Kolom - Jelang Debut di FIFA Series 2026: Jangan Terlalu Mudah Jatuh Cinta, John

Pesan saya untuk Herdman hanya satu saja: jangan terlalu mudah jatuh cinta dengan gocekan-gocekan pemain-pemain Liga Indonesia yang lebih dulu bergabung ke pemusatan latihan di pekan ini semodel Beckham Putra atau Yakob Sayuri.

BolaCom | Benediktus Gerendo PradigdoDiterbitkan 23 Maret 2026, 07:00 WIB
Kolom Darojatun - Jelang Debut di FIFA Series 2026: Jangan Terlalu Mudah Jatuh Cinta, John

Bola.com, Jakarta Pusat - Mungkin tidak ada harapan yang pernah dibebankan ke pundak seorang pelatih Timnas Indonesia sebesar yang saya serahkan ke John Herdman.

Di tengah liburan akhir tahun 2025 di Kota Lembang, Jawa Barat, saya sempat berkirim pesan via WhatsApp kepada Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, untuk meminta waktu mewawancarai Herdman disertai daftar pertanyaan yang mengeksplorasi, menggali, dan memastikan dirinya tahu saya sangat berharap kepada sang pelatih.

Advertisement

Pak Erick menjawab ringan bahwa nanti saya akan dikabari setelah Herdman menandatangani kontrak tanpa menanyakan dari mana saya dapat bocoran bahwa gaffer asal Inggris itu sudah pasti berjodoh dengan Skuad Garuda.

Ya, beliau sudah mahfum bahwa saya kerap kali mendapatkan bocoran info tidak hanya dari lingkaran dalam PSSI, tapi juga sejumlah kolega lama di mancanegara dari hasil meliput bola sejak 1999.

Sampai kini hampir genap empat bulan lamanya kesempatan wawancara khusus yang saya minta tak juga terbit. Beberapa pertanyaan yang saya sudah kirimkan ke Pak Erick bahkan sudah diajukan oleh pewawancara PSSI di akun YouTube resmi Timnas Indonesia sehingga akan terasa basi bila ditanyakan ulang oleh tim saya di Bola.com, Merdeka.com, dan Bola.net.

Saya menutup daftar pertanyaan itu dengan satu retorika John Herdman harus berjanji media kami harus jadi pihak pertama yang mewawancarainya kala Timnas Indonesia lolos ke putaran final Piala Dunia 2030 pada akhir 2029 kelak.

Jadi, jelas bukan betapa saya sangat menaruh harapan besar pada lelaki yang bertubuh relatif pendek untuk ukuran seorang bule itu? Kenapa?

Herdman bukan pelatih favorit saya, ia masuk urutan ketiga di benak saya setelah Timur Kapadze (Uzbekistan) dan Heimir Halgrimmsson (Eslandia) yang juga sempat tercium radar PSSI di kwartal keempat 2025.

Kapadze jadi idola karena saya sudah mengamatinya secara seksama setelah Timnas Indonesia takluk dari tim Uzbekistan di semifinal Piala Asia U-23 2024.


John Merantau karena Koneksi Amerika Selatan

Cesar Meylan diperkenalkan di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa (13/1/2026). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Cara Kapadze membentuk tim Uzbekistan di semua kelompok umur sangat mirip dengan gaya Shin Tae-yong di Indonesia, hanya saja bahan baku pemain mereka lebih baik dalam hal teknik, ketahanan fisik, dan visi bermain kolektif.

Generasi emas Uzbekistan bermain bak golden generation Belanda 1988 yang sangat kohesif dari lini belakang hingga depan, bahkan di sisi kiri-kanan serta tengah. Konon fenomena ini hanya terjadi di sebuah negara setiap 25 tahun sekali.

Tidak percaya? Amati saja mereka saat tampil di Kanada-AS-Meksiko pada Piala Dunia Juni-Juli 2026 nanti meski sudah tidak ditangani Kapadze, melainkan oleh Fabio Cannavaro (Italia).

Soal Halgrimmsson pun saya punya catatan tersendiri, tapi akan saya bahas di kesempatan lain karena saya ingin kembali fokus membahas Herdman di tim nasional kita.

