5 Tim Juara yang Gaya Permainannya Banyak Dicibir: Ada Timnas Yunani hingga Porto

Saat kembali membuka catatan sejarah, berikut ini ada lima tim juara yang banyak mendapat cibiran karena gaya bermain mereka.

BolaCom | Yus Mei SawitriDiterbitkan 07 Maret 2026, 07:45 WIB
Yunani - Tak ada yang memprediksi Yunani akan menjadi Juara Euro 2004. Perjalanan terjalnya diawali dari keberhasilan mereka "mentas" dari grup neraka, kejutkan Prancis di perempat final, hadapi Ceko dalam semifinal, dan tumbangkan Skuat Ronaldo cs di babak final. (Foto: AFP/Soriano/Fife)

Bola.com, Jakarta - Arsenal sedang memimpin klasemen sementara Liga Inggris 2025/2026. Namun, The Gunners malah mendapat kritikan. 

Tak sedikit yang mencibir manajer Arsenal, Mikel Arteta, karena dianggap memakai taktik yang terlalu sederhana. Namun, mereka bukanlah tim pertama dalam sejarah yang mengalami situasi seperti ini.

Advertisement

Bagi pelatih dan pemain, kemenangan mungkin adalah segalanya. Tetapi cara sebuah tim meraih kesuksesan kerap membuat beberapa juara justru berubah menjadi “penjahat” di mata publik sepak bola.

Saat kembali membuka catatan sejarah, berikut ini ada lima tim juara yang banyak mendapat cibiran karena gaya bermain mereka, seperti dikutip Planet Football


1. Yunani (2004)

Yunani juara Piala Eropa 2004. Ajang Piala Eropa 2004 yang digelar di Portugal sangat istimewa bagi Yunani dan tuan rumah Portugal. Sangat unik, kedua tim yang tak diunggulkan ini bertemu di laga pembuka dan juga di laga final. Kedua laga dimenangi oleh Yunani dengan skor 2-1 di laga pembuka dan 1-0 di laga final. (AFP/Lluis Gene)

Menurut jurnalis The Guardian, Barry Glendenning, Yunani adalah satu-satunya tim kuda hitam dalam sejarah yang justru ingin dikalahkan oleh semua orang.

Mengapa? Gaya bermain mereka yang mengandalkan man-marking ketat seperti lintah serta ketergantungan pada situasi bola mati membuat mereka menyingkirkan lawan-lawan yang sebenarnya lebih bertalenta di Euro 2004.

Setelah mendepak Spanyol di fase grup, tim asuhan Otto Rehhagel kemudian mengalahkan Prancis, Republik Cheska, dan Portugal untuk menjuarai turnamen tersebut. Semuanya dengan skor 1-0.

Euro 2004 dikenang sebagai turnamen ketika banyak bintang besar tampil di bawah performa terbaiknya seperti David Beckham, Zinedine Zidane, Raul, dan Luis Figo.

Sementara itu, rasa kesal publik semakin menjadi-jadi ketika tim Yunani yang dianggap tidak menarik untuk ditonton justru berhasil mengangkat trofi, sesuatu yang terus dibicarakan selama bertahun-tahun.   


2. Spanyol (2012)

Timnas Spanyol sukses merebut gelar keempat di ajang Euro setelah mengalahkan Inggris 2-1 pada laga final Euro 2024 yang digelar di Olympiastadion, Berlin, Jerman, Senin (15/7/2024) dini hari WIB. Dua gol Spanyol dicetak lewat Nico Williams (47') dan Mikel Oyarzabal (86'). Sementara satu-satunya gol Inggris dihasilkan Cole Palmer (73'). Spanyol pun kini menahbiskan sebagai tim tersukses di ajang Euro dengan menjadi pengoleksi gelar terbanyak yaitu empat kali, setelah sebelumnya sukses menjadi kampiun pada edisi 1964, 2008 dan 2012. (AP Photo/Frank Augstein)

Pada Euro 2012, banyak orang sudah mulai jenuh dengan dominasi Spanyol setelah mereka menjuarai Piala Eropa dan Piala Dunia, lalu kembali meraih trofi besar ketiga secara beruntun tanpa banyak kesulitan.

Kehilangan David Villa akibat cedera sebelum turnamen dimulai, pelatih Vicente del Bosque kerap menurunkan tim tanpa penyerang murni.

Beberapa pertandingan mereka bahkan terasa sulit untuk ditonton, terutama kemenangan di perempat final melawan Prancis yang tampil lemah, serta kemenangan lewat adu penalti atas Portugal setelah semifinal berakhir tanpa gol.

Gaya bermain tiki-taka mereka memecah opini di internet. Sebagian penggemar menganggapnya luar biasa, sementara yang lain menilai gaya tersebut membosankan. Menariknya, kedua kubu sama-sama sangat fanatik dalam mempertahankan pendapat mereka.

