Kiamat Ketiga Italia, Mengapa Juara Dunia Empat Kali Kini Gagal Lolos?

Juara dunia empat kali kini tidak mampu lolos ke Piala Dunia. Mengapa?

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 02 April 2026, 08:45 WIB
Sebelumnya, selama 120 menit waktu pertandingan, kedua timnas bermain imbang 1-1. Tampak dalam foto, ekspresi pemain Timnas Italia, Pio Esposito, setelah gagal mengeksekusi tendangan penalti selama pertandingan final play-off kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Bosnia dan Herzegovina di Stadion Bilino Polje, Zenica, Selasa 31 Maret 2026 waktu setempat atau Rabu 1 April 2026 dini hari WIB. (Fabio Ferrari/LaPresse via AP)

Bola.com, Jakarta - Air mata mengalir di lapangan Stadion Bilino Polje, Zenica, Rabu (1-4-2026) dini hari WIB.

Di belakang gawang tempat adu penalti berakhir, kelompok suporter garis keras Bosnia membentangkan koreografi bergambar visa Amerika Serikat, simbol bahwa mereka akan tampil di Piala Dunia 2026.

Advertisement

Sementara itu, para pemain Timnas Italia hanya bisa berdiri terpaku, saling menghibur, bahkan menangis di tengah perayaan lawan.

"Ini mimpi buruk," ujar Leonardo Spinazzola dengan mata berkaca-kaca.

"Saya sudah sembilan tahun di tim nasional, tapi belum pernah main di Piala Dunia. Ini menyakitkan. Untuk Italia. Untuk kami."

Rekan-rekannya memilih diam. Termasuk kapten Gianluigi Donnarumma.

Kekecewaan, kemarahan, dan rasa tidak percaya bercampur jadi satu, terlebih dengan kepemimpinan wasit Clement Turpin, sosok yang juga memimpin kekalahan Italia dari Makedonia Utara pada semifinal play-off Piala Dunia 2022.


Mencoba Tegar

Sebelumnya, pada putaran final Piala Dunia 2018 dan 2022, Gli Azzurri gagal tampil. Tampak dalam foto, ekspresi pemain Timnas Italia setelah kalah dalam pertandingan final play-off kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Bosnia dan Herzegovina di Stadion Bilino Polje, Zenica, Selasa 31 Maret 2026 waktu setempat atau Rabu 1 April 2026 dini hari WIB. (Fabio Ferrari/LaPresse via AP)

Di ruang konferensi pers, Gennaro Gattuso tampak menahan emosi. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba tetap tegar di tengah tekanan.

Ia meminta maaf kepada sekitar 500 suporter yang datang langsung ke Zenica dan jutaan pendukung di tanah air.

"Ini menyakitkan," katanya singkat.

Gattuso tetap membela anak asuhnya.

"Sudah lama saya tidak melihat tim nasional bermain dengan hati seperti ini," ujarnya.

Namun, ia mengakui dua momen krusial: kartu merah Alessandro Bastoni sebelum jeda, serta peluang emas Moise Kean yang gagal menggandakan keunggulan saat tim bermain dengan 10 orang.


Detail Kecil, Dampak Besar

Dua pemain Timnas Italia, Marco Palestra dan Leonardo Spinazzola, saling menghibur diri setelah Gli Azzurri dipastikan gagal melangkah ke Piala Dunia 2026. Timnas Italia kalah dari Bosnia-Herzegovina melalui drama adu penalti dalam laga final playoff Piala Dunia 2026, Rabu (1/4/2026) dini hari WIB. (AP Photo/Armin Durgut)

Kegagalan ini menandai untuk pertama kalinya Italia, tim empat kali juara dunia, absen dalam tiga edisi Piala Dunia beruntun. Namun, kejatuhan ini tidak hanya soal satu pertandingan, melainkan rangkaian momen kecil yang berujung fatal.

Pada 2017, Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) dan pemain gagal mengambil keputusan tegas untuk mengganti pelatih Gian Piero Ventura sebelum play-off melawan Swedia. Pada 2022, dua penalti yang gagal dieksekusi Jorginho melawan Swiss menjadi pembeda antara lolos langsung atau tidak.

Kali ini, cerita serupa terulang.

Di ruang pers yang sempit di Zenica, Gattuso duduk bersama Presiden FIGC, Gabriele Gravina dan kepala delegasi, Gianluigi Buffon. Ketiganya sadar tuntutan mundur akan datang.

