Bola.com, Yogyakarta - Direktur Utama PSIM Yogyakarta, Liana Tasno, angkat bicara terkait keputusan pemindahan venue laga kontra Persija Jakarta pada pekan ke-29 BRI Super League 2025/2026, Rabu (22/4/2026) sore WIB.
Pertandingan tersebut semula akan berlangsung di Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul, Yogyakarta. Namun, lokasi dipindahkan ke Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali.
Keputusan itu diambil setelah bentrok kedua tim tidak mendapatkan izin keamanan dari pihak kepolisian. Situasi tersebut membuat Laskar Mataram harus menjalani partai kandang rasa tandang.
"PSIM menghormati keputusan pihak kepolisian dan seluruh otoritas terkait, keamanan, ketertiban, dan kenyamanan pertandingan adalah prioritas utama," ujar Liana Tasno, Senin (20/4/2026).
Bermain di Luar Jogja Bukan Pilihan Ideal
Liana mengatakan, bermain di luar Yogyakarta bukan situasi yang diinginkan manajemen. Sebagai tuan rumah, PSIM tentu berharap bisa tampil di depan pendukung setianya.
"Bermain di luar Yogyakarta bukan keputusan yang ideal bagi kami. Sebagai tuan rumah tentu kami ingin bermain di hadapan suporter sendiri," katanya.
Ia juga memahami kekecewaan suporter atas kondisi tersebut. Namun, Liana meminta seluruh pecinta PSIM tetap memberikan energi positif kepada tim yang sedang berjuang di kompetisi.
"Kami memahami rasa kecewa para suporter, namun energi dan kecintaan itu sangat berarti bagi tim. Saat ini yang dibutuhkan pemain adalah dukungan positif, bukan perpecahan," imbuh Liana.
Pemindahan Disebut Solusi Teknis
Manajemen PSIM menilai penggunaan stadion di Bali merupakan jalan keluar agar pertandingan tetap berjalan sesuai jadwal. Langkah itu disebut sebagai bentuk tanggung jawab klub terhadap kelangsungan liga.
"Penggunaan stadion di Bali adalah solusi teknis agar pertandingan tetap dapat terlaksana sesuai jadwal. Ini bukan bentuk menjauh dari Jogja, melainkan bentuk tanggung jawab penuh klub terhadap kompetisi dan nama besar PSIM," tutur Liana.
"Manajemen akan terus berupaya agar PSIM dapat kembali bermain di kandang sendiri pada kesempatan berikutnya. Kami akan terus membangun komunikasi dengan seluruh stakeholder."
"Kami percaya suporter PSIM dikenal sebagai suporter yang loyal, cerdas, dan mencintai klub dengan hati besar.Mari tunjukkan bahwa kita bisa menghadapi situasi sulit dengan elegan," sambungnya.
Brajamusti dan The Maident Jaga Kondusivitas
Di sisi lain, dua kelompok suporter besar PSIM, Brajamusti dan The Maident, menyatakan menghormati situasi yang terjadi serta berkomitmen menjaga kondisi tetap kondusif di Kota Gudeg.
Presiden Brajamusti, Muslich Burhanuddin, menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh suporter, termasuk pendukung Persija, The Jakmania, karena pertandingan yang sangat dinanti tak bisa digelar di Jogja.
"Pertandingan ini sangat ditunggu-tunggu, baik oleh Brajamusti, The Maident, maupun Jakmania. Tapi karena dinamika yang terjadi di Jogja, kami belum bisa menyambut dan memfasilitasi dengan maksimal. Untuk itu, kami mohon maaf," ucapnya.
Meskipun demikian, suporter Persija tetap disambut jika datang ke Yogyakarta. Sejumlah titik telah disiapkan sebagai lokasi berkumpul maupun nonton bareng seperti Jogja National Museum, XT Square, Embung Giwangan, hingga opsi di Stadion Mandala Krida.
Sementara itu, Ketua The Maident, Rendy Prasetya, menegaskan komitmen untuk menjaga situasi tetap kondusif. "Kami berharap teman-teman legowo dengan situasi ini. Ini menjadi pembelajaran bagi semua agar ke depan bisa lebih baik," harapnya.