Singapura Si Spesialis Juara Piala AFF: Pelopor Pemain Naturalisasi Asia Tenggara

Di antara para pesaing Timnas Indonesia di Piala AFF 2026, Singapura layak mendapat sorotan khusus.

BolaCom | Ana DewiDiterbitkan 29 April 2026, 11:45 WIB
Timnas Singapura saat menjadi juara AFF Cup 2012 (PORNCHAI KITTIWONGSAKUL / AFP)

 

Bola.com, Jakarta - Timnas Indonesia mendapatkan tantangan berat pada Piala AFF 2026. Tim berjulukan Garuda itu tergabung di Grup A bersama Vietnam, Singapura, Kamboja, serta pemenang play-off antara Brunei Darussalam dan Timor Leste.

Advertisement

Turnamen edisi kali ini hadir dengan jadwal berbeda. Kalau biasanya digelar pada akhir tahun, tahun ini ajang terbesar di Asia Tenggara itu berlangsung mulai 24 Juli hingga 26 Agustus 2026.

Di antara para pesaing, Singapura layak mendapat sorotan khusus. Pasukan The Lions punya sejarah besar dan dilabeli satu di antara spesialis juara di turnamen bergengsi ini.

Singapura juga dikenal sebagai tim yang sangat pragmatis. Mereka tidak selalu bermain atraktif, tetapi efektif. Selain itu, kemampuan memanfaatkan bola mati atau set piece kerap jadi senjata utama.


Raja Lama Asia Tenggara

Singapura. Timnas Singapura total telah meraih 4 trofi Piala AFF sepanjang sejarah, yaitu pada edisi 1998, 2004, 2007 dan 2012. Dari 4 gelar tersebut, dua di antaranya diraih setelah mengalahkan Thailand di partai final pada edisi 2007 dan 2012. Sementara dua gelar lainnya didapat setelah membungkam Vietnam pada edisi 1998 dan Timnas Indonesia pada edisi 2004. (AFP/Pornchai Kittiwongsakul)

Skuad asuhan Gavin Lee itu merupakan satu di antara tim tersukses dalam sejarah Piala AFF. The Lions sudah mengoleksi empat gelar juara, masing-masing pada 1998, 2004, 2007, dan 2012.

Ada dibawah Thailand dengan tujuh trofi. Catatan itu membikin Singapura masih berada di jajaran elite Asia Tenggara. Meski beberapa tahun terakhir pamornya menurun, mental juara mereka tidak boleh diremehkan.

Bagi Timnas Indonesia, menghadapi tim dengan tradisi kuat seperti Singapura jelas bukan perkara mudah. Pengalaman tampil di laga besar menjadi modal penting lawan Ricky Kambuaya dkk. nanti.


Pelopor Naturalisasi di ASEAN

Kiper Timnas Singapura Lionel Lewis (kanan) berusaha menangkap bola sepakan striker Timnas Indonesia Ilham Jaya Kesuma (tengah). Sementara bek The Lions, Baihakki Khaizan (kiri) hanya bisa menatap dalam laga leg pertama Ffinal Piala AFF 2004 di Jakarta, 8 Januari 2005. (AFP/Adek Berry)

Sebelum tren naturalisasi ramai dilakukan banyak negara ASEAN, Singapura sudah lebih dulu memaksimalkan kebijakan tersebut. Mereka dikenal sebagai 'bapak naturalisasi' di kawasan ini.

Sejumlah nama kelahiran luar negeri pernah memperkuat The Lions, seperti Agu Casmir, Mustafic Fahrudin, hingga Daniel Bennett. Strategi itu terbukti efektif karena ikut membantu Singapura mengukir prestasi.

Kini langkah serupa juga diikuti beberapa negara lain, termasuk Timnas Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Namun, Singapura tetap tercatat sebagai pelopor di Asia Tenggara.


Ancaman Nyata untuk Timnas Indonesia

Pertahanan Timnas Indonesia akhirnya bobol juga pada menit ke-70. Adalah Ikhsan Fandi, anak legenda Singapura Fandi Ahmad yang mencetak gol penyeimbang 1-1. Aksi satu lawan satu dengan Nadeo Argawinata sukses mengoyak gawang Timnas garuda. Skor 1-1 bertahan hingga laga usai. (AFP/Roslan Rahman)

Secara materi pemain, Singapura mungkin tidak semewah Vietnam atau Thailand. Namun, tim ini terkenal disiplin, rapi dalam bertahan, dan efektif saat menyerang balik.

Karakter seperti itu sering merepotkan Timnas Indonesia. Jika lengah sedikit saja, armada John Herdman tersebut bisa mendapat hukuman dari lawan yang berpengalaman.

Oleh karena itu, duel kontra Singapura berpotensi menjadi laga krusial bagi Indonesia di Grup A. Tiga poin dari pertandingan tersebut bisa sangat menentukan langkah menuju semifinal Piala AFF 2026.

Berita Terkait