Gabriele Gravina soal Kegagalan Timnas Italia Lolos ke Piala Dunia 2026: Gennaro Gattuso Sudah Siap tapi Pemain Belum

Kekecewaan mendalam masih menyelimuti publik sepak bola Italia setelah Timnas Italia dipastikan absen untuk ketiga kalinya secara beruntun di ajang Piala Dunia.

BolaCom | Hendry WibowoDiterbitkan 13 April 2026, 10:30 WIB
Italia sempat unggul lebih dulu melalui gol Moise Kean pada menit ke-15. Namun, pada menit ke-79, Bosnia dan Herzegovina berhasil menyamakan kedudukan lewat gol Haris Tabakovic. Tampak dalam foto, pelatih Timnas Italia, Gennaro Gattuso, berjalan keluar lapangan usai pertandingan final play-off kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Bosnia dan Herzegovina di Stadion Bilino Polje, Zenica, Selasa 31 Maret 2026 waktu setempat atau Rabu 1 April 2026 dini hari WIB. (Fabio Ferrari/LaPresse via AP)

Bola.com, Jakarta - Kekecewaan mendalam masih menyelimuti publik sepak bola Italia setelah Timnas Italia dipastikan absen untuk ketiga kalinya secara beruntun di ajang Piala Dunia.

Presiden FIGC yang akan segera lengser, Gabriele Gravina, akhirnya buka suara terkait kegagalan tragis Gli Azzurri di babak play-off Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Eropa.

Advertisement

Dalam wawancaranya bersama Corriere della Sera, Gabriele Gravina memberikan pembelaan kepada Gennaro Gattuso, sosok yang ditunjuk menggantikan Luciano Spalletti pada Juni 2025 namun gagal membawa Italia terbang ke putaran final.

Meski gagal total, Gravina menegaskan bahwa Gattuso bukanlah satu-satunya pihak yang layak disalahkan. Menurutnya, mantan gelandang legendaris itu telah bekerja maksimal dalam waktu yang sangat singkat.

"Gattuso adalah pelatih yang sangat siap dan pribadi yang luar biasa. Meski waktu latihannya sangat sedikit, dia berhasil memberikan 'jiwa' kepada tim ini. Sayangnya itu belum cukup, dan dia adalah orang pertama yang merasa sangat menyesal," ungkap Gravina. 

 

 

 


Gravina Sindir Komitmen Pemain

Bek Italia #03, Federico Dimarco, merayakan gol pertama timnya bersama penyerang Italia #09, Mateo Retegui, bek Italia #05, Riccardo Calafiori, dan gelandang Italia #08 Sandro Tonali selama pertandingan Grup A2 UEFA Nations League antara Prancis dan Italia di Parc des Princes di Paris pada 6 September 2024. (FRANCK FIFE/AFP)

Italia harus mengubur mimpi mereka setelah kalah secara dramatis lewat adu penalti melawan Bosnia-Herzegovina di final play-off.

Kekalahan ini terasa menyesakkan karena secara kualitas pemain, Italia dianggap jauh di atas Bosnia maupun Irlandia Utara.

Gravina tak memungkiri ada faktor teknis di lapangan yang membuat Italia loyo. Ia menyebut ada kesenjangan antara janji pemain dan realitas di rumput hijau.

"Di atas kertas, kita lebih kuat. Saya bersama para pemain saat itu, mereka berjanji akan memberikan segalanya, dan mereka memang melakukannya. Namun, ada yang datang dengan kondisi cedera, dan ada juga yang datang dengan performa puncak tapi justru tampil di bawah ekspektasi saat pertandingan menentukan," tutur Gravina.


Eksodus di Internal FIGC: Mundurnya Buffon

Gianluigi Buffon dan Gennaro Gattuso bahu membahu untuk membawa Timnas Italia lolos ke Piala Dunia 2026. (Fabrice COFFRINI / AFP)

Selain pengunduran diri Gravina, posisi Ketua Delegasi Timnas Italia yang dijabat Gianluigi Buffon juga ikut kosong. Buffon memilih mundur dari jabatannya setelah kegagalan ini. Meski begitu, Gravina tetap memberikan dukungan moral bagi sang kiper legendaris.

"Saya membawanya ke Timnas Italia karena saya percaya dia punya karier manajerial yang hebat di depannya. Sekarang, semua tergantung dia untuk membuat pilihan terbaik bagi masa depannya," tambahnya.

Roda organisasi FIGC akan segera berputar kembali dengan agenda pemilihan Presiden baru pada 22 Juni mendatang. Tugas pertama sang presiden terpilih nantinya adalah mencari pengganti Gattuso untuk membangun ulang puing-puing kekuatan Italia.

Terkait saran Luciano Spalletti yang kini melatih Juventus untuk mewajibkan pemain U-19 tampil sebagai starter di Serie A demi regenerasi, Gravina menyebut hal itu sulit diwujudkan secara hukum.

"Sayangnya tidak bisa dipaksakan. Kami hanya bisa mencoba lewat sistem insentif untuk akademi muda Italia, misalnya lewat kredit pajak, namun pemerintah belum pernah mengabulkan hal tersebut," pungkasnya.

Sumber: Football Italia 

Berita Terkait