Buffon tampak terpukul. Ia pernah merasakan awal trauma ini sembilan tahun lalu, saat Italia gagal lolos setelah kalah dari Swedia, laga yang diwarnai gol pantulan Jakob Johansson yang mengenai Daniele De Rossi.

Buffon pula yang menunjuk Gattuso sebagai pelatih musim panas lalu. Keputusan itu sempat menimbulkan keraguan, mengingat pengalaman Gattuso yang terbatas sebagai pelatih di level tertinggi.

"Kami senang ada yang melihat perkembangan tim," kata Buffon.

"Tapi, tujuan utama kami adalah lolos ke Piala Dunia," imbuhnya.

Ia menegaskan FIGC tidak akan terburu-buru mengambil keputusan.

"Musim berakhir pada Juni, dan sampai saat itu saya akan tetap menjalankan tugas," ujar mantan kiper andalan Italia itu.


Tak Ada yang Mundur

Pemain Italia, Marco Palestra, tak kuasa menahan tangis setelah ditaklukkan Bosnia dan Herzegovina laga final play-off kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa di Stadion Bilino Polje, Zenica, Rabu 1 April 2026 dini hari WIB. (AP Photo/Armin Durgut)

Tak satu pun dari mereka mengundurkan diri. Di Italia, hal ini memicu kritik. Gravina tetap bertahan, seperti setelah kegagalan 2022 dan penampilan buruk di Piala Eropa 2024.

Sebagai sosok kunci di balik kebijakan FIGC, banyak yang mempertanyakan bagaimana Italia bisa keluar dari siklus kegagalan jika kepemimpinan tidak berubah.

Gravina justru memilih memuji perjuangan pemain.

"Gattuso menyebut mereka heroik," katanya.

Italia sempat bertahan, meski bermain dengan 10 orang dan terus ditekan. Mereka bertahan hingga adu penalti, berharap Donnarumma kembali menjadi pahlawan seperti di Piala Eropa 2021. Namun, harapan itu pupus setelah Francesco Pio Esposito dan Bryan Cristante gagal mengeksekusi penalti.

"Gattuso adalah pelatih hebat," ujar Gravina.

"Saya meminta dia dan Buffon untuk tetap bertahan," imbuhnya.

Bagi sebagian pihak, ini adalah kesabaran. Bagi yang lain, ini tanda kebimbangan di tengah krisis besar yang diakui sendiri oleh Gravina.


Ada Perbaikan, Hasil Tak Mengikuti

Ekspresi Gennaro Gattuso usai Timnas Italia gagal melaju ke Piala Dunia 2026 usai ditaklukkan Timnas Bosnia dan Herzegovina di Bilino Polje, Zenica, Rabu (01/04/2026) dini hari WIB. (Fabio Ferrari/LaPresse via AP)

Ironisnya, sepak bola Italia sebenarnya tidak sepenuhnya stagnan. Reformasi terus dilakukan sejak kegagalan 2010 dan 2014.

Arrigo Sacchi dilibatkan untuk membina pelatih muda, kelompok usia diperluas, dan klub-klub Serie A diizinkan memiliki tim kedua di divisi bawah.

Hasilnya mulai terlihat. Italia menjuarai Piala Eropa U-17 pada 2024 dan U-19 pada 2023. Nama-nama muda seperti Francesco Camarda dan Michael Kayode muncul sebagai harapan baru.

Di level klub, kondisi juga membaik. Kepemilikan klub lebih stabil, dan proyek infrastruktur seperti pembangunan stadion baru San Siro serta renovasi Stadion Artemio Franchi mulai berjalan.

Namun, semua kemajuan itu seakan tertutup oleh kegagalan timnas.

 


Tragedi yang Terus Berulang

Pemain Timnas Italia tertunduk lesu setelah kalah dari Bosnia-Herzegovina lewat drama adu penalti pada laga final playoff Piala Dunia 2026 di Stadion Bilino Polje, Zenica, Rabu (1/4/2026) dini hari WIB. Italia kembali gagal lolos ke putaran final Piala Dunia karena kekalahan ini. (AP Photo/Armin Durgut)

Ketika Italia gagal lolos ke Piala Dunia pada 2017, mantan Presiden FIGC, Carlo Tavecchio, menyebutnya sebagai "kiamat".

Namun, kini, kiamat itu datang tiga kali.

Dalam dunia film, trilogi sering menjadi puncak cerita. Tetapi bagi Italia, ini adalah trilogi tragedi, kisah tentang bagaimana negara dengan empat gelar juara dunia kini bahkan kesulitan mencapai panggung terbesar sepak bola.

 

Sumber: The Athletic

Berita Terkait