Bola.com, Jakarta - Kehidupan atlet Olimpiade tak selalu berakhir manis setelah pensiun. Tidak sedikit yang harus berjuang keras secara finansial, bahkan ketika pernah tampil di ajang sebesar Olimpiade.
Berbeda dengan pesepak bola atau atlet cabang populer lain yang bergelimang kontrak besar, atlet Olimpiade kerap hanya mengandalkan dana pembinaan selama aktif bertanding. Setelah gantung sepatu, realitas ekonomi bisa berubah drastis.
Kondisi itu dialami mantan speed skater Inggris, Elise Christie. Peraih banyak prestasi di nomor short track tersebut kini menjalani kehidupan yang jauh berbeda dari masa kejayaannya di lintasan es.
Christie, yang kini berusia 35 tahun, mengungkap perjuangannya bertahan secara finansial setelah pensiun dari dunia olahraga pada 2021.
Sistem Pendanaan yang Terbatas
Menurut laporan BBC Sport, atlet Inggris tidak mendapatkan bonus tambahan khusus saat meraih medali Olimpiade. Mereka memang menerima dana pelatihan melalui skema Athlete Performance Award yang bersumber dari National Lottery.
Dana tersebut diberikan berdasarkan sistem penilaian tahunan oleh UK Sport. Atlet dengan kategori A dan B dinilai berpeluang besar meraih medali, sedangkan kategori E dianggap masih level awal.
Nominal tertinggi yang bisa diterima disebut-sebut berada di kisaran 65 ribu poundsterling per tahun. Namun angka tersebut tetap jauh berbeda dibandingkan penghasilan atlet cabang olahraga komersial seperti sepak bola.
Akibatnya, sebagian atlet mengalami kesulitan ekonomi setelah karier mereka berakhir.
Perjalanan Karier dan Titik Balik
Elise Christie tercatat tampil di tiga Olimpiade Musim Dingin, yakni Vancouver 2010, Sochi 2014, dan PyeongChang 2018.
Di Sochi, ia didiskualifikasi dari tiga nomor. Di PyeongChang, ia terjatuh dan gagal menyelesaikan dua lomba lainnya. Cedera pergelangan kaki kemudian membuatnya gagal lolos ke Olimpiade Beijing 2022.
Setelah pensiun pada 2021, Christie memilih membuka akun OnlyFans dan menjual konten dewasa. Di saat yang sama, ia juga bekerja di Pizza Hut untuk menambah pemasukan.
Dalam wawancara bersama The Telegraph yang dirilis Sabtu, 14 Februari, Christie membeberkan kondisi finansialnya.
Ia menjelaskan bahwa dari setiap sekitar 700 pelanggan, ia bisa memperoleh kurang lebih 5.000 poundsterling. Meski demikian, ia mengakui keputusan tersebut bukan sesuatu yang mudah.
Ia mengatakan bahwa secara finansial dirinya masih berusaha mencapai titik stabil agar tidak perlu terus melakukan pekerjaan itu. Menurutnya, pilihan tersebut sangat berbeda dari bayangan hidup yang pernah ia miliki.
Christie juga mengungkap bahwa keputusan itu diambil sebelum dirinya didiagnosis bipolar. Ia merasa langkah tersebut justru membantunya keluar dari masa sulit dalam hidupnya. Ia menegaskan bahwa platform tersebut digunakan dengan cara yang menurutnya nyaman, dan tidak selalu seperti persepsi publik.
Ia juga mengaku sempat lama mempertimbangkan dampak sosialnya. Namun pada akhirnya, ia merasa kritik yang mungkin datang tidak sebanding dengan tekanan yang pernah ia terima saat kariernya di olahraga dinilai gagal.
Dukungan dan Tekanan Sosial
Atlet asal Skotlandia itu menyebut sebagian teman dekatnya tetap memberi dukungan. Namun ada juga yang memilih menjauh setelah mengetahui aktivitas barunya.
Christie menegaskan bahwa pekerjaan tersebut bukan tujuan jangka panjangnya. Ia masih ingin tetap terlibat dalam dunia olahraga suatu hari nanti.
Untuk saat ini, ia mengakui pemasukan tersebut membantunya bertahan. Ia menyebut pekerjaan penuh waktunya tidak memberikan penghasilan besar, sementara dana pembinaan yang dulu ia terima tidak cukup menjamin kehidupan setelah pensiun.
Menurutnya, publik perlu memahami bahwa tidak semua atlet Olimpiade hidup berkecukupan setelah pensiun. Jika seseorang menghabiskan 17 tahun hidupnya untuk satu cabang olahraga yang tidak terlalu komersial, situasi finansialnya bisa sangat berbeda dibanding atlet di cabang yang sangat disponsori.
Kisah Elise Christie menjadi gambaran bahwa gemerlap Olimpiade tidak selalu sejalan dengan kestabilan hidup setelah sorotan lampu panggung padam.