Italia Kembali Gagal ke Piala Dunia, Ini 5 Penyebab Utamanya

Lima alasan Italia gagal lolos ke Piala Dunia tiga kali berturut-turut.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 02 April 2026, 13:00 WIB
Sebelumnya, pada putaran final Piala Dunia 2018 dan 2022, Gli Azzurri gagal tampil. Tampak dalam foto, ekspresi pemain Timnas Italia setelah kalah dalam pertandingan final play-off kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Bosnia dan Herzegovina di Stadion Bilino Polje, Zenica, Selasa 31 Maret 2026 waktu setempat atau Rabu 1 April 2026 dini hari WIB. (Fabio Ferrari/LaPresse via AP)

Bola.com, Jakarta - Timnas Italia kembali gagal menembus putaran final Piala Dunia. Kekalahan adu penalti dari Bosnia-Herzegovina, tim yang berada di peringkat ke-66 dunia, dalam final play-off kualifikasi Eropa memastikan juara dunia empat kali itu absen untuk ketiga kalinya secara beruntun.

Hasil ini memperpanjang catatan buruk Gli Azzurri setelah tersingkir di fase yang sama, play-off Eropa, oleh Swedia jelang Piala Dunia 2018 dan oleh Makedonia Utara pada 2022.

Advertisement

Dengan demikian, Italia kembali gagal tampil di turnamen yang tahun ini digelar di Amerika Utara.

Lalu, apa penyebab kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia hingga tiga edisi beruntun?

Berikut analisis lima faktor utama di balik keterpurukan Italia versi AP.


1. Generasi Emas Sudah Lama Berlalu

Pemain bernomor punggung 21 tersebut menjadi andalan timnas Italia pada periode 2002 hingga 2015. Sang pemain memperkuat Gli Azzurri dalam 117 pertandingan dengan koleksi 13 gol dan 23 assist. (AFP/ Daniel Garcia)

Nama-nama besar seperti Alessandro Del Piero, Francesco Totti, dan Andrea Pirlo pernah menjadi tulang punggung saat Italia menjuarai Piala Dunia 2006.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Italia dinilai tidak lagi memiliki pemain dengan level yang setara.

Saat ini, gelandang Sandro Tonali menjadi pemain termahal dalam skuad setelah direkrut Newcastle pada 2023 dengan nilai sekitar 80 juta euro.

Selain itu, hanya penjaga gawang Gianluigi Donnarumma yang dianggap berada di level kelas dunia.

Di lini depan, Italia mengandalkan penyerang kelahiran Argentina, Mateo Retegui, serta Moise Kean yang kini bermain untuk Fiorentina.


2. Liga Italia Tak Lagi Jadi Magnet Utama

Pemain AC Milan, Luka Modric, berjabat tangan dengan pelatih AC Milan, Massimiliano Allegri, usai ditarik keluar pada laga Liga Italia antara AC Milan vs Verona di Milan, Italia, Minggu, 28 Desember 2025. (AP Photo/Luca Bruno)

Pada era 1980-an hingga 1990-an, Liga Italia dianggap sebagai yang terbaik di dunia. Bintang-bintang seperti Diego Maradona, Marco van Basten, dan Ruud Gullit datang saat berada di puncak karier.

Terakhir kali pemain berbasis di Italia meraih penghargaan pemain terbaik dunia adalah Kaka bersama AC Milan pada 2007.

Kini, justru banyak pemain veteran yang datang untuk menutup karier, seperti Luka Modric dan Jamie Vardy. Dampaknya, kualitas liga menurun dan berimbas langsung pada performa timnas.

Dominasi klub-klub tertentu juga meredup. Juventus, yang dulu menjadi tulang punggung tim nasional, belum lagi menjuarai liga sejak 2020. Bahkan, tidak ada satu pun pemain AC Milan dalam skuad play-off terakhir.


3. Tenis Mulai Menggeser Popularitas Sepak Bola

Jannik Sinner. (MATTHEW STOCKMAN / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Prestasi Jannik Sinner turut mengubah lanskap olahraga di Italia. Makin banyak anak muda yang beralih ke tenis, meninggalkan kebiasaan bermain sepak bola di jalanan.

Data Nielsen menunjukkan pada 2025 sebanyak 21,6 juta warga Italia mengaku sebagai penggemar sepak bola, sementara 19,9 juta lainnya mengikuti tenis dan padel, angka yang kian dekat.

Italia juga meraih kesuksesan di ajang lain, termasuk di Formula 1 melalui pembalap muda, Kimi Antonelli, yang memenangi dua balapan terakhir, serta pencapaian terbaik dalam Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina.

"Hal seperti ini terjadi dalam siklus," kata Gennaro Gattuso, pelatih Timnas Italia.

"Ketika saya melihat kami menang di olahraga lain, itu memotivasi saya dan membuat bangga. Tapi, saat ini, sejarah kami menunjukkan bahwa kami sedang kesulitan," imbuhnya.


4. Minim Dukungan Suporter

Fans bersorak setelah timnas Italia membuka skor, saat mereka menonton di sebuah bar di Roma pada laga pertama grup A Euro 2020 /2021, Jumat (11/6/2021). Timnas Italia berhasil menang 3-0 atas Turki. (ANDREAS SOLARO/AFP)

Berbeda dengan klub-klub Italia yang memiliki kelompok suporter fanatik atau ultras, timnas tidak selalu mendapat dukungan serupa.

Gattuso bahkan memilih memainkan laga play-off di Bergamo yang berkapasitas lebih kecil ketimbang San Siro.

Ia menilai atmosfer di stadion besar tidak selalu mendukung, bahkan terkadang justru diwarnai siulan terhadap pemain.

"Begitu ada umpan yang salah, Anda langsung mendengar siulan," ujarnya.


5. Infrastruktur Stadion Tertinggal

Pemandangan umum (a general view) menunjukkan Stadion San Siro yang kosong menjelang pertandingan sepak bola Serie A Italia antara Inter Milan dan Empoli di Milan, pada 1 April 2024. (Piero CRUCIATTI/AFP)

Italia juga tertinggal dibanding negara Eropa lain dalam hal pembangunan stadion modern.

Dua raksasa, AC Milan dan Inter, baru saja membeli San Siro dari pemerintah kota untuk dibongkar dan dibangun ulang menjelang Euro 2032 yang akan digelar bersama Turki. Sementara itu, AS Roma masih berupaya mendapatkan izin untuk membangun stadion baru setelah tertunda lebih dari satu dekade.

Saat ini, hanya Juventus yang memiliki dan mengoperasikan stadion modern sendiri.

Keterbatasan ini membuat klub-klub Italia kesulitan bersaing secara finansial dengan rival dari luar negeri, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas liga, dan berimbas pada performa timnas.

 

Sumber: AP News

Berita Terkait