Spanyol akhirnya berhasil memenangi hati banyak penggemar lewat kemenangan telak 4-0 atas Italia di final. Namun, banyak orang juga merasa puas ketika dominasi mereka berakhir di Piala Dunia 2014, setelah tersingkir hanya dalam dua pertandingan setelah dihajar Belanda dan Chile.   


3. Porto (2004)

Porto juara Liga Champions 2003/2004. Partai final Liga Champions musim 2003/2004 mempertemukan dua klub yang sama sekali tidak diperhitungkan, FC Porto menghadapi AS Monaco. Keduanya mampu menyingkirkan klub-klub mapan dalam perjalanannya menuju partai final. FC Porto akhirnya menjadi juara usai menang telak 3-0 atas AS Monaco di laga pamungkas. Gelar tersebut merupakan gelar kedua, setelah sebelumnya FC Porto pernah juara di musim 1986/1987. (AFP/Pascal Guyot)

Penggemar Celtic sebenarnya sudah memperingatkan publik tentang Porto racikan Jose Mourinho. Tim asuhannya itu sebelumnya menaklukkan Celtic pada final Piala UEFA 2003 dengan pertunjukan permainan penuh kecerdikan dan akal-akalan.

Namun, tak ada yang benar-benar menyangka juara Portugal itu kemudian melangkah lebih jauh dengan menjuarai kompetisi utama Eropa, yakni Liga Champions 2003/2004.

Skuad yang diperkuat pemain seperti Deco, Maniche, Costinha, Ricardo Carvalho, dan Vítor Baía memang bukan tim yang bermain kasar ala “Stoke versi Pastel de nata”. Namun, mereka tetap merupakan tim dengan kualitas teknik tinggi, meski dengan pendekatan yang cenderung "gelap”.   


4. Liverpool Era Gerard Houllier

Mantan pelatih Liverpool, Gerard Houllier. (Dok. Liverpool FC)

Gerard Houllier membawa Liverpool meraih treble yang belum pernah terjadi sebelumnya pada 2001, dengan menambahkan trofi Piala UEFA 2001 ke dua piala domestik yang mereka menangi musim itu.

Namun, yang kurang dikenang adalah gaya permainan Liverpool saat itu. The Reds umumnya mengandalkan pertahanan rapat sambil berharap Michael Owen mampu mencuri satu atau dua gol di lini depan.

Bahkan, BBC sempat berhasil meyakinkan UEFA untuk memundurkan leg pertama semifinal melawan Barcelona demi menyesuaikan jadwal dengan tayangan sinetron EastEnders, semuanya berujung pada hasil imbang 0-0 yang membosankan.

Menariknya, Houllier bahkan mencadangkan pahlawan Kop, Robbie Fowler, demi memainkan Emile Heskey untuk memaksimalkan peran Owen.

Efektif? Ya. Namun taktik Liverpool yang satu dimensi akhirnya menjadi bumerang bagi Houllier. Upayanya menambah kreativitas di lini serang, seperti mendatangkan El Hadji Diouf, justru berakhir sebagai kegagalan besar.

Jamie Carragher bahkan sudah merasakan tanda-tandanya sejak awal. Dalam autobiografinya berjudul Carra, ia menulis: “Saya datang ke latihan pramusim (2002) dengan harapan melihat para pemain yang akan mengubah kami menjadi juara liga. Namun, saya pulang ke rumah pada malam yang sama dalam keadaan depresi.”

Houllier akhirnya meninggalkan Liverpool pada 2004 setelah klub gagal meraih gelar Premier League yang sangat mereka dambakan.   


5. Arsenal Era George Graham

Arsenal - Ilustrasi Logo Arsenal (Bola.com/Adreanus Titus)

George Graham membuat Arsenal dikenal dengan julukan “Boring, Boring Arsenal”, sebuah ejekan yang muncul karena gaya bermain mereka yang dianggap membosankan saat meraih gelar liga pada 1989 dan 1991.

Musim 1989 memang paling diingat berkat gol dramatis Michael Thomas di Anfield yang memastikan gelar liga. Namun di balik momen ikonik itu, Arsenal juga terkenal dengan disiplin taktik mereka, terutama penggunaan jebakan offside yang sangat ketat serta kemenangan dengan skor minimal.

Pendekatan pragmatis itu kembali terlihat ketika Arsenal menghadapi Parma 1913 di final 1994 UEFA Cup Winners' Cup. Klub Italia tersebut tampak kebingungan menghadapi tim yang memiliki sedikit niat menyerang, tetapi justru mampu mengalahkan mereka.

Namun, setahun kemudian publik sepak bola Inggris bersorak ketika Arsenal kalah di final Cup Winners' Cup 1995. Saat itu, gelandang Nayim mencetak gol sensasional dengan lob dari dekat garis tengah yang mengecoh kiper David Seaman, sebuah gol spektakuler yang menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah kompetisi tersebut. 

Sumber: Planet Football

Berita Terkait