Kisah Para Pesepak Bola Eropa yang Terjebak di Iran dalam Konflik AS-Israel, Kesulitan Menyelamatkan Diri karena Bandara Ditutup

Krisis militer di Timur Tengah memukul sepak bola Iran.

BolaCom | Muhammad Adi YaksaDiterbitkan 01 Maret 2026, 13:15 WIB
Dilahirkan di El Escorial, Spanyol, Munir El Haddadi memiliki garis keturunan Maroko dari sang ayah. Sempat melakoni debut bersama Timnas Spanyol pada 8 September 2014, ia akhirnya memutuskan pindah membela Timnas Maroko yang akhirnya direstui FIFA lewat aksi banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) pada 2021. Hingga kini ia telah tampil dalam 11 laga bersama Timnas Maroko sejak melakukan debut pada 26 Maret 2021. (AFP/Kenzo Tribouillard)

Bola.com, Teheran - Krisis militer di Timur Tengah memukul sepak bola Iran. Serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran memaksa Persian Gulf Pro League 2025/2026 menghentikan seluruh pertandingan hanya beberapa jam sebelum kick-off.

Media Spanyol, AS, mengabarkan, dampaknya tidak hanya dirasakan pemain lokal, tetapi juga sejumlah profesional asing yang kini berjuang meninggalkan Iran. Beberapa di antara mereka adalah warga negara Spanyol yang bekerja di klub-klub ibu kota Teheran.

Advertisement

Dua staf asal Spanyol, Pepe Losada, yang menjadi pelatih kebugaran dan Emilio Alvarez, pelatih kiper, bertugas di Persepolis yang berbasis di Teheran.

Pada Jumat (27-2-2026), keduanya sudah terbang ke Isfahan untuk mempersiapkan pertandingan. Namun, begitu mendarat, bandara setempat dalam kondisi benar-benar kosong dan lengang.


Nasib Pemain dan Staf

Serangan ini merupakan balasan langsung atas serangan udara skala besar yang dilakukan oleh militer Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Teheran dan wilayah Iran lainnya pada Sabtu 28 Februari 2026 pagi. Tampak dalam foto, jejak-jejak pencegahan rudal pertahanan udara terlihat di Tel Aviv, Israel, Sabtu 28 Februari 2026. (AP Photo/Ohad Zwigenberg)

Situasi makin buruk keesokan harinya ketika ruang udara Iran ditutup total. Losada dan Alvarez terpaksa menempuh perjalanan darat kembali ke Teheran menggunakan bus setelah tidak ada lagi penerbangan yang bisa membawa mereka pulang.

Sementara itu, nasib yang lebih berat dialami Munir El Haddadi. Mantan penyerang Barcelona yang kini memperkuat Esteghlal Teheran itu sudah berada di dalam pesawat pada Sabtu (28-2-2026) ketika serangan dimulai. Namun, terpaksa turun kembali sebelum pesawat sempat mengudara.

Munir dikabarkan sempat tertahan di bandara Teheran dan belum bisa pergi.

Pihak Esteghlal disebut berupaya maksimal membantunya meninggalkan Iran, dengan rute darat melewati Turki menjadi opsi yang paling mungkin ditempuh, mengingat jarak dari Teheran ke perbatasan Turki di Bazargan berkisar 1.300 hingga 1.500 mil.

Berbeda nasib dengan Munir, mantan kiper Real Madrid, Real Betis, dan Atletico Madrid, Antonio Adan, beruntung bisa keluar lebih cepat.

Adan yang juga berseragam Esteghlal berhasil mengejar satu di antara penerbangan terakhir sebelum ruang udara Iran resmi ditutup.


Kompetisi Kerap Terganggu

Orang-orang menyaksikan kepulan asap membubung di langit Teheran, Iran, setelah terjadinya ledakan, Sabtu (28/2/2026) akibat serangan Israel dan Amerika Serikat. (Dok. AP)

Pemerintah Spanyol bergerak merespons situasi genting ini. Kedutaan Besar Spanyol di Iran telah menghubungi sekitar 150 warga negaranya yang tersebar di berbagai sektor, meminta mereka untuk menjaga komunikasi secara konstan.

Khusus untuk Losada dan Alvarez, pihak berwenang meminta keduanya segera melapor setibanya di Teheran agar rencana evakuasi bisa disusun apabila diperlukan.

Namun, operasi evakuasi tersebut diperkirakan baru bisa dilaksanakan paling cepat tiga hingga empat hari ke depan, tergantung bagaimana situasi di Iran berkembang.

Persian Gulf Pro League bukan pertama kalinya terganggu oleh konflik militer di kawasan ini. Musim lalu, divisi teratas Liga Iran itu sudah pernah terhenti akibat Perang Dua Belas Hari, dan kini sejarah seolah berulang dengan dampak yang terasa lebih luas dari sebelumnya.

 

Sumber: AS