Usai Mundur, Gravina Bongkar Krisis Sepak Bola Italia dan Beri Solusi, Sudah Terlambat?

Presiden FIGC yang mengundurkan diri, Gabriele Gravina, menerbitkan laporan tentang krisis sepak bola Italia dan cara memperbaikinya.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 09 April 2026, 07:15 WIB
Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Gabriele Gravina, menghadiri konferensi pers di markas tim di Iserlohn, pada 30 Juni 2024, setelah mereka tersingkir oleh Swiss dalam pertandingan babak 16 besar Euro 2024. (Alberto PIZZOLI/AFP)

Bola.com, Jakarta - Gabriele Gravina tetap memaparkan kondisi terkini sepak bola Italia beserta sejumlah solusi yang diusulkannya, meski telah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC).

Gravina mundur pekan lalu setelah kegagalan Timnas Italia lolos dari babak play-off Piala Dunia 2026.

Advertisement

Di bawah kepemimpinannya, Italia sempat menjuarai Piala Eropa 2020, tetapi juga dua kali gagal menembus putaran final Piala Dunia.

Kendati telah mengajukan pengunduran diri, Gravina masih menjalankan tugas administratif hingga penggantinya terpilih pada 22 Juni mendatang.

Pada Rabu kemarin, ia tetap merilis laporan yang sejatinya akan dipresentasikan di parlemen Italia, pekan lalu. Agenda tersebut batal terlaksana setelah dirinya mundur dari jabatan.

Gravina menyampaikan dokumen itu "dengan harapan dapat mendorong refleksi dan analisis yang lebih mendalam, termasuk dari mereka yang dalam beberapa hari terakhir turut menambah opini di tengah banyaknya pihak yang merasa memiliki solusi".


Bukan Persoalan Baru

Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Gabriele Gravina, meninggalkan markas FIGC setelah pertemuan otoritas sepak bola Italia, di Roma pada 2 April 2026. (AFP/Alberto Pizzoli)

Gravina menegaskan bahwa persoalan sepak bola Italia bukan hal baru.

"Masalah-masalah kritis sepak bola Italia sudah dikenal selama bertahun-tahun dan telah disorot dalam berbagai dokumen resmi. Perbedaannya hanya pada data statistik yang terus memburuk, yang menegaskan bahwa ini sebagian besar merupakan kekurangan struktural," ujarnya.

Menurut Gravina, jika ingin memperbaiki kondisi secara menyeluruh, perlu ada kejelasan tanggung jawab antara federasi, liga, dan lembaga publik.

"Jika kita benar-benar menginginkan yang terbaik bagi sepak bola Italia sebagai sebuah gerakan olahraga, perlu memperjelas tanggung jawab nyata antara federasi, liga, dan institusi publik. Terlalu banyak ketidakakuratan, bahkan kebohongan, yang memicu pencarian kambing hitam dan menyebarkan kesalahpahaman," katanya.

Ia juga menilai bahwa hasil positif justru terlihat pada sektor yang berada di bawah kendali penuh federasi, seperti program keberlanjutan sosial dan lingkungan, proyek usia muda dan sekolah, serta pengembangan timnas kelompok umur.

"Sebaliknya, di area di mana kepentingan berbagai pihak tumpang tindih hingga melumpuhkan sistem, justru tidak berjalan optimal," lanjutnya.


Persoalan Klasik

Serie A - Ilustrasi logo Serie A. (Bola.com/Adreanus Titus)

Dalam laporan tersebut, Gravina kembali menyoroti sejumlah persoalan klasik di Serie A, termasuk minimnya pemain lokal yang layak memperkuat timnas, tingginya rata-rata usia pemain, serta besarnya jumlah pemain asing di kasta tertinggi.

Ia menyoroti kurangnya investasi di sektor usia muda, dengan data yang menunjukkan bahwa "Italia berada di peringkat ke-49 dari 50 liga yang dipantau untuk persentase menit bermain pemain U-21 yang memenuhi syarat tim nasional, hanya sebesar 1,9 persen".

Selain itu, laporan tersebut mencatat bahwa "Serie A tidak termasuk 10 liga teratas dalam hal jarak sprint" dan bahwa "rata-rata kecepatan bola (7,6 meter per detik) jauh lebih rendah dibanding rata-rata Liga Champions (10,4) serta liga-liga top Eropa lainnya (9,2)".

Gravina menegaskan bahwa menetapkan kuota minimum pemain Italia di Serie A adalah hal yang idak mungkin karena akan melanggar prinsip kebebasan bergerak tenaga kerja dalam olahraga profesional.


Minim Dukungan Finansial

(kiri-kanan) Pemain Italia Giovanni Di Lorenzo, Presiden Federasi Sepak Bola Italia Gabriele Gravina, Manuel Locatelli dan Giacomo Raspadori menghadiri sesi latihan jelang pertandingan semifinal UEFA Nations League melawan Spanyol di Stadion San Siro, Milan, Italia, 5 Oktober 2021. (FRANCK FIFE/AFP)

Ia juga menyoroti padatnya jadwal pertandingan yang menyulitkan timnas untuk memiliki waktu latihan di luar kalender internasional, serta minimnya dukungan finansial dari pemerintah.

Menurutnya, sepak bola Italia tidak mendapatkan alokasi dana, bahkan untuk penyelenggaraan Piala Eropa 2032. Sementara itu, ajang lain seperti Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina, Piala Amerika di Napoli, dan Pesta Olahraga Mediterania di Taranto justru menerima pendanaan miliaran.

Sebagai solusi, Gravina kembali mengusulkan agar sebagian pendapatan dari industri taruhan dialokasikan untuk sepak bola, terutama guna pengembangan pemain muda dan infrastruktur.

Ia juga mengusulkan kredit pajak serta penerapan kembali skema pajak khusus bagi tenaga profesional dari luar negeri, yang dikenal sebagai Dekret Pertumbuhan.


Stadion dan Restrukturisasi Kompetisi

Pemandangan umum stadion sebelum pertandingan Serie A Italia antara AC Milan dan Parma di Stadion San Siro di Milan, pada tanggal 26 Januari 2025. (Piero CRUCIATTI/AFP)

Selain itu, ia mendorong pencabutan larangan iklan dan sponsor dari operator taruhan, serta dukungan nyata untuk pembangunan stadion baru maupun renovasi stadion lama.

Gravina menambahkan bahwa pembenahan teknis di level usia muda sudah mulai berjalan di bawah koordinasi Maurizio Viscidi, dengan penekanan lebih besar pada aspek teknik dibanding taktik.

Ia juga menekankan pentingnya restrukturisasi kompetisi dari kasta teratas hingga terbawah, dari Serie A hingga Serie D, serta reformasi di sektor perwasitan.

"Tanpa kemauan kuat dan kesepakatan bersama untuk menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan individu, serta peran politik dalam menyediakan kondisi dan alat yang diperlukan, tidak ada satu pun individu yang mampu mewujudkan kebangkitan sepak bola Italia secara utuh,” ujar Gravina.

 

Sumber: Football Italia

Berita Terkait