Bola.com, Jakarta - Tim asal Norwegia, Bodo/Glimt, kembali menegaskan reputasinya sebagai pengacau kejutan di Eropa. Rabu (25-2-2026) dini hari WIB di Milan, mereka mencetak satu di antara kemenangan paling mengejutkan dalam sejarah Liga Champions.
Bertemu Inter Milan, tiga kali juara kompetisi ini yang kalah di final dari Paris Saint-Germain sembilan bulan lalu, Bodo menghadapi tantangan berat, meski mereka sudah unggul agregat 3-1 dari leg pertama.
Namun, seperti sebelumnya saat menaklukkan Manchester City dan Atletico Madrid di fase grup, Bodo menunjukkan determinasi tinggi.
Tim asuhan Kjetil Knutsen menahan serangan Inter di babak pertama sebelum mencetak dua gol untuk menutup malam di San Siro dengan kemenangan 2-1, sekaligus memastikan agregat 5-2.
Hasil ini membawa Bodo ke babak 16 besar Liga Champions untuk pertama kalinya, di mana mereka akan menghadapi pemenang laga Manchester City vs Sporting.
"Ini momen bersejarah bagi Bodo, dan saya pikir juga bagi sepak bola Norwegia," ujar Knutsen.
Penyerang Jens Petter Hauge kembali menjadi inspirasi, mencetak gol pembuka sekaligus gol keenamnya di Liga Champions musim ini, sebelum mengirimkan assist indah untuk gol kedua Hakon Evjen.
"Terdengar seperti mimpi, tapi kami ada di sini, di antara tim terakhir kompetisi ini. Sangat menegangkan untuk melihat apa yang akan terjadi di dua pertandingan berikutnya," ujar Hauge, yang kembali ke San Siro, tempat ia pernah bermain dua tahun di AC Milan.
Dari Lingkar Arktik ke San Siro
Perjalanan Bodo ke babak gugur terasa mustahil setelah mereka gagal menang dalam enam laga fase grup pertama. Mereka membutuhkan hasil luar biasa melawan Man City dan Atletico Madrid untuk lolos ke play-off, dan mereka berhasil.
Kemenangan 3-1 atas Man City menarik perhatian luas, tetapi itu bukan kebetulan semata. Bodo kemudian menaklukkan Atletico 2-1 di Madrid, memastikan tempat di play-off.
Musim lalu, tim ini juga berhasil melaju ke semifinal Liga Europa, menjadi tim Norwegia pertama yang mencapai empat besar kompetisi Eropa besar.
Satu di antara kunci keberhasilan Bodo adalah memanfaatkan kondisi kandang yang ekstrem. Terletak di utara Norwegia, Bodo sering menghadapi suhu minus, salju, dan angin kencang selama musim dingin panjang.
Lapangan mereka terbuat dari plastik, yang sering merepotkan tim yang terbiasa bermain di rumput.
Kombinasi cuaca ekstrem, determinasi pemain, dan kepercayaan diri membuat banyak lawan kesulitan menghadapi Bodo.
Lima tahun lalu, mereka sempat menghajar Roma 6-1 di Conference League, sementara tim-tim seperti Celtic, Besiktas, Porto, dan Lazio juga menjadi korban di musim-musim sebelumnya.
"Ini luar biasa," kata kapten tim, Patrick Berg, kepada Canal+.
"Bagi klub dan kota, ini tak percaya. Orang-orang pasti tidak menyangka kami bisa menaklukkan City, Atletico, dan kini Inter dua kali. Ini luar biasa," katanya lagi.
Inspirasi bagi Klub Kecil
Babak gugur Liga Champions menjadi langkah ke dunia baru bagi Bodo. Namun, perjalanan mereka ke semifinal Liga Europa musim sebelumnya memberi keyakinan bahwa klub kecil pun bisa bersinar di kompetisi UEFA.
Pendukung setia mereka juga tak pernah absen, hadir di San Siro dengan pakaian kuning dan syal diangkat tinggi, menjadi pemandangan yang kini melekat pada identitas klub.
“Saya sangat bangga, kami tim dari kota kecil. Saya berharap ini bisa menunjukkan bahwa jika kami bisa melakukannya, klub lain juga bisa. Bagi saya, itu bagian terindah dari kisah ini," ujar Knutsen.
Fakta Statistik Bodo/Glimt
- Bodo/Glimt menjadi tim Norwegia pertama yang lolos babak gugur Liga Champions, dan yang pertama di Piala Eropa sejak Lillestrom pada 1987/88.
- Mereka adalah tim non-lima liga top Eropa pertama sejak Ajax 1971/72 yang menang empat laga berturut-turut di kompetisi Eropa melawan tim dari Inggris, Spanyol, Jerman, Italia, dan Prancis.
- Jens Petter Hauge mencetak enam gol musim ini, rekor pemain Norwegia terbanyak dalam satu musim Liga Champions/Piala Eropa.
Sumber: BBC