Bola.com, Jakarta - Air mata mengalir di lapangan Stadion Bilino Polje, Zenica, Rabu (1-4-2026) dini hari WIB.
Di belakang gawang tempat adu penalti berakhir, kelompok suporter garis keras Bosnia membentangkan koreografi bergambar visa Amerika Serikat, simbol bahwa mereka akan tampil di Piala Dunia 2026.
Sementara itu, para pemain Timnas Italia hanya bisa berdiri terpaku, saling menghibur, bahkan menangis di tengah perayaan lawan.
"Ini mimpi buruk," ujar Leonardo Spinazzola dengan mata berkaca-kaca.
"Saya sudah sembilan tahun di tim nasional, tapi belum pernah main di Piala Dunia. Ini menyakitkan. Untuk Italia. Untuk kami."
Rekan-rekannya memilih diam. Termasuk kapten Gianluigi Donnarumma.
Kekecewaan, kemarahan, dan rasa tidak percaya bercampur jadi satu, terlebih dengan kepemimpinan wasit Clement Turpin, sosok yang juga memimpin kekalahan Italia dari Makedonia Utara pada semifinal play-off Piala Dunia 2022.
Mencoba Tegar
Di ruang konferensi pers, Gennaro Gattuso tampak menahan emosi. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba tetap tegar di tengah tekanan.
Ia meminta maaf kepada sekitar 500 suporter yang datang langsung ke Zenica dan jutaan pendukung di tanah air.
"Ini menyakitkan," katanya singkat.
Gattuso tetap membela anak asuhnya.
"Sudah lama saya tidak melihat tim nasional bermain dengan hati seperti ini," ujarnya.
Namun, ia mengakui dua momen krusial: kartu merah Alessandro Bastoni sebelum jeda, serta peluang emas Moise Kean yang gagal menggandakan keunggulan saat tim bermain dengan 10 orang.
Detail Kecil, Dampak Besar
Kegagalan ini menandai untuk pertama kalinya Italia, tim empat kali juara dunia, absen dalam tiga edisi Piala Dunia beruntun. Namun, kejatuhan ini tidak hanya soal satu pertandingan, melainkan rangkaian momen kecil yang berujung fatal.
Pada 2017, Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) dan pemain gagal mengambil keputusan tegas untuk mengganti pelatih Gian Piero Ventura sebelum play-off melawan Swedia. Pada 2022, dua penalti yang gagal dieksekusi Jorginho melawan Swiss menjadi pembeda antara lolos langsung atau tidak.
Kali ini, cerita serupa terulang.
Di ruang pers yang sempit di Zenica, Gattuso duduk bersama Presiden FIGC, Gabriele Gravina dan kepala delegasi, Gianluigi Buffon. Ketiganya sadar tuntutan mundur akan datang.
Buffon tampak terpukul. Ia pernah merasakan awal trauma ini sembilan tahun lalu, saat Italia gagal lolos setelah kalah dari Swedia, laga yang diwarnai gol pantulan Jakob Johansson yang mengenai Daniele De Rossi.
Buffon pula yang menunjuk Gattuso sebagai pelatih musim panas lalu. Keputusan itu sempat menimbulkan keraguan, mengingat pengalaman Gattuso yang terbatas sebagai pelatih di level tertinggi.
"Kami senang ada yang melihat perkembangan tim," kata Buffon.
"Tapi, tujuan utama kami adalah lolos ke Piala Dunia," imbuhnya.
Ia menegaskan FIGC tidak akan terburu-buru mengambil keputusan.
"Musim berakhir pada Juni, dan sampai saat itu saya akan tetap menjalankan tugas," ujar mantan kiper andalan Italia itu.
Tak Ada yang Mundur
Tak satu pun dari mereka mengundurkan diri. Di Italia, hal ini memicu kritik. Gravina tetap bertahan, seperti setelah kegagalan 2022 dan penampilan buruk di Piala Eropa 2024.
Sebagai sosok kunci di balik kebijakan FIGC, banyak yang mempertanyakan bagaimana Italia bisa keluar dari siklus kegagalan jika kepemimpinan tidak berubah.
Gravina justru memilih memuji perjuangan pemain.
"Gattuso menyebut mereka heroik," katanya.
Italia sempat bertahan, meski bermain dengan 10 orang dan terus ditekan. Mereka bertahan hingga adu penalti, berharap Donnarumma kembali menjadi pahlawan seperti di Piala Eropa 2021. Namun, harapan itu pupus setelah Francesco Pio Esposito dan Bryan Cristante gagal mengeksekusi penalti.
"Gattuso adalah pelatih hebat," ujar Gravina.
"Saya meminta dia dan Buffon untuk tetap bertahan," imbuhnya.
Bagi sebagian pihak, ini adalah kesabaran. Bagi yang lain, ini tanda kebimbangan di tengah krisis besar yang diakui sendiri oleh Gravina.
Ada Perbaikan, Hasil Tak Mengikuti
Ironisnya, sepak bola Italia sebenarnya tidak sepenuhnya stagnan. Reformasi terus dilakukan sejak kegagalan 2010 dan 2014.
Arrigo Sacchi dilibatkan untuk membina pelatih muda, kelompok usia diperluas, dan klub-klub Serie A diizinkan memiliki tim kedua di divisi bawah.
Hasilnya mulai terlihat. Italia menjuarai Piala Eropa U-17 pada 2024 dan U-19 pada 2023. Nama-nama muda seperti Francesco Camarda dan Michael Kayode muncul sebagai harapan baru.
Di level klub, kondisi juga membaik. Kepemilikan klub lebih stabil, dan proyek infrastruktur seperti pembangunan stadion baru San Siro serta renovasi Stadion Artemio Franchi mulai berjalan.
Namun, semua kemajuan itu seakan tertutup oleh kegagalan timnas.
Tragedi yang Terus Berulang
Ketika Italia gagal lolos ke Piala Dunia pada 2017, mantan Presiden FIGC, Carlo Tavecchio, menyebutnya sebagai "kiamat".
Namun, kini, kiamat itu datang tiga kali.
Dalam dunia film, trilogi sering menjadi puncak cerita. Tetapi bagi Italia, ini adalah trilogi tragedi, kisah tentang bagaimana negara dengan empat gelar juara dunia kini bahkan kesulitan mencapai panggung terbesar sepak bola.
Sumber: The Athletic