Joan Laporta Ungkap Kebenaran di Balik Kegagalan Pulangkan Lionel Messi ke Barcelona

Menjelang pemilihan presiden Barcelona, kisruh kepergiaan Messi beberapa tahun lalu kembali mencuat. Kali ini, salah seorang kandidat yang juga mantan Presiden Barcelona, Joan Laporta, memaparkan versinya.

BolaCom | Yus Mei SawitriDiterbitkan 24 Februari 2026, 18:05 WIB
Lionel Messi menangis saat mengucapkan selamat tinggal kepada Barcelona. (AFP/Pau Barrena)

Bola.com, Jakarta - Fans Barcelona masih memperdebatkan kepergian Lionel Messi dari Camp Nou beberapa tahun lalu. Banyak suporter belum bisa menerima kenyataan La Pulga meninggalkan klub yang dibelanya sejak bocah. 

Messi idealnya menghabiskan karier hingga gantung sepatu bersama Barca. Tetapi, kenyataan berkata lain. 

Advertisement

Menjelang pemilihan presiden Barcelona, kisruh kepergiaan Messi beberapa tahun lalu kembali mencuat. Kali ini, salah seorang kandidat yang juga mantan Presiden Barcelona, Joan Laporta, memaparkan versinya. 

Berbicara dalam program Katalan Café d’Idees di 2 CAT, seperti dikutip dari Football Espana, Selasa (24/2/2026), kandidat presiden Barcelona itu membahas momen emosional dan kontroversial seputar kepergian legenda Argentina tersebut pada 2021. Dia juga mengungkapkan upaya comeback yang gagal pada 2023.

Laporta mengakui tak mampu mencegah kepindahan Messi ke Paris Saint-Germain pada 2021. Dia juga gagal membawanya pulang dua tahun kemudian.

 


Laporta Hormati Keputusan Messi

Joan Laporta saat menyapa Lionel Messi di acara pelantikannya menjadi presiden Barcelona (AFP)

Saat ditanya apakah Messi masih mungkin mengakhiri kariernya di Barcelona, Laporta menjelaskan apa yang terjadi pada 2023.

“Saat itu, sudah ada upaya pada 2023, tetapi Messi lebih memilih pergi ke Inter Miami karena berbagai alasan," kata Laporta. 

"Ia membuat keputusan itu, yang sangat bisa dihormati,” imbuh dia. 

Laporta juga menyoroti warisan bersama antara klub dan pemain terbaik sepanjang sejarah mereka. “Messi memberi banyak untuk Barca dan Barca memberi banyak untuk Messi,” ujarnya. 

“Ia pantas mendapatkan laga penghormatan, yang tak bisa terwujud karena situasi yang terjadi. Ia adalah pemain yang begitu ikonik, yang terbaik di dunia, sehingga layak mendapat patung di samping Kubala dan Cruyff, dan kalau mau sekalian, Ronaldinho juga pantas. Messi adalah yang terbaik,” tambahnya.

 


Hubungan Laporta dan Messi Sudah Rusak

Lionel Messi. Pemain sayap Argentina berusia 34 tahun yang musim ini menjalani lembaran baru bersama PSG setelah 17 musim menjadi bagian Barcelona ini menjadi top skor di Eropa sebanyak 4 kali. Pada 2010 ia mencetak total 60 gol, 2012 (91 gol), 2016 (59 gol) dan 2018 (51 gol). (AFP/Josep Lago)

Meski demikian, hubungan keduanya tidak selalu mulus. Laporta menggambarkan relasi mereka menegang setelah kontrak Messi tidak diperpanjang.

“Situasinya tidak sepenuhnya menutup kemungkinan untuk pergi ke PSG. Itu adalah tawaran yang sangat menggiurkan, tetapi saya yakin ia sebenarnya ingin bertahan,” jelasnya.

“Kami sudah mencoba, tetapi kondisi keuangan Barça tidak memungkinkan. Saya yakin dalam hidup selalu ada hal yang bisa dilakukan lebih baik. Semuanya bisa diperbaiki, meskipun saat itu situasinya sangat sulit," imbuh Laporta. 

Di luar isu Messi, Laporta juga menyinggung kampanyenya saat ini serta masa depan klub. Ia menyebut bahwa pelatih Hansi Flick merasa lebih nyaman jika dirinya tetap menjadi presiden.

“Ia datang ke acara peluncuran buku dan semuanya sudah sangat dipahami,” pungkasnya.

Sumber: Football Espana   

Berita Terkait