Bola.com, Jakarta - Mantan penyerang Manchester United, Eric Cantona, kembali menjadi sorotan setelah mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Pria asal Prancis yang kini berusia 59 tahun itu mengatakan ingin "menciptakan sebuah hukum atau undang-undang" yang menurutnya dapat memengaruhi para pemimpin dunia, termasuk Presiden AS, Donald Trump, dalam mengambil keputusan untuk berperang.
Sejak pensiun dari sepak bola, Cantona memang cukup aktif menyuarakan pandangan politik. Selain itu, ia meniti karier di dunia musik.
Baru-baru ini ia tampil dalam program televisi "Clique" di saluran Canal+ untuk mempromosikan album terbarunya, Perfect Imperfection.
Namun, pembicaraan dalam acara tersebut tidak hanya berkutat pada musik. Topik diskusi dengan cepat bergeser ke isu-isu internasional. Cantona sebelumnya juga pernah menyatakan dukungan terhadap Palestina serta beberapa kali menyampaikan pidato dalam berbagai kampanye politik.
Dalam kesempatan itu, Cantona menyinggung konflik yang sedang berlangsung setelah AS dan Israel berupaya menekan Iran menyusul tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Konflik tersebut telah berlangsung sekitar 12 hari tanpa tanda-tanda mereda, dengan serangan bom dilaporkan terjadi di berbagai wilayah Timur Tengah dan melibatkan negara-negara seperti Lebanon dan Kuwait.
Usulan Hukum Baru dari Cantona
Dikutip dari laporan Le Parisien, Cantona mengusulkan ide yang menurutnya dapat mengurangi konflik global.
"Harus ada hukum internasional yang menyatakan bahwa jika seorang presiden memutuskan untuk berperang, dia harus menjadi orang pertama yang berada di garis depan, bukan mengirim anak-anak berusia 18 tahun," katanya.
"Saya pikir akan jauh lebih sedikit perang jika itu diterapkan," imbuhnya.
Ia juga mengkritik para pemimpin politik yang menurutnya membuat keputusan dari balik meja tanpa merasakan langsung dampak peperangan.
"Mereka semua duduk di kantor yang panjangnya 25 meter, lalu mengirim anak-anak berusia 18 tahun ke kematian mereka," ujarnya, sembari menyebut Trump sebagai contoh.
Cantona juga menyoroti bahwa korban dalam konflik sering kali bukan hanya tentara.
"Ketika Anda menjadi penindas, Anda mengirim anak-anak berusia 18 tahun dari negara Anda sendiri. Tetapi, di pihak lain sering kali bukan anak berusia 18 tahun. Ada anak berusia tiga tahun, 11 tahun. Orang-orang tak bersalah, warga sipil. Atau tentara. Tapi, saya pikir akan ada lebih sedikit perang jika hukum seperti itu ada, karena tidak banyak orang yang benar-benar berani," tuturnya.
Penolakan Pribadi terhadap Perang
Cantona menutup pernyataannya dengan sikap tegas terkait perang.
"Tidak satu pun anak saya akan pergi berperang. Nol. Untuk apa? Untuk siapa? Untuk apa? 'Prajurit tak dikenal' hanya digunakan untuk mendorong orang lain pergi berperang," katanya.
Ini bukan pertama kalinya Cantona menyuarakan pandangan politiknya secara terbuka. Tahun lalu, dalam konser solidaritas "Together for Palestine" di London, ia juga sempat menyerukan agar FIFA dan UEFA menjatuhkan sanksi kepada Israel.
"FIFA dan UEFA harus menyunspensi Israel," katanya ketika itu.
Ia juga mengajak klub dan pemain di seluruh dunia untuk menolak bertanding melawan tim-tim Israel.
"Kita ingat apartheid di Afrika Selatan. Boikot olahraga sangat penting untuk mengakhirinya," ujar Cantona.
"Kita memiliki kekuatan, Anda memiliki kekuatan, dan semua penggemar sepak bola juga punya kekuatan untuk meninggalkan tribune."
Menurut Cantona, sepak bola internasional bukan sekadar olahraga, melainkan juga memiliki dimensi budaya dan politik.
"Saya tahu sepak bola internasional lebih dari sekadar olahraga; ia bersifat kultural, politis. Ini adalah soft power. Sudah waktunya Israel dicabut dari privilese ini," katanya lagi.
Sumber: Give Me Sport