Kesalahan Fatal 4 Mantan Manajer MU yang Wajib Dihindari Michael Carrick: Ngeyel Seperti Amorim, Transfer Ngawur ala Ten Hag

Selain melanjutkan tren positif Manchester United, Michael Carrick juga diwanti-wanti untuk tidak mengulangi kesalahan empat pendahulunya

BolaCom | Wiwig PrayugiDiterbitkan 17 Mei 2026, 10:15 WIB
Pelatih Manchester United, Michael Carrick. (Darren Staples / AFP)

Bola.com, Jakarta - Kabar besar datang dari Manchester United. Michael Carrick dikabarkan akan segera diumumkan sebagai manajer permanen klub dalam waktu 48 jam ke depan setelah mencapai kesepakatan dengan pihak manajemen.

Menurut laporan jurnalis BBC Sport, Sami Mokbel, seluruh proses negosiasi telah rampung dan kini hanya menyisakan tahap administrasi sebelum pengumuman resmi dilakukan. Keputusan ini diambil setelah Carrick sukses membawa perubahan positif sejak mengambil alih kursi pelatih pada Januari lalu.

Advertisement

Legenda lini tengah Setan Merah itu langsung memberikan dampak besar di awal kepemimpinannya. Carrick membuka masa kepelatihannya dengan kemenangan penting atas rival kuat seperti Manchester City dan Arsenal.

Performa impresif tersebut membuat petinggi klub yakin bahwa Carrick adalah sosok yang tepat untuk memimpin Manchester United dalam jangka panjang, terlebih setelah ia berhasil mengamankan tiket Liga Champions musim depan.

Sejauh ini, Carrick telah memimpin United dalam 15 pertandingan dengan catatan 10 kemenangan, dua hasil imbang, dan hanya menelan dua kekalahan. Statistik itu menjadi alasan kuat mengapa manajemen akhirnya memberikan kepercayaan penuh kepadanya.

Selain melanjutkan tren positif Setan Merah, Carrick juga diwanti-wanti untuk tidak mengulangi kesalahan empat pendahulunya.


Terlalu Keras Kepala dengan Sistem yang Gagal seperti Amorim

Ekspresi kecewa pelatih Manchester United, Ruben Amorim dengan memegang kepalanya saat laga lanjutan Liga Inggris 2024/2025 melawan West Ham di Old Trafford, Manchester, Inggris, Minggu (11/05/2025) waktu setempat. (AFP/Oli Scarff)

Ruben Amorim datang ke Manchester United dengan membawa sistem 3-4-3 yang sukses besar saat ia menangani Sporting CP. Namun, skema tersebut membutuhkan pemain dengan karakteristik khusus yang tidak dimiliki skuad United saat itu.

Meski performa tim terus menurun, Amorim tetap bersikeras mempertahankan filosofinya. Ia bahkan pernah menyatakan lebih memilih dipecat daripada harus mengubah gaya bermain yang diyakininya.

Sikap terlalu keras kepala itulah yang akhirnya dianggap menjadi salah satu penyebab utama kegagalannya di Old Trafford. Sistem yang tidak berjalan efektif terus dipaksakan hingga akhirnya kariernya di Manchester berakhir lebih cepat.


Berjudi dalam Transfer Besar seperti Erik Ten Hag

Erik ten Hag belakangan ini mengakui bahwa rekrutan Manchester United pada musim-musim sebelumnya tak sesuai dengan sasaran. Ia pun akhirnya mengambil keputusan untuk membawa Lisandro Martinez dan Antony dari Ajax Amsterdam. Ten Hag juga mengontrak Casemiro dari Real Madrid untuk memperbaiki lini tengah Setan Merah. Christian Eriksen yang didatangkan dari Brentford pun juga menjadi langkah tepat yang dilakukan pelatih asal Belanda itu. Eriksen sukses menambah kreativitas di lini tengah dan ketenangannya dalam menguasai bola telah membantu Ten Hag menerapkan gaya sepak bola pilihannya. (AFP/Oli Scarff)

Erik ten Hag membuat sejumlah keputusan transfer besar saat menangani Manchester United, namun banyak di antaranya justru berujung gagal. Transfer Antony dengan nilai lebih dari 80 juta pound menjadi salah satu pembelian paling mengecewakan dalam sejarah Premier League.

Tak hanya itu, Ten Hag juga melepas David de Gea dan menggantikannya dengan Andre Onana. Namun, kiper asal Kamerun tersebut justru beberapa kali melakukan kesalahan fatal dan akhirnya juga meninggalkan klub.

Saat membutuhkan striker tajam, Ten Hag memilih merekrut Rasmus Hojlund yang masih dianggap proyek jangka panjang. Sayangnya, keputusan itu tidak memberi dampak instan bagi MU, bahkan penyerang asal Denmark tersebut kini disebut-sebut berpeluang hengkang dari Old Trafford.


Don't: Gagal Membangun Identitas Tim dalam Waktu Lama seperti Ole

Karakter Ole Gunnar Solskjaer yang dikenal dekat dengan pemain menjadi pertimbangan utama dirinya masuk dalam radar pelatih pengganti Thomas Tuchel di Bayern Munchen. Ia diharapkan mampu menjalin hubungan baik dengan para pemain Bayern Munchen. Selain itu, ia juga memiliki hubungan yang dekat dengan Direktur Olahraga Bayern Munchen saat ini, Christoph Freund. (AFP/Ian Kington)

Ole Gunnar Solskjaer sempat membawa harapan baru bagi Manchester United, tetapi ia dinilai gagal membangun identitas permainan yang jelas selama hampir tiga tahun menangani tim.

Banyak pihak menilai United di bawah Solskjaer tidak memiliki gaya bermain yang konsisten. Tim lebih sering mengandalkan serangan balik dan kesulitan menghadapi lawan yang bermain bertahan atau menguasai permainan.

Meski dikenal dengan sejumlah comeback dramatis, performa seperti itu dianggap tidak sehat untuk jangka panjang. Ketika hasil buruk mulai datang, permainan United langsung kehilangan arah dan situasi pun memburuk dengan cepat.


Terlalu Sering Konflik Internal seperti Mourinho

Hubungan manajer Manchester United, Jose Mourinho, dan Paul Pogba dikabarkan mulai renggang. (AFP/Ian Kington)

Jose Mourinho dikenal sebagai sosok berkarakter kuat dan penuh konfrontasi, namun pendekatan itu justru menjadi salah satu masalahnya saat menangani Manchester United.

Mourinho beberapa kali terlibat konflik dengan pemainnya sendiri, termasuk Luke Shaw dan Paul Pogba. Perselisihannya dengan Pogba bahkan sempat terekam kamera sebelum sesi latihan dan menjadi sorotan besar media.

Selain itu, komentarnya soal “football heritage” setelah kekalahan di kompetisi Eropa juga menuai kontroversi. Pernyataan tersebut dinilai meremehkan sejarah besar United di Liga Champions dan membuat hubungan Mourinho dengan fans, pemain, hingga petinggi klub semakin renggang.

Sumber: Mirror

Berita Terkait