Eks pelatih timnas putra dan putri Kanada itu menurut sejumlah rekan wartawan saya di Manchester dan Glasgow punya nilai tesis sempurna (A) saat lulus ujian UEFA Pro License sekitar enam tahun silam kala menangani timnas putra Kanada.

Namun, bukan itu yang pertama kali membawa Herdman keluar dari daratan Inggris menuju Selandia Baru pada usia 31 tahun.

Saat itu menurut para kolega saya, ia pergi dengan penuh kegetiran karena dipandang sebelah mata oleh para pelatih senior di Inggris meski John menyandang predikat lulusan magna cum laude ilmu kebugaran dan olahraga profesional Universitas Northumbria.

Pendekatan akademik dan berbasis statistik miliknya dianggap tidak cocok untuk diterapkan di klub-klub Inggris utara semodel Sunderland dan Newcastle, bahkan untuk level kelompok usia muda di bawah 18-21 tahun sekalipun.

Berkat dorongan sejumlah pelatih muda yang berwawasan modern asal Brasil dan Argentina yang sempat ia temui di dua seri coaching clinic pada 2004 di Inggris, akhirnya ia memberanikan diri untuk melamar dengan mendorong curricullum vitae ke sejumlah asosiasi nasional UEFA dan negara-negara persemakmuran.


Terbiasa Memperbaiki Perpecahan Tim

Untuk tahap awal, John Herdman akan menukangi Tomnas Indonesia hingga 2027, dengan potensi penambahan hingga 2029. Tampak dalam foto, pelatih kepala tim nasional sepak bola Indonesia yang baru, John Herdman saat diperkenalkan dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa 13 Januari 2026. (AP Photo/Achmad Ibrahim)

 

Setelah itu kita tahu betapa gemilang Herdman di kawasan Oceania dan Amerika Utara. Ayah dua anak ini menjelma jadi guru spiritual, motivator, dan sekaligus maestro taktik yang pandai meracik tim secara makro dan mikro.

Perpecahan parah di internal tubuh timnas wanita Kanada berhasil diatasi hingga akhirnya dalam waktu kurang dari setahun gabungan pemain muda dan veteran, yang semula hampir pensiun, berhasil menjuarai PAN American Games di Meksiko.

Untuk memahami kehebatan Herdman, Anda pembaca tidak perlu jadi pengamat sepak bola berkaliber internasional. Amati saja lewat YouTube kiprah timnas putra Kanada di lima tahun era kepelatihannya sejak 2018, yang juga diawali dengan kondisi perpecahan tim yang akut seperti di timnas putri.

John berhasil mengubah mentalitas pemain Kanada dari sebuah tim yang selalu inferior saat menghadapi timnas AS menjadi tim pengendali tempo dan sanggup menjebak semua tipe lawan untuk masuk dalam perangkap dan akhirnya Kanada menang meski dengan skor tidak selalu mencolok.

Striker Kanada, Lucas Cavallini, dalam wawancara televisi Kanada lima tahun silam menyebut kelolosan mereka ke Piala Dunia 2022 di Qatar karena Herdman bukan hanya seorang orator ulung dan penebar “hasutan positif” saja tapi juga sangat detail dalam mengupas kelemahan lawan dan membeberkan cara mengambil keuntungan dari kekurangan-kekurangan para rival dengan cara yang kadang tidak terpikir para pemain dan asisten pelatih.


Kenapa Memanggil 41 Pemain dan Mencoret 17 Orang?

John Herdman resmi ditunjuk sebagai pelatih anyar Timnas Indonesia pada Sabtu (3/1/2026) sore WIB. Dia diikat kontrak 2 tahun, plus opsi perpanjangan 2 tahun. (Bola.com/Wiwig Prayugi)

Hanya dibutuhkan waktu tiga tahun bagi Herdman untuk menyulap Kanada dari sebuah tim yang tidak percaya diri menjadi peraih tiket piala dunia, kini ujian besar pertama pria bergaris rahang tegas itu di Indonesia adalah Piala Asia 2027.

Untuk memberi gambaran bahwa Garuda sudah masuk ke level elite Asia yang bisa masuk ke Piala Dunia 2030, di piala Asia tahun depan kita setidaknya harus sudah melangkah hingga - minimal - ke perempat final.

