Atalanta Selamatkan Wajah Italia di Liga Champions: Comeback Dramatis yang Mengubah Sejarah

Sepak bola Italia sempat berada di ambang catatan kelam di Liga Champions musim ini. Namun, Atalanta tampil sebagai penyelamat yang tak terduga bagi Serie A di panggung Liga Champions.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 26 Februari 2026, 07:29 WIB
Gol Chelsea dicetak Joao Pedro pada menit ke-26, dibantu assist dari Reece James. Sementara gol Atalanta hadir dari Gianluca Scamacca dan Charles De Ketelaere di babak kedua. (AP Photo/Antonio Calanni)

Bola.com, Jakarta - Sepak bola Italia sempat berada di ambang catatan kelam di Liga Champions musim ini. Situasi itu muncul setelah finalis musim lalu, Inter Milan, tersingkir dari kompetisi usai kalah dari Bodø/Glimt pada Selasa lalu.

Saat itu, peluang Serie A untuk memiliki wakil di babak 16 besar benar-benar menipis. Atalanta tertinggal dua gol dari Borussia Dortmund, sementara Juventus bahkan tertinggal tiga gol dari Galatasaray setelah leg pertama play-off fase gugur.

Advertisement

Jika kedua tim itu gagal membalikkan keadaan, Liga Champions berpotensi tanpa klub Italia di babak 16 besar untuk pertama kalinya sejak musim 1987/1988, ketika kompetisi masih bernama Piala Champions Eropa. Ancaman tersebut sempat terasa sangat nyata bagi sepak bola Italia.

Pada akhirnya, Juventus memang gagal melaju meski sempat memberikan perlawanan sengit. Namun, Atalanta tampil sebagai penyelamat yang tak terduga bagi Serie A di panggung Liga Champions.

 


Comeback Dramatis Atalanta Lawan Dortmund

Pemain Atalanta, Gianluca Scamacca, merayakan gol yang dicetaknya dalam laga leg kedua play-off Liga Champions melawan Borussia Dortmund di Bergamo, Kamis (26/2/2026) dini hari WIB.

Atalanta menghadapi tugas berat setelah kalah 0-2 pada leg pertama melawan Dortmund. Namun, wakil Italia itu menunjukkan mentalitas luar biasa dengan mencetak tiga gol dalam rentang 57 menit pada leg kedua.

Pertandingan sempat terlihat akan berlanjut ke perpanjangan waktu setelah gol dari Karim Adeyemi membuat agregat kembali seimbang. Akan tetapi, drama terjadi di detik-detik terakhir ketika Atalanta mendapatkan penalti dan berhasil memanfaatkannya untuk memastikan kemenangan.

"Semua orang sudah menganggap kami habis," kata bek Atalanta, Davide Zappacosta.

"Pertandingan ini sekali lagi menunjukkan betapa kuatnya tim ini. Kami selalu percaya dan tidak pernah menyerah," ujarnya.

Sejak fase gugur babak 16 besar kembali diperkenalkan di Liga Champions pada musim 2003/2004, selalu ada setidaknya satu wakil Italia yang lolos. Karena itu, kemenangan Atalanta juga menjaga tradisi panjang tersebut tetap hidup.

 


Italia Sempat Terancam Catatan Terburuk

Para pemain Atalanta berpose sebelum pertandingan leg pertama playoff fase gugur Liga Champions antara Borussia Dortmund melawan Atalanta di Dortmund, Jerman, Rabu (18/2/2026). (AP Photo/Martin Meissner)

Sebelum keberhasilan Atalanta, banyak pengamat sepak bola Italia yang menilai situasinya sebagai sesuatu yang sangat memprihatinkan. Kekalahan Inter sebelumnya dianggap sebagai pukulan besar bagi reputasi Serie A di Eropa.

"Itu bagian dari sejarah. Jika berbicara tentang Italia dan Inter, ini salah satu bagian terburuk," ujar jurnalis sepak bola Vincenzo Credendino.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh jurnalis lain, Daniele Verri, yang menilai kegagalan semua wakil Italia mencapai fase gugur akan menjadi situasi yang sangat buruk.

"Itu akan menjadi kegagalan total, bencana bagi klub-klub kami," ucapnya.

Karena itu, keberhasilan Atalanta lolos ke babak berikutnya setidaknya memberikan harapan baru bagi sepak bola Italia, meskipun tantangan yang menanti tidak akan mudah.

 


Tantangan Berat Menanti di Babak 16 Besar

Pemain Atalanta, Lazar Samardzic (kiri), berebut bola dengan pemain Borussia Dortmund, Daniel Svensson, dalam laga leg kedua play-off Liga Champions di Bergamo, Kamis (26/2/2026) dini hari WIB. (Spada/LaPresse via AP)

Perjalanan Atalanta di Liga Champions musim ini masih jauh dari kata mudah. Di babak 16 besar, mereka berpotensi menghadapi pemuncak klasemen dari liga besar Eropa, yakni Arsenal atau Bayern Munich.

Meski demikian, performa mereka saat melawan Dortmund menunjukkan bahwa Atalanta memiliki keyakinan diri yang kuat. Hal itu bisa menjadi modal penting menghadapi lawan-lawan berat di fase berikutnya.

"Sepertinya sekarang Atalanta menjadi kesayangan sepak bola Italia," kata mantan bek West Bromwich Albion dan Aston Villa, Curtis Davies, di BBC Radio 5 Live.

Pakar sepak bola Eropa James Horncastle juga menilai perjalanan Atalanta cukup unik dibandingkan klub-klub besar Italia lainnya.

"Mereka dalam banyak hal seperti Bodø/Glimt versi Serie A. Dulu mereka tim yang naik turun kasta sampai sekitar delapan tahun lalu, tetapi sekarang kami melihat mereka memenangkan trofi Eropa, mencapai tiga final Coppa Italia, dan benar-benar mapan di Liga Champions," jelasnya.

 


Kemenangan Bersejarah bagi Klub yang Bukan Raksasa Tradisional

Pemain Atalanta Nicola Zalewski (kanan), berebut bola dengan pemain Borussia Dortmund, Jobe Bellingham, dalam laga leg kedua play-off Liga Champions di Bergamo, Kamis (26/2/2026) dini hari WIB.

Atalanta memang tidak memiliki sejarah sebesar Inter atau Juventus di kompetisi elite Eropa. Kedua klub tersebut bahkan telah mengoleksi total lima gelar Piala Champions Eropa atau Liga Champions.

Sebaliknya, Atalanta baru pertama kali tampil di Liga Champions pada 2019. Mereka sudah dua kali mencapai babak 16 besar sebelumnya, dengan pencapaian terbaik mencapai perempat final pada musim debut mereka.

Klub asal Bergamo itu memang sempat menjuarai Liga Europa pada 2024. Namun, dalam dua partisipasi terakhir di Liga Champions sebelum musim ini, mereka gagal mencapai fase gugur.

Jurnalis sepak bola Nicky Bandini menyebut kemenangan comeback Atalanta sebagai sesuatu yang sangat penting bagi sepak bola Italia.

"Saya pikir efek positifnya akan terasa lebih besar untuk tim seperti Atalanta dibandingkan Juventus atau Inter, karena mereka secara tradisional bukan salah satu klub besar Italia," katanya.

Kesuksesan tersebut juga terasa semakin spesial karena sebelumnya klub Italia belum pernah membalikkan ketertinggalan dua gol pada leg pertama di Liga Champions.

 


Malam Tak Terlupakan bagi Atalanta

Semangat dan mentalitas Atalanta benar-benar terlihat sepanjang pertandingan melawan Dortmund. Bahkan setelah gol Adeyemi sempat membuat situasi kembali sulit, mereka tetap mampu bangkit.

"Malam yang tak terlupakan, mimpi yang menjadi kenyataan," ujar pelatih Atalanta, Raffaele Palladino.

"Kami memberikan segalanya dalam pertandingan ini, hati, jiwa, semangat, dan keberanian. Kami memainkan pertandingan dengan gaya Atalanta, dan itulah mengapa kami sangat bahagia dengan apa yang kami capai," lanjutnya.

Kapten Atalanta, Marten de Roon, juga menegaskan bahwa timnya memang datang dengan target tampil sempurna.

"Kami tahu harus memainkan pertandingan yang sempurna dan kami melakukannya. Kami bertahan saat harus bertahan, menyerang saat harus menyerang, dan pada akhirnya hasil ini pantas kami dapatkan," ucapnya.

Berita Terkait