sejarah Chelsea yang mencatat empat hattrick di Premier League, sebuah pencapaian yang bahkan gagal diraih legenda-legenda klub seperti Didier Drogba, Frank Lampard, maupun Eden Hazard selama karier mereka di Stamford Bridge.
Alih-alih larut dalam euforia, Palmer justru menegaskan bahwa level terbaiknya belum sepenuhnya keluar.
Korban terbaru keganasan Palmer adalah Wolverhampton Wanderers. Pada laga Sabtu malam WIB itu, dua kesalahan fatal pemain Wolves menghadiahkan Chelsea dua penalti yang dieksekusi sempurna oleh sang playmaker.
Palmer lalu menutup ledakan 25 menitnya dengan gol ketiga, sontekan keras ke sudut atas gawang usai menyambut pergerakan Marc Cucurella dari sisi kiri.
Seharusnya itu menjadi mlam yang dirayakan sepenuhnya. Tetapi, di hadapan media seusai laga, Palmer memilih jalur berbeda: menyindir para pengkritiknya sekaligus mengingatkan bahwa ia masih bisa melangkah lebih jauh.
Palmer Menjawab
Ekspresi wajah Palmer tampak datar, hampir tak selaras dengan performa eksplosifnya di lapangan saat ia angkat bicara.
"Rasanya menyenangkan bisa mencetak gol dan meraih tiga poin," ujar Palmer kepada BBC Match of the Day.
"Ketika ditanya apakah dirinya sudah berada di kondisi 100 persen fit, Palmer tertawa kecil sebelum menjawab jujur.
"Saya rasa belum sepenuhnya," katanya.
"Orang-orang mungkin tidak tahu apa yang terjadi di balik layar. Cedera sepanjang musim jelas bukan kondisi ideal," lanjutnya.
Ia menambahkan, cedera yang belum sepenuhnya pulih kerap membatasi performanya.
"Saat saya tidak bisa tampil seperti yang saya inginkan karena masih cedera, itu memang sulit. Tapi, mudah-mudahan saya bisa segera mengatasinya dengan manajemen yang tepat. Saya tahu level permainan yang bisa saya tunjukkan ketika benar-benar fit."
Sentilan Palmer
Selebrasi khas menggigil tetap ia lakukan. Namun, pada penalti pertamanya, Palmer sempat menutup kedua telinganya, gestur yang mengundang tanda tanya. Penjelasannya, singkat dan lugas.
"Semua orang suka asal bicara, bukan?" ujarnya.
"Saya tidak terlalu memperhatikannya. Kadang tetap terlihat, tapi saya merasa datang dari mental yang kuat, jadi tidak terlalu saya hiraukan," katanya.
Komentar itu terasa relevan mengingat berbagai rumor yang sempat beredar pada bursa transfer Januari. Palmer disebut-sebut rindu kampung halaman dan ingin kembali ke Manchester, bahkan dikaitkan dengan kepindahan ke Manchester United, klub yang memang ia dukung sejak kecil.
Klaim tersebut belakangan terbukti tak berdasar, atau seperti disebut oleh banyak pihak, sekadar omong kosong.
Rekor Hattrick Cole Palmer di Chelsea
- April 2024 vs Manchester United (kandang), menang 4-3
- April 2024 vs Everton (kandang), menang 6-0
- September 2024 vs Brighton (kandang), menang 4-2
- Februari 2026 vs Wolves (tandang), menang 3-1
Tantangan ke Timnas Inggris
Sikap Palmer tetap dingin sepanjang sesi media, kecuali ketika topik beralih ke pengaruh pelatih Liam Rosenior. Nada bicaranya langsung berubah.
"Hidup bersama Liam itu luar biasa," kata Palmer.
"Dia memberi kami kepercayaan diri, membiarkan kami jadi diri sendiri, bermain bebas. Saya yakin ketika saya benar-benar fit, kalian akan melihat versi terbaik dari saya," ungkapnya.
Masalah utama Palmer sebenarnya bukan kualitas, melainkan ketersediaan fisik. Banyak yang lupa bahwa golnya di final Euro 2024 sempat menyamakan kedudukan Inggris saat menghadapi Spanyol.
Namun, dalam 18 bulan setelahnya, Palmer hanya menambah tiga caps, absen di enam dari delapan jeda internasional akibat cedera.
Pelatih Inggris saat ini, Thomas Tuchel, baru sempat bekerja dengannya dalam satu periode singkat, laga-laga internasional bulan Juni yang bertepatan dengan persiapan Chelsea menuju Piala Dunia Antarklub 2025.
Pada satu-satunya penampilan di bawah Tuchel, Palmer dimainkan sebagai nomor 10, diapit oleh Noni Madueke dan Morgan Rogers.
Tantangan Terbesar Palmer
Persaingan di posisi tersebut pun ketat. Selain Rogers, ada nama-nama besar seperti Jude Bellingham dan Phil Foden yang juga bersaing memperebutkan peran sentral di lini kreatif Inggris.
"Cole itu pencinta sepak bola. Saya suka menontonnya," ujar Rosenior dengan senyum lebar.
Banyak yang sepakat dengan penilaian itu. Namunm cedera pangkal paha yang terus mengganggu, cedera yang butuh penanganan hati-hati dan tidak bisa dipaksakan sembuh cepat, masih menjadi penghambat utama.
Cedera tersebut kerap membuat Palmer harus menepi, atau bermain sambil menahan rasa sakit.
"Cole jelas pemain yang ingin kami lihat lebih sering berada di lapangan," lanjut Rosenior.
"Semoga sekarang dia bisa tetap bugar," katanya lagi.
Dalam perburuan tempat menuju Piala Dunia, tantangan terbesar Cole Palmer bukanlah rivalnya, melainkan kondisi tubuhnya sendiri.
Sumber: SI