Singkatnya, pada 2027 tidak boleh lagi ada rival yang lebih hebat dari Indonesia di Asia kecuali Jepang, Iran, Korea Selatan, dan Australia.

Indonesia mampu melakukannya dengan empat tahapan yang terdiri dari elemen komunikasi data modern, sains, statistik, intelijen olah raga, dan tentunya sedikit keberuntungan.

Tanda-tanda ke arah manajemen canggih Timnas Indonesia sudah dimulai dengan pemanggilan dua tahap yang tidak pernah dilakukan oleh para pelatih Indonesa sejak era Alfred Riedl (2010) sekalipun.

Dua pekan berselang Herdman memanggil 41 pemain jelang dua laga FIFA Series 2006 pada akhir Maret ini, namun ia kemudian mencoret 17 orang di akhir pekan lalu.

Inilah salah satu taktik komunikasi data modern yang disokong juga asisten pelatih Cesar Meylan, seorang pakar gizi, pelatih fisik, sekaligus sports-scientist. Meylan adalah figur kunci di balik kesuksesan John meloloskan Kanada ke Qatar 2022.

Nah, dalam jeda lebih dari 10 hari di atas, sebanyak 41 nama yang disebutkan sebagai skuad sementara menjalin komunikasi intensif jarak jauh melibatkan rekaman digital kondisi fisik terbaru para pemain untuk mengukur bioritmik masing-masing di liga domestik maupun mancanegara.

Dalam selang sepekan, sejumlah pemain dengan rekaman medik terbaik telah menerima data-data generik kekuatan per—lini timnas lawan kita: St. Kitts-Nevis, Bulgaria, dan Kepulauan Solomon.

Jadi, para pemain kita bahkan telah mendapatkan hasil riset makro dan laporan intelijen olah raga saat mereka belum bergabung ke Senayan.

Kevin Diks (Moenchengladbach) dan Jay Idzes (Sassuolo), misalnya, sudah memegang sejumlah instruksi elektronik dari Herdman (Jakarta) yang juga berisi rekomendasi jumlah jam tidur minimal, asupan kalori, dan trik menyiasati kelelahan akibat penerbangan panjang dari Eropa.

Jangan Anda tanya dari mana saya mendapatkan informasi ini, pembaca. Bahkan Pak Erick Thohir pun tidak mencoba untuk mencari tahu dari mana sumber saya bukan?

Nah, mengingat kondisi Timnas Indonesia saat ini secara moral lebih baik ketimbang Kanada saat baru pertama kali mendapatkan sentuhan Herdman cs., rasanya hal-hal teknis mikro seperti di atas-lah yang akan menentukan seberapa besar persentase kemenangan Idzes di lapangan dalam kurun seribu hari ke depan.

Pesan saya untuk Herdman hanya satu saja: jangan terlalu mudah jatuh cinta dengan gocekan-gocekan pemain-pemain Liga Indonesia yang lebih dulu bergabung ke pemusatan latihan di pekan ini semodel Beckham Putra atau Yakob Sayuri.

Dalam persiapan jangka pendek yang berdurasi kurang dari tujuh hari yang dibutuhkan adalah kecerdasan dalam beradaptasi cepat dan visi bermain kolektif modern, bukan sekadar gocekan-gocekan ciamik pemikat mata saja.

Kita lihat apakah debut Herdman bakal sebaik performa awal Shin Tae-yong, Luis Milla, dan Alfred Riedl. Ketiga nama ini adalah pelatih yang menurut penulis sanggup langsung memberikan dampak kestabilan instan permainan yang seimbang, enak dilihat, dan maksimal memanfaatkan karakter bermain Indonesia yang dikenal cair serta ofensif.

Pada era 1980-an kita juga disegani di Asia karena karakter posiitif timnas menyeruak di bawah kendali dua almarhum pelatih lokal: Bertje Matulapelwa dan Sinyo Aliandoe.

Namun, saat itu pelatnas masih bersifat jangka panjang sehingga kecil kemungkinan pelatih mengalami jatuh cinta sesaat kepada beberapa pemain yang jago gocek saja, tapi ujungnya bisa berakibat buruk pada karakter tim secara keseluruhan.

Darojatun

VP Content Operations & Editor in Chief

Merdeka.com, Bola.com & Bola.net

 
 

Berita Terkait