Rahasia Shakhtar Donetsk: Mengapa Klub Ukraina Ini Dapat Label Kolektor Bintang Brasil?

Shakhtar Donetsk kembali menjadi sorotan saat tampil di perempat final UEFA Europa Conference League. Bukan hanya karena performa mereka di lapangan, tetapi juga karena komposisi skuad yang didominasi pemain asal Brasil.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 12 April 2026, 20:45 WIB
Willian

Bola.com, Jakarta - Shakhtar Donetsk kembali menjadi sorotan saat tampil di perempat final UEFA Europa Conference League. Bukan hanya karena performa mereka di lapangan, tetapi juga karena komposisi skuad yang didominasi pemain asal Brasil.

Dalam laga melawan AZ Alkmaar, Shakhtar bahkan menurunkan tujuh pemain Brasil sejak menit awal. Situasi ini memicu perbincangan luas di media sosial mengenai kebijakan transfer unik klub tersebut.

Advertisement

Fenomena ini sejatinya bukan hal baru. Selama lebih dari dua dekade terakhir, Shakhtar dikenal konsisten merekrut talenta muda Brasil dan mengembangkannya menjadi bintang besar di Eropa.

Strategi ini bukan hanya soal gaya bermain, tetapi juga menjadi fondasi bisnis klub yang terbukti sangat menguntungkan.

 


Dari Alisson Santana hingga Isaque, Regenerasi Tak Pernah Putus

Pemain Brasil yang saat ini sedang bermain untuk FC Shakhtar dikabarkan sedang menunggu panggilan dari pelatih Manchester City, Pep Guardiola untuk memperkuat barisan tengah Manchester City. (AFP/Alexander Khudoteply)

Dalam skuad terkini, nama-nama seperti Alisson Santana dan Isaque Silva menjadi contoh nyata regenerasi pemain Brasil di tubuh Shakhtar.

Isaque bahkan sempat diminati Manchester City dan Liverpool sebelum akhirnya memilih bergabung dengan klub Ukraina tersebut.

Selain itu, ada pula Eguinaldo yang masuk radar klub-klub besar Eropa seperti AS Roma dan Atletico Madrid.

Total, sejak 2002, Shakhtar telah merekrut 47 pemain Brasil yang berkontribusi lebih dari 1.000 gol, angka yang mencerminkan keberhasilan luar biasa dari strategi tersebut.

 


Jejak Sukses: Dari Willian hingga Mudryk

5. Fred (Shakhtar Donetsk) - Diberitakan ESPN, Manchester City akan coba menawar gelandang asal Brasil ini 40 juta poundsterling. CEO Manchester City, Khaldoon Al Mubarak, akan menjadikannya pengganti dari Yaya Toure. (AFP/Kenzo Tribouillard)

Strategi ini telah melahirkan banyak pemain top yang kemudian hijrah ke liga-liga elite Eropa. Nama-nama seperti Willian, Fernandinho, Fred, hingga Mykhailo Mudryk menjadi contoh sukses “produk” Shakhtar.

Mereka tidak hanya berkembang di Ukraina, tetapi juga mencatatkan transfer bernilai tinggi ke klub-klub besar, terutama di Premier League.

Model bisnis ini membuat Shakhtar dikenal sebagai salah satu klub paling cerdas dalam mengelola talenta muda, khususnya dari Brasil.

 


Peran Besar Akhmetov dan Lucescu

Kebijakan ini tidak lepas dari peran presiden klub, Rinat Akhmetov, yang sejak lama mengagumi gaya bermain sepak bola Brasil.

Selain itu, mantan pelatih legendaris Mircea Lucescu juga berperan besar dalam mengembangkan filosofi ini. Ia mendorong pendekatan pembinaan pemain muda dengan fokus pada pengembangan jangka panjang.

Pendekatan ini terbukti efektif karena pemain diberi waktu untuk berkembang tanpa tekanan hasil instan.

 


Platform Menuju Eropa, Meski di Tengah Perang

CEO Shakhtar, Sergei Palkin, menjelaskan bahwa klubnya menawarkan platform ideal bagi pemain muda untuk menembus sepak bola Eropa.

“Anda tahu mengapa mereka datang? Karena mereka paham bahwa di sini kami menciptakan platform luar biasa untuk perkembangan pemain dan menjadi jembatan menuju sepak bola Eropa level atas,” ujarnya.

Ia juga mencontohkan transfer pemain seperti Kevin dan David Neres sebagai bukti nyata keberhasilan model tersebut.

Namun, tantangan besar tetap ada, terutama karena situasi perang di Ukraina. Palkin mengakui bahwa proses negosiasi menjadi jauh lebih sulit.

“Saya menghabiskan 70 persen waktu untuk meyakinkan pemain agar datang di situasi yang sangat sulit ini. Saya harus menjelaskan kondisi tempat tinggal, sirene serangan udara, dan aspek keamanan,” jelasnya.

Meski demikian, reputasi Shakhtar sebagai “panggung loncatan” tetap menjadi daya tarik utama. Banyak pemain muda Brasil tetap tertarik, bahkan di tengah risiko besar, demi mengejar mimpi bermain di level tertinggi sepak bola Eropa.

Berita Terkait