Bola.com, Jakarta - Wacana tak biasa muncul jelang Piala Dunia 2026. Seorang utusan yang berafiliasi dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump disebut mendorong ide agar Italia menggantikan Iran di turnamen tersebut.
Usulan ini bukan karena alasan olahraga, melainkan sebagai langkah diplomatik.
Sosok di balik usulan ini adalah Paolo Zampolli, diplomat kelahiran Italia yang mengonfirmasi kepada Financial Times, Kamis (23/4/2026) bahwa ia telah menyampaikan gagasan tersebut kepada Trump dan Presiden FIFA, Gianni Infantino. Ide tersebut dinilai sebagai manuver politik untuk meredakan hubungan yang tengah menegang antara Trump dan Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni.
Ketegangan itu disebut dipicu oleh sejumlah pernyataan Trump, termasuk komentarnya terkait Paus, yang memperkeruh hubungan dengan pemerintah Italia. Dalam konteks ini, sepak bola, khususnya Piala Dunia, dipandang sebagai alat diplomasi lunak yang bisa dimanfaatkan.
Wakil Asia
Namun secara olahraga, posisi Iran sangat kuat. Timnas Iran telah memastikan tiket ke Piala Dunia 2026 melalui jalur kualifikasi Asian Football Confederation dan kini tengah bersiap menghadapi turnamen.
Federasi Sepak Bola Iran bahkan tengah menunggu arahan FIFA terkait permintaan pemindahan lokasi pertandingan mereka dari Amerika Serikat ke Meksiko.
Iran tergabung di Grup G bersama Belgia, Mesir, dan Selandia Baru. Mereka dijadwalkan memulai laga melawan Selandia Baru di Los Angeles pada 16 Juni, dengan sebagian besar pertandingan grup berlangsung di Amerika Serikat.
Hampir Mustahil
Di sisi lain, absennya Italia murni karena kegagalan di lapangan. Juara dunia empat kali itu kembali gagal lolos setelah kalah dari Bosnia dan Herzegovina di babak playoff Maret 2026. Ini menjadi kegagalan ketiga secara beruntun bagi Italia setelah sebelumnya juga absen di edisi 2018 dan 2022.
Hingga kini, belum ada indikasi bahwa FIFA akan mempertimbangkan usulan tersebut. Secara regulasi, pergantian peserta yang sudah lolos kualifikasi hampir mustahil terjadi, kecuali dalam kondisi luar biasa. Karena itu, ide “Italy-for-Iran swap” lebih dilihat sebagai sinyal politik ketimbang skenario realistis dalam dunia sepak bola.
Sumber: Financial Times