Pejabat F1 Keluarkan Pernyataan soal GP Australia usai Serangan di Timur Tengah

Pemboman guncang Timur Tengah, F1 angkat bicara soal GP Australia.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 01 Maret 2026, 12:00 WIB
Asap membubung di cakrawala setelah ledakan di Teheran, Iran, Sabtu, 28 Februari 2026. (Foto AP)

Bola.com, Jakarta - Pejabat Formula 1 angkat bicara menjelang digelarnya Grand Prix Australia 2026 menyusul gelombang pemboman di kawasan Timur Tengah yang berdampak langsung pada agenda pramusim mereka.

Musim 2026 dijadwalkan dimulai pekan depan di Melbourne. Pembalap McLaren, Lando Norris, akan memulai upaya mempertahankan gelar juaranya.

Advertisement

Namun, situasi keamanan di Timur Tengah memaksa pembatalan satu di antara agenda penting menjelang seri pembuka.

Uji coba ban Pirelli selama dua hari yang sedianya digelar di Sirkuit Internasional Sakhir, Bahrain, terpaksa ditunda. Tes tersebut dirancang untuk mengumpulkan data penting pengembangan kompon ban basah.

Akan tetapi, meningkatnya ketegangan dan serangan rudal di kawasan tersebut membuat agenda itu tidak bisa dilaksanakan.

"Dua hari tes pengembangan untuk kompon ban basah, yang dijadwalkan hari ini dan besok di Bahrain International Circuit, telah dibatalkan demi alasan keamanan menyusul situasi internasional yang terus berkembang," demikian pernyataan Pirelli kepada RacingNews365.

"Seluruh personel Pirelli yang saat ini berada di Manama dalam keadaan aman di hotel mereka. Perusahaan sedang bekerja untuk memastikan keselamatan mereka dan mengatur kepulangan mereka ke Italia dan Inggris sesegera mungkin," lanjut pernyataan tersebut.


Dampak ke F1

Iran meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone balistik ke wilayah Israel pada Sabtu 28 Februari 2026 malam, hingga Minggu 1 Maret 2026 dini hari waktu setempat. Tampak dalam foto, jejak-jejak pencegahan rudal pertahanan udara terlihat di Tel Aviv, Israel, Sabtu 28 Februari 2026. (AP Photo/Ohad Zwigenberg)

Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer gabungan yang mencakup serangan di sejumlah lokasi di Iran.

Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan dimulainya operasi tempur besar dan menyatakan tujuannya adalah untuk "menghancurkan rudal Iran dan meratakan industri rudal mereka hingga ke tanah".

Sejumlah pangkalan militer AS di Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Irak, Yordania, dan Bahrain menjadi sasaran serangan balasan.

Dampaknya turut dirasakan oleh personel F1 yang harus mengubah rencana perjalanan menuju Australia.

Bandara besar seperti Dubai dan Doha ditutup demi alasan keamanan sehingga penerbangan penghubung dialihkan melalui Hong Kong dan Singapura.


Penyesuaian Rencana

Formula 1. (Bola.com/Wiwig Prayugi)

Otoritas F1 bahkan bisa saja kembali menyesuaikan rencana apabila konflik terus berlanjut.

"Tiga balapan kami berikutnya berada di Australia, China, dan Jepang, bukan di Timur Tengah, dan balapan di kawasan itu masih beberapa pekan lagi," kata seorang juru bicara F1 mengatakan kepada The Sun.

"Seperti biasa, kami memantau secara ketat setiap situasi seperti ini dan bekerja sama erat dengan otoritas terkait," lanjut sang jubir.

Grand Prix Bahrain saat ini dijadwalkan berlangsung pada 12 April, sepekan sebelum Grand Prix Arab Saudi di Jeddah. Sementara itu, Grand Prix Qatar dan Grand Prix Abu Dhabi akan digelar pada akhir musim, masing-masing pada 29 November dan 6 Desember.

Insiden serupa pernah terjadi pada 2022 saat Grand Prix Arab Saudi, ketika serangan rudal menghantam fasilitas minyak Aramco yang berjarak sekitar 16 kilometer dari sirkuit.

Latihan sempat tertunda karena asap terlihat dari lokasi serangan. Namun, setelah pertemuan darurat, balapan akhirnya tetap digelar dengan aman dan lancar.

 

Sumber: Sportbible

Berita Terkait