7 Pelatih Cemerlang di Pentas Liga Champions: Mikel Arteta di Ambang Sejarah

Mikel Arteta di ambang sejarah, ini 7 pelatih terbaik di pentas Liga Champions.

BolaCom | Choki SihotangDiterbitkan 01 Mei 2026, 16:45 WIB
7 Pelatih Terbaik di Pentas Liga Champions: Mikel Arteta di Ambang Sejarah. (Foto AP/AFP, graphic chatgpt)

Bola.com, Jakarta - Keluarga besar Arsenal sejagat bersiap pesta tujuh hari tujuh malam. Tim kesayangan tak hanya berpeluang besar meneangkan Priemier League 2025/2026, tapi juga Liga Champions. Sedap!

Di kasta teratas Inggris, The Gunners masih menguasai puncak klasemen sementara dengan genggaman 73 poin atau unggul tiga angka dari seteru terdekatnya di posisi kedua, Manchester City, yang bermodalkan 70 poin.

Advertisement

Mengingat kompetisi sudah memasuki pekan ke-34, para pemuja setia berdoa dan terus berharap Meriam London tak lagi terpeleset.

Di Liga Champions, Arsenal juga maknyus. Mereka baru saja pulang dari Civitas Metropolitano, nyaris mempermalukan tuan rumah Atletico Madrid dalam laga leg 1 semifinal, Kamis (30/4/2026).

Sempat leading 1-0 via aksi ciamik Viktor Gyokeres, Arsenal akhirnya harus puas berbagai angka setelah tuan rumah menyamakan skor menjadi 1-1 lewat Julian Alvarez.

Dengan hasil ini, Arsenal jelas berada di atas angin, mengingat pada leg 2 mereka akan menjamu Atletico di kandang keramat, Emirat Stadium.

Bayangkan, jika Arsenal bisa menggondol dua gelar keramat musim ini. Di ajang liga, Arsenal terakhir kali memenangkannya pada musim 2003/2004 saat masih ditukangi Arsene Wenger.

Sementara, di pentas Liga Champions, The Gunners sama sekali belum pernah merasakan betapa manisnya gelar antarklub paling bergengsi di Benua Biru.

Sukses memenangkan Liga Champions nanti pastinya membuat Mikel Arteta, sang pelatih, banjir pujian.

Di tangan Arteta, yang awalnya sempat diragukan, The Gunners terus berkembang cemerlang.

Sejak ditunjuk sebagai bos di ruang ganti pada 2019, juru taktik asal Spanyol sudah tiga kali membawa Arsenal dalam perburuan gelar Premier League, termasuk 2025/2026.

Di musim ini pula, Arteta menjadikan skuadnya sangat ditakuti di Liga Champions, setelah musim lalu juga melakukan hal serupa.

Sensasi-sensasi tersebut membuat Arteta masuk daftar elite pelatih terbaik dalam sejarah Liga Champions berdasarkan poin per pertandingan atau to points per match (PPM), seperti dilansir Planetfootball belum lama ini.

Tak hanya Arteta memang. Masih ada pelatih top lainnya. Tapi Arteta yang paling menggoda. Berikut daftarnya, ada 7 nakhoda yang paling disorot:


Pep Guardiola (2.04)

Kemenangan ini menjaga asa Manchester City untuk meraih banyak gelar musim ini. Selain masih bersaing ketat di Liga Primer Inggris, City juga sudah dinanti laga final Piala Liga dan masih bersaing di Liga Champions. (AFP/Paul Currie)

Para kritikus Guardiola akan berpendapat bahwa Liga Champions merupakan titik lemah dalam rekam jejaknya, terutama bersama Bayern, tetapi pelatih City itu tetap memiliki tiga gelar dalam rekornya.

Yang pertama terjadi pada tahun 2009 bersama Barcelona dan ia mengulangi prestasi tersebut dua tahun kemudian dengan penampilan terakhir yang oleh banyak orang disebut sebagai yang terbaik dalam sejarah.

Namun, ia sempat mengalami paceklik gelar selama 12 tahun sebelum kembali mengangkat trofi, kali ini bersama Manchester City pada tahun 2023.

 


Frank Rijkaard (2,05)

Frank Rijkaard. Eks pelatih berusia 59 tahun yang terakhir mengarsiteki Timnas Arab Saudi pada Januari 2013 ini merupakan pelatih kelima asal Belanda yang mampu meraih trofi Liga Champions. Ia meraihnya di musim ke-3 membesut Barcelona pada musim 2005/2006 usai mengalahkan Arsenal 2-1 di partai final. Total ia menukangi Barcelona selama 5 tahun, mulai Juli 2003 hingga Mei 2008. (AFP/Lluis Gene)

Karier manajerial Rijkaard terbilang unik karena Barcelona adalah satu-satunya klub top yang pernah ia latih.

Ia bergabung dengan Barcelona dari Sparta Rotterdam dan memenangkan Liga Champions pada tahun 2006, tetapi kemudian bergabung dengan Galatasaray pada tahun 2009 dan selanjutnya melatih Arab Saudi hingga akhir karier manajerialnya.

Pelatih asal Belanda ini dipuji karena telah meletakkan fondasi bagi Guardiola untuk berkembang.

 

 


Luis Enrique (2.06)

Pelatih kepala Paris Saint-Germain (PSG) asal Spanyol, Luis Enrique, memberi isyarat di pinggir lapangan selama pertandingan leg kedua perempat final Liga Champions UEFA antara Liverpool dan Paris Saint-Germain di Anfield, Liverpool, barat laut Inggris pada 15 April 2026. (FRANCK FIFE/AFP)

Luis Enrique mungkin sedang menuju gelar Eropa ketiga setelah mengubah PSG dari tim yang dipenuhi superstar menjadi salah satu tim terbaik di dunia.

Ia pertama kali merasakan kesuksesan Eropa di Barcelona, ​​di mana ia memiliki trio penyerang terbaik sepanjang masa, Messi, Neymar, dan Suarez, dan ia juga tidak kekurangan pilihan penyerang di PSG.

Musim lalu, ia mengakhiri penantian klub Paris untuk meraih kesuksesan Eropa dan kemungkinan besar akan mempertahankan gelar tersebut di musim ini.

 


Mikel Arteta (2,14)

Manajer Arsenal Mikel Arteta (kedua dari kanan) menyapa pemain Atletico Madrid di leg pertama semifinal Liga Champions 2025/2026 di Riyadh Air Metropolitano, Kamis (30/4/2026) dini hari WIB. (AP Photo/Jose Breton)

Meskipun kemampuannya untuk meraih kesuksesan masih dipertanyakan, Arteta layak mendapat pujian karena telah mengubah Arsenal menjadi klub yang mampu bersaing di Eropa.

Tim Arsene Wenger memiliki kemampuan, tetapi tidak asing dengan kekalahan telak, sementara pendekatan Arteta yang mengutamakan pertahanan telah memastikan Arsenal tidak terlalu sering kalah di Eropa dan memberinya bayaran besar.

Pelatih asal Spanyol ini memiliki PPM 2,19 dari 37 pertandingan yang dipimpinnya, tetapi masih menunggu trofi Eropa pertamanya.

 


Vincent Kompany (2,19)

Pelatih Bayern Munchen Vincent Kompany berjalan memasuki lapangan menjelang laga leg pertama perempat final Liga Champions antara Real Madrid vs Bayern Munchen di Madrid, Spanyol, Selasa, 7 April 2026. (AP Photo/Jose Breton)

Kompany baru memimpin 27 pertandingan, paling sedikit di antara manajer di 10 besar, tetapi bisa saja sudah menuju trofi Liga Champions.

Meskipun sempat ada keraguan tentang perekrutan pelatih Burnley yang baru saja terdegradasi, Kompany telah membuktikan dirinya sebagai sosok yang tepat di Bayern dan sedang mengupayakan kesuksesan Eropa pertama klub sejak 2020.

 


Jupp Heynckes (2.26)

Jupp Heynckes hanya semusim bersama Real Madrid dan meraih trofi Liga Champions musim 1997-1998. Setelah itu, Heynckes meraih treble bersama Bayern Munchen. (AFP/Christof Stache)

Ketika ada perdebatan tentang manajer terhebat sepanjang masa, Heynckes bukanlah nama yang sering disebut, tetapi mungkin seharusnya demikian.

Pelatih asal Jerman ini memiliki dua gelar Liga Champions dalam catatan kariernya, pertama bersama Madrid pada tahun 1998 dan kemudian Bayern pada tahun 2013.

Tim Bayern itulah yang sangat mengesankan dan merupakan gerakan tandingan terhadap gaya tiki-taka Guardiola.

Pada musim itu, yang direncanakan sebagai musim terakhir Heynckes sebelum pensiun, ia memenangkan treble dan ketika Bayern membutuhkan manajer pada tahun 2017, mereka menghubungi Heynckes yang berhasil membawa mereka ke semifinal.

 


Hansi Flick (2.3)

Pelatih Barcelona, Hansi Flick, berbicara dengan Andreas Christensen saat pertandingan La Liga Spanyol melawan Rayo Vallecano di Stadion Vallecas, Madrid, Spanyol, Senin, 1 September 2025. (AP Photo/Manu Fernandez)

Hansi Flick memulai karier manajerialnya dengan gemilang saat ia memenangkan treble bersama Bayern.

Kesuksesan Liga Champions diraih melalui kemenangan 1-0 atas PSG di final, tetapi ia belum mencapai tahap itu lagi sejak saat itu.

Ia memiliki catatan dua kali tersingkir di perempat final, termasuk musim ini, dan satu kali di semifinal tahun lalu.

Namun secara keseluruhan, Flick jarang merasakan kekalahan di kompetisi ini.

Sumber: Planetfootball

Berita Terkait