Timnas Italia Gagal ke Piala Dunia 2026: Pertanda Hilangnya Sebuah Generasi

Skuad Gli Azzurri kembali gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun. Keterpurukan sedalam ini sebelumnya adalah sesuatu yang tidak terbayangkan bagi sepak bola Italia.

BolaCom | Benediktus Gerendo PradigdoDiterbitkan 01 April 2026, 13:15 WIB
Pemain Timnas Italia tertunduk lesu setelah kalah dari Bosnia-Herzegovina lewat drama adu penalti pada laga final playoff Piala Dunia 2026 di Stadion Bilino Polje, Zenica, Rabu (1/4/2026) dini hari WIB. Italia kembali gagal lolos ke putaran final Piala Dunia karena kekalahan ini. (AP Photo/Armin Durgut)

Bola.com, Jakarta - Pada 2018, kegagalan Timnas Italia menembus Piala Dunia di Rusia terasa seperti sebuah bencana monumental, mengingat mereka gagal lolos hanya 12 tahun setelah meraih gelar juara dunia keempatnya. Kini, 2026, mimpi buruk itu berlanjut.

Skuad Gli Azzurri kembali gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun. Keterpurukan sedalam ini sebelumnya adalah sesuatu yang tidak terbayangkan bagi sepak bola Italia.

Advertisement

Namun, hal ini telah menjadi kenyataan pahit setelah mereka takluk melalui adu penalti dari Bosnia-Herzegovina di final playoff Piala Dunia zona Eropa, menyusul hasil imbang 1-1 di waktu normal.

Nasib buruk Italia bermula ketika mereka hanya mampu finis di posisi kedua babak kualifikasi grup Piala Dunia 2026 zona Eropa. Mereka memenangkan hampir semua pertandingan, kecuali dua kekalahan dari Norwegia yang keluar sebagai juara Grup I.

Hasil tersebut memaksa Italia masuk ke babak playoff, di mana mereka diundi bersama Irlandia Utara, Wales, dan Bosnia-Herzegovina.

Gli Azzuri sempat menang 2-0 di laga semifinal melawan Irlandia Utara berkat gol dari Sandro Tonali dan Moise Kean. Namun, langkah mereka terhenti di final setelah kalah adu penalti dari Bosnia & Herzegovina akibat hasil imbang 1-1.

Pada akhirnya, Bosnia-Herzegovina yang hanya berada di peringkat ke-66 dunia yang berhak melaju ke Piala Dunia 2026, sebuah kelolosan yang diraih dengan mengorbankan Italia.


Petaka Kartu Merah dan Taktik yang Membingungkan

Bek Timnas Italia, Alessandro Bastoni, mendapatkan kartu merah dalam laga kontra Bosnia-Herzegovina pada final playoff Piala Dunia 2026. (Elvis BARUKCIC / AFP)

Italia tidak pernah terlihat benar-benar menguasai jalannya laga final playoff melawan Bosnia-Herzegovina, bahkan setelah mereka unggul lebih dulu lewat gol cepat Moise Kean. Gol itu menandai rekor enam pertandingan berturut-turut di mana Kean selalu mencetak gol, menyamai rekor timnas Italia.

Sepanjang kualifikasi Piala Dunia, pelatih Azzurri, Gennaro Gattuso, membuat keputusan yang membingungkan dengan menginstruksikan timnya untuk banyak memainkan umpan jauh, padahal banyak pemain paling berbakat mereka berposisi di lini tengah.

Ia membuat Italia terus-menerus melewatkan peran pemain seperti Sandro Tonali, Manuel Locatelli, dan Nicolo Barella demi pendekatan serangan langsung.

Momen penentu dalam laga tersebut terjadi tepat sebelum turun minum. Alessandro Bastoni, yang sering dianggap sebagai bek terbaik bahkan mungkin pemain non-kiper terbaik mereka, melakukan pelanggaran konyol.

Setelah tendangan gawang Gianluigi Donnarumma jatuh langsung ke kaki lawan di lini tengah, Bosnia melancarkan serangan balik yang membuat Amar Memic berlari bebas menuju gawang dengan dikejar oleh dua bek Italia.

Bastoni menebasnya hingga terjatuh, dan wasit Clement Turpin dengan tepat mengusir bek Italia tersebut, memberikan kartu merah langsung karena menggagalkan peluang emas mencetak gol.

Ini memaksa Italia harus mempertahankan keunggulan dengan 10 pemain selama lebih dari separuh babak pertandingan.

Bosnia-Herzegovina sudah unggul tembakan 9-2 pada saat kartu merah dikeluarkan, dan ketimpangan itu makin membesar saat mereka terus menekan untuk menyamakan kedudukan.

Mereka akhirnya berhasil membalas pada menit ke-79 melalui gol tap-in kemelut dari Haris Tabakovic, yang memaksa laga berlanjut ke babak perpanjangan waktu.

Tidak ada tim yang mampu mencetak gol kemenangan, pemenang harus ditentukan lewat adu penalti. Di sinilah kerja keras Italia runtuh.

Tendangan pertama dari Francesco Esposito membentur tiang gawang, dan setelah Tonali berhasil mengeksekusi penaltinya, tendangan Bryan Cristante justru melenceng dari sasaran.

Meskipun Italia memiliki kiper hebat sekelas Donnarumma, Bosnia-Herzegovina berhasil mengeksekusi keempat tendangan mereka dengan sempurna dan melaju ke Piala Dunia 2026.


Hilangnya Satu Generasi Emas Sepak Bola Italia

Bosnia dan Herzegovina menyingkirkan Italia setelah menang adu penalti 4-1 dalam final play-off kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa. (AP Photo/Armin Durgut)

Bencana kegagalan kualifikasi Piala Dunia ketiga berturut-turut ini berarti Italia akan melewati setidaknya 16 tahun tanpa satu pun penampilan di turnamen FIFA tersebut, di mana mereka terakhir kali berpartisipasi pada 2014.

Ini berarti ada satu generasi penuh pemain berbakat yang berpotensi melewatkan aksi di panggung Piala Dunia. Gianluigi Donnarumma yang kini berusia 27 tahun baru berumur 15 tahun saat Italia terakhir kali berlaga di Piala Dunia.

Meskipun ia, sebagai seorang penjaga gawang, kemungkinan besar masih akan bermain di puncak kariernya pada turnamen berikutnya, ada banyak pemain non-kiper yang tidak akan memiliki kesempatan serupa.

Alessandro Bastoni akan berusia 30 tahun saat Piala Dunia 2030 bergulir. Sandro Tonali akan berusia 29 tahun, dan Nicolo Barella akan menginjak usia 33 tahun.

Pemain lain seperti Moise Kean, Gianluca Scamacca, Giacomo Raspadori, Mateo Retegui, Federico Dimarco, dan Manuel Locatelli semuanya akan berusia setidaknya 30 tahun, usia di mana tidak ada lagi jaminan performa puncak dalam sepak bola profesional.

Kehilangan satu generasi bakat ini membawa risiko besar bagi keberlangsungan jangka panjang program tim nasional mereka.

Tim yang dulunya selalu menjadi penantang gelar Piala Dunia ini kini berjuang keras untuk menghasilkan talenta kelas dunia, yang jelas-jelas merusak kemampuan mereka untuk meraih hasil positif di lapangan.

Kini, Azzurri tidak lagi sekadar berisiko disalip oleh negara-negara Eropa lainnya, mereka sudah benar-benar tertinggal. Dan bahaya terbesarnya saat ini adalah, apakah mereka mampu untuk bangkit dan kembali ke panggung utama.

Sumber: Sporting News

Berita Terkait