Presiden FIFA, Gianni Infantino, Minta Pemain yang Menutup Mulut saat Bertengkar Langsung Diusir

Gianni Infantino minta pemain yang menutup mulut saat konfrontasi harus dikartu merah.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 02 Maret 2026, 11:15 WIB
Kylian Mbappe menilai winger Benfica, Gianluca Prestianni, tidak pantas lagi tampil di kompetisi elite Eropa tersebut setelah dugaan tindakan pelecehan rasial terhadap Vinicius. Meskipun begitu Prestianni tidak mendapat kartu kuning atau merah dari wasit. Ia terlihat menutup mulutnya dengan jersey, sehingga wasit tidak menemukan bukti verba. (AFP/Patricia De Melo Moreira)

Bola.com, Jakarta - Presiden FIFA, Gianni Infantino, melontarkan wacana tegas soal perilaku pemain di lapangan. Ia menilai pemain yang menutup mulut saat berbicara kepada lawan dalam situasi konfrontasi seharusnya langsung dikartu merah.

Dalam wawancara dengan Sky News, Infantino mengatakan wasit perlu berangkat dari asumsi bahwa pemain tersebut telah mengucapkan "sesuatu yang seharusnya tidak dia katakan".

Advertisement

Pernyataan itu muncul kurang dari dua pekan setelah insiden dalam laga Liga Champions ketika winger Benfica, Gianluca Prestianni, terlihat menarik bagian bawah kostumnya untuk menutupi mulut saat berbicara kepada pemain Real Madrid, Vinicius Jr.

Pemain internasional Argentina tersebut dijatuhi larangan bermain sementara satu pertandingan oleh UEFA atas dugaan penggunaan bahasa rasis, tuduhan yang ia bantah.

Sanksi itu diberlakukan sambil menunggu hasil penyelidikan penuh oleh inspektur etika dan disiplin. Prestianni masih berpotensi menerima hukuman tambahan setelah investigasi rampung.


Punya Efek Jera

Presiden FIFA, Gianni Infantino. (Bola.com/Dok.FIFA).

Infantino menegaskan bahwa setiap kasus individual harus ditangani oleh otoritas yang berwenang. Namun, secara umum, menurutnya, sepak bola harus bertindak dan bersikap tegas dengan menghadirkan aturan yang memiliki efek jera.

Isu ini turut dibahas dalam rapat umum tahunan International Football Association Board (Ifab) yang digelar di Wales akhir pekan lalu. Dalam pertemuan tersebut disepakati perlunya konsultasi lanjutan untuk merumuskan langkah yang dapat mencegah pemain menyembunyikan ucapan mereka kepada lawan.

"Jika seorang pemain menutup mulutnya dan mengatakan sesuatu, dan itu memiliki konsekuensi rasis, maka dia harus diusir, jelas," kata Infantino.

"Harus ada praduga bahwa dia telah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dia katakan, jika tidak dia tidak perlu menutup mulutnya."

"Jika Anda tidak memiliki sesuatu untuk disembunyikan, Anda tidak menutup mulut saat mengatakan sesuatu. Sesederhana itu," lanjutnya.

Meski demikian, Ifab belum mencapai kesepakatan final dalam pertemuan tersebut. Opsi perubahan aturan masih bisa dibahas dalam Kongres FIFA yang akan digelar di Vancouver pada 30 April.

Jika disetujui, perubahan regulasi itu berpeluang diterapkan tepat waktu sebelum Piala Dunia 2026.


Perlu Pembahasan Mendalam

Vinicius Junior (kanan) mencetak gol tunggal kemenangan Real Madrid atas Benfica pada laga leg pertama knockout play-off Liga Champions musim ini di Estadio da Luz, Lisbon, Rabu (18/02/2026) dini hari WIB. Sayangnya dalam duel tersebut, Vincius menjadi korban tindakan rasisme yang dilakukan pendukung dan pemain Benfica, Gianluca Prestianni. (AFP/PATRICIA DE MELO MOREIRA)

Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom, menyatakan diskusi akan terus dilanjutkan.

"Kami ingin melanjutkan diskusi dan berpotensi menghasilkan langkah-langkah sebelum Piala Dunia," katanya.

"Kami akan menggelar Kongres FIFA, dan itu akan menjadi kesempatan untuk berdiskusi," tambahnya.

Sementara itu, Chief Executive The Football Association (FA), Mark Bullingham, menilai pembahasan lebih mendalam masih diperlukan agar solusi yang diambil tidak menimbulkan persoalan baru.

"Kami perlu berkonsultasi lebih luas dengan komunitas sepak bola dan memastikan tidak menciptakan konsekuensi yang tidak diinginkan," ujar Bullingham, yang juga duduk di dewan Ifab.

"Anda bisa melihat ketika seorang pemain berbicara kepada lawan, sangat jarang ada situasi di mana mereka perlu menutup mulut saat berkonfrontasi."

"Kami harus meninjau semuanya dan memastikan jika akan ada perubahan aturan atau sanksi, itu tidak justru menimbulkan masalah baru," tegasnya.

 

Sumber: BBC

Berita Terkait