Tradisi 90 Menit Diuji: Final Piala Dunia 2026 Disisipi Halftime Show ala Super Bowl, Picu Pro-Kontra

Chris Martin akan memimpin pertunjukan Halftime Show Piala Dunia 2026.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 18 April 2026, 09:15 WIB
Aksi panggung Chris Martin yang melompat saat tampil di Super Bowl 50 NFL di Santa Clara, California pada tanggal 19 Agustus 2016. (AP Photo/Marcio Jose Sanchez, File)

Bola.com, Jakarta - Final Piala Dunia 2026 akan menghadirkan sesuatu yang benar-benar baru. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, laga puncak akan disertai pertunjukan paruh waktu (halftime show), dengan Chris Martin dipercaya memimpin arah kreatifnya.

Keputusan ini dikonfirmasi langsung oleh Presiden FIFA, Gianni Infantino. Final dijadwalkan berlangsung pada 19 Juli di MetLife Stadium.

Advertisement

Berbeda dari final Piala Dunia sebelumnya yang hanya memiliki jeda 15 menit tanpa hiburan khusus, edisi 2026 akan menghadirkan segmen pertunjukan yang dikurasi secara khusus.

Konsep ini terinspirasi dari pertunjukan paruh waktu Super Bowl, yang selama ini dikenal sebagai satu di antara panggung hiburan terbesar di dunia dan mampu menarik perhatian di luar penggemar olahraga tersebut.


Chris Martin sebagai Kurator

Beberapa kali Chris Martin menyapa penonton. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Chris Martin tidak akan tampil sebagai bintang utama, melainkan bertindak sebagai kurator yang menyusun konsep dan daftar penampil.

Vokalis Coldplay itu disebut akan merancang jajaran artis yang tampil, dengan konsep melibatkan banyak musisi, bukan hanya satu penampil utama.

FIFA belum mengumumkan siapa saja yang akan tampil. Namun, indikasi awal menunjukkan akan ada kombinasi artis internasional untuk mencerminkan skala global Piala Dunia. Untuk durasi acara dikabarkan menelan waktu 25-30 menit.

Infantino menyebut tujuan utama dari konsep ini adalah menjadikan final bukan sekadar pertandingan sepak bola, tetapi juga perayaan musik dan budaya dunia.


Pengisi Acara

(Kiri/Kanan) Presiden Argentina, Javier Milei, dan Presiden FIFA, Gianni Infantino, menghadiri pertemuan perdana "Board of Peace" yang diselenggarakan oleh Presiden AS, Donald Trump, di Institute of Peace AS di Washington, DC, pada 19 Februari 2026. (SAUL LOEB/AFP)

Untuk gambaran awal, sejumlah nama seperti J Balvin, Doja Cat, dan Tems menjadi pengisi pertunjukan paruh waktu di Piala Dunia Antarklub 2025.

Hal ini memberi sinyal bahwa FIFA akan mengusung konsep serupa untuk Piala Dunia 2026.

"Kami akan menghadirkan pertunjukan paruh waktu pertama dalam sejarah dengan kehadiran Chris Martin dan Coldplay. Saya belum bisa memberi tahu Anda artis lain yang akan tampil, tetapi akan ada lebih dari satu, dan ini akan menjadi pertunjukan terbesar dalam sejarah," ujar Gianni Infantino, Presiden FIFA, di acara Semafor World Economy, belum lama ini.

Infantino menegaskan bahwa penampilan tersebut akan digelar dalam skala besar, dengan Coldplay sebagai nama pertama yang diumumkan.

Lebih banyak artis internasional diperkirakan akan diumumkan dalam beberapa minggu mendatang.


Selebritas dari Olahraga Lain

Tom Brady Juara Super Bowl Tujuh Kali (AP)

Infantino juga mengisyaratkan bahwa FIFA berencana menghadirkan tokoh-tokoh besar dari cabang olahraga lain untuk menjadikan Piala Dunia 2026 sebagai acara global yang lebih besar lagi:

"Kami melibatkan berbagai macam selebritas yang bisa Anda bayangkan, dari olahraga lain. Maksud saya, Tom Brady, Shaquille O'Neal, dan lain-lain," ungkapnya.

Hal itu bertujuan adalah menjadikan Piala Dunia 2026 sebagai tontonan mega yang menggabungkan sepak bola kelas dunia, musik, dan hiburan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.


Misi Sosial di Balik Pertunjukan

Ilustrasi, logo Piala Dunia 2026. (Dok. fifa.com)

Piala Dunia 2026 sudah dipastikan menjadi yang terbesar dalam sejarah, dengan jumlah peserta bertambah menjadi 48 tim.

Piala Dunia edisi ini akan digelar di tiga negara sekaligus, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Menariknya, pertunjukan ini juga akan dikembangkan bersama Global Citizen, yang mengindikasikan adanya unsur kampanye sosial.

Program ini ditargetkan mampu menggalang dana hingga 100 juta dolar AS untuk membantu mengatasi hambatan akses terhadap pendidikan berkualitas.

Disebutkan pula, setiap tiket pertandingan akan menyumbang satu dolar AS untuk program komunitas yang dikelola FIFA.

 

Sumber: Gulf News, Marca

Berita Terkait