BRI Super League: Persib Kecam Rasisme ke Kakang Rudianto dan Mikael Tata usai Laga Vs Persebaya

Deputy CEO Persib, Adhitia Putra Herawan, mengecam keras serangan rasisme kepada Kakang Rudianto dan Mikael Alfredo.

BolaCom | Erwin SnazDiterbitkan 05 Maret 2026, 17:45 WIB
Bek kiri Persebaya Surabaya, Mikael Alfredo Tata. (Bola.com/Aditya Wany)

Bola.com, Bandung - Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat, Adhitia Putra Herawan, mengecam serangan bernuansa rasis yang ditujukan kepada dua pemain muda Indonesia, Kakang Rudianto dan Mikael Alfredo Tata melalui media sosial.

Serangan tersebut muncul setelah pertandingan antara Persebaya Surabaya dan Persib Bandung pada 2 Maret 2026 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya yang berakhir imbang 2-2.

Advertisement

Menurut Adhitia, sepak bola sejak lama menjadi ruang yang mempertemukan berbagai perbedaan. Di dalamnya, beragam latar belakang budaya, bahasa, dan identitas melebur menjadi satu semangat yang sama yakni kecintaan terhadap olahraga paling populer di dunia ini.

Karena keberagaman itulah sepak bola hidup, berkembang, dan dicintai oleh jutaan orang. Oleh sebab itu, tidak ada ruang sedikit pun bagi praktik rasisme dalam sepak bola.

 


Saling Menghargai

Kakang Rudianto beraksi di laga Persebaya vs Persib Bandung di BRI Super League 2025/2026. (Dok Persib)

Adhitia menegaskan bahwa sepak bola seharusnya menjadi ruang untuk saling menghargai, bukan tempat untuk menyebarkan kebencian.

“Kritik terhadap performa pemain memang merupakan bagian dari dinamika olahraga. Namun, ketika kritik berubah menjadi serangan yang menyentuh identitas ras atau latar belakang seseorang, hal itu telah melampaui batas yang dapat diterima,” tegas Adhitia.

Adhitia juga menegaskan dukungannya kepada Kakang Rudianto sekaligus memberikan dukungan moral kepada pemain Persebaya Surabaya, Mikael Alfredo Tata.

Keduanya dinilai sebagai bagian dari generasi muda sepak bola Indonesia yang tengah berkembang dan memiliki masa depan panjang di dunia sepak bola.


Suporter Harus Dewasa

Koreo yang ditampilkan suporter pada laga Persebaya vs Persib di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang (7/3/2019), dalam Piala Presiden 2019. (Bola.com/Aditya Wany)

Menurut Adhitia, para pemain muda tersebut berhak mendapatkan lingkungan yang sehat, aman, serta penuh rasa hormat agar dapat terus bertumbuh dan mengembangkan potensi mereka di lapangan hijau.

Ia juga juga meyakini bahwa mayoritas suporter sepak bola Indonesia memiliki semangat yang sama dalam mencintai olahraga ini secara bermartabat.

Baik suporter Persib yang dikenal sebagai Bobotoh maupun pendukung Persebaya yang akrab disebut Bonek, pada dasarnya memiliki tujuan yang sama yaitu mendukung tim kesayangan tanpa mengorbankan nilai persaudaraan.


Menahan Diri

Adhitia berharap semua pihak tidak terpancing oleh tindakan segelintir oknum yang justru berpotensi merusak hubungan baik antar pecinta sepak bola.

“Kami berkomitmen untuk terus mendukung upaya penolakan terhadap segala bentuk diskriminasi di dunia sepak bola,” imbuhnya.

Adhitia berharap peristiwa ini menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa masa depan sepak bola Indonesia hanya bisa dibangun di atas fondasi saling menghormati.

Pesan khusus juga disampaikan kepada Kakang Rudianto dan Mikael Alfredo Tata, bahwa keduanya tidak sendirian menghadapi situasi ini.

“Sepak bola yang sehat adalah sepak bola yang melindungi para pemainnya. Dan kami akan selalu berdiri di sisi itu,” pungkas Adhitia.

Berita Terkait