5 Fase Bagaimana Mikel Arteta Bawa Arsenal Juara Premier League: dari Kekacauan Menuju Takhta Tertinggi

Arsenal resmi dinobatkan sebagai juara setelah bertahun-tahun mengalami patah hati, ejekan, kegagalan tipis, dan tekanan tanpa henti.

BolaCom | Yus Mei SawitriDiterbitkan 20 Mei 2026, 08:41 WIB
Ilustrasi Arsenal juara Liga Inggris. (Bola.com/AFP/Gemini)

Bola.com, Jakarta - Arsenal resmi dinobatkan sebagai juara setelah bertahun-tahun mengalami patah hati, ejekan, kegagalan tipis, dan tekanan tanpa henti. Gelar ini juga menyelesaikan salah satu proyek pembangunan ulang yang panjang di kubu The Gunners.

Misi Arsenal mengembalikan kejayaan memakan waktu yang lama dan proses yang panjang. Bayangkan saja, The Gunners butuh 22 tahun untuk mewujudkan misi tersebut. 

Advertisement

Makna keberhasilan ini jauh melampaui trofi semata. Tim Gudang Peluru tidak membeli kesuksesan instan atau tiba-tiba menjadi penantang juara, melainkan menyelesaikan proyek rekonstruksi selama enam setengah tahun di bawah pelatih muda, Mikel Arteta, yang mewarisi ruang ganti terpecah, basis suporter yang kehilangan koneksi, serta klub yang terus menjauh dari level elite Eropa setiap musimnya.

Arteta bertahan menghadapi kritik publik, tekanan internal, kekalahan memalukan, hingga tuduhan bahwa dirinya terlalu banyak berpikir dan tak mampu menghadirkan trofi besar. Namun, ia tetap bertahan dan berjalan, dan akhirnya memberikan gelar Premier League pertama Arsenal sejak 2004.

Berikut bagaimana Arteta membawa Arsenal menjadi juara Premier League, seperti dikutip dari Sportmole

 


Fase Pertama: Membersihkan Kekacauan

Perjalanan Mikel Arteta saat melatih Arsenal di musim ini bisa mengalami pasang surut. Sempat terpuruk di awal musim, Arteta akhirnya menemