Bola.com, Jakarta - Di Premier League musim ini, situasi bola mati, terutama sepak pojok, sering kali lebih menyerupai adegan tengah laga Royal Rumble ketimbang duel sepak bola biasa.
Perbandingan itu bahkan sempat disinggung Kobbie Mainoo di Instagram. Dalam kondisi seperti itu, bagaimana sebenarnya cara bertahan yang efektif?
Sebuah tim bisa saja mencoba akal-akalan: menyisakan lebih banyak pemain di depan agar lawan tak leluasa menumpuk orang di kotak penalti. Bisa pula membalas dengan cara yang sama kerasnya, adu siku, injak kaki, memainkan "seni gelap" sepak bola modern.
Atau mendorong pembuat aturan, International Football Association Board, agar menindak praktik blok, dorong, dan tarik-menarik yang kian lumrah terjadi. Meski pada praktiknya, hampir semua tim juga melakukan hal serupa saat mendapat sepak pojok.
Namun, ada solusi yang lebih sederhana: memiliki kiper yang mampu menerobos kerumunan, menangkap hampir setiap bola, dan meninju sisanya menjauh dari bahaya.
Dalam kemenangan tipis 1-0 di markas Everton, Selasa (24-2-2026) dini hari WIB, Manchester United memiliki sosok tersebut. Dengan gaya penjagaan gawang yang tenang, dingin, dan terkendali, Senne Lammens meredam kekacauan khas kotak penalti Premier League masa kini.
Tenang di Tengah Kekacauan
Kiper berusia 23 tahun itu sejatinya sudah tampil solid sepanjang laga. Ia mengatasi berbagai tekanan yang diberikan tim asuhan David Moyes.
Namun, ketika Everton makin agresif memburu gol penyeimbang di fase akhir pertandingan, performa Lammens naik level, dari sekadar bagus menjadi penentu kemenangan.
Everton terus mengirim umpan silang dan bola-bola lambung ke area di bawah mistarnya. Dari situasi bola mati maupun permainan terbuka, tekanan datang bertubi-tubi. Setiap kali, Lammens hadir di titik yang tepat, menangkap bola dengan dua tangan atau meninju bersih menjauh dari zona berbahaya.
Semua itu dilakukan di tengah desakan pemain lawan dan kawan sendiri, yang berebut posisi bahkan kerap mendorongnya hingga masuk ke gawang.
"Itu sudah agak berlebihan buat saya, secara pribadi," ujar Lammens kepada Sky Sports usai laga.
"Saya bahkan tidak bisa berada di dalam gawang; saya harus berdiri di belakang garis untuk bisa keluar. Itu terlalu banyak, tapi sulit bagi wasit untuk melihatnya," tambahnya.
Secara statistik, Everton unggul jauh dalam tekanan. Mereka mendapatkan 10 sepak pojok berbanding satu milik MU. Total 35 umpan silang dilepaskan, sementara MU hanya enam. Akan tetapi, hanya lima yang menemui sasaran. Dua berhasil ditangkap Lammens, empat lainnya dipukul menjauh.
Hasilnya: clean sheet ketiganya dalam enam laga di bawah asuhan Michael Carrick. Sebelumnya, ia hanya mencatat dua nirbobol dalam 16 pertandingan.
Dipuji Kawan dan Lawan
Usai pertandingan, Carrick menyebut penampilan Lammens, teladan. Moyes bahkan lebih lugas: luar biasa sekali.
"Kami berharap kiper mereka tidak bermain sebaik itu," jawab Moyes, jujur, ketika ditanya tentang strategi sepak pojok Everton.
"Harapan itu jelas meleset," ucapnya.
Kemampuan Lammens menguasai bola-bola udara memang sudah lama menjadi kekuatan utamanya, bahkan sejak masih menimba ilmu di akademi Club Brugge. Seiring waktu, ia juga menyempurnakan aspek lain dalam permainannya.
Laga kontra Everton menjadi pengingat bahwa ia pun piawai dalam tugas paling mendasar seorang penjaga gawang: mencegah bola masuk ke gawang.
Musim ini, Lammens memimpin statistik expected goals prevented (xGP) per 90 menit di antara kiper Premier League, dengan rata-rata menyelamatkan timnya dari kebobolan sekitar 0,2 gol per laga. Khusus melawan Everton, angkanya mencapai 0,86.
Satu di antara momen krusial terjadi pada menit ke-83 saat ia menggagalkan tembakan jarak jauh Michael Keane. Penyelamatan itu terlihat dramatis dan akrobatik. Namun, yang tak kalah penting adalah intervensi-intervensi "biasa" yang jarang masuk cuplikan sorotan.
Ia dengan aman menangkap tendangan bebas James Garner menjelang turun minum dan menutup peluang Tyrique George di akhir laga tanpa memantulkan bola ke area berbahaya.
Keputusan menangkap, bukan menepis, itulah yang mencegah peluang kedua atau sepak pojok tambahan bagi lawan.
Investasi yang Tepat
Carrick bahkan mengakui adanya kemiripan karakter Lammens dengan mantan rekan setimnya, Edwin van der Sar, yang juga memuji kiper Belgia itu saat menjadi analis di Sky Sports.
Pelatih interim Setan Merah itu memuji bagaimana Lammens beradaptasi dengan tekanan besar, mengingat ia direkrut setelah baru satu musim penuh bermain di kasta tertinggi Belgia.
Namun, pujian juga layak diarahkan kepada manajemen MU yang berani mengambil risiko pada kiper muda dengan rekam jejak terbatas, termasuk pencari bakat Tony Coton yang mendorong perekrutannya.
Lammens bukan satu-satunya rekrutan musim panas yang memberi dampak. Pada laga yang sama, tiga pemain anyar lainnya berperan dalam gol penentu kemenangan.
Umpan terobosan Matheus Cunha membuka ruang bagi Bryan Mbeumo, sebelum Benjamin Sesko melakukan sprint panjang dari dekat kotak penalti MU hingga ke kotak penalti Everton dan menyelesaikannya dengan sempurna, gol keenamnya dalam tujuh pertandingan.
Kini, menjelang fase krusial musim, seluruh rekrutan musim panas Setan Merah tampil solid di musim debut mereka. Semuanya memberi kontribusi nyata.
Namun, dari trio lini serang senilai total 194 juta paun itu, adakah yang memberi dampak sebesar Lammens dari bawah mistar? Kemungkinan besar tidak.
Perbedaan antara ketenangan dan kestabilan Lammens dibanding sejumlah pendahulunya yang lebih tak terduga terasa jelas di hampir setiap pertandingan.
Tim dengan kiper yang lebih ceroboh mungkin akan kehilangan dua poin dalam laga seperti ini. Akan tetapi, Lammens tak menjatuhkan apa pun, tak peduli seberapa kacau situasi di sekelilingnya.
Sumber: The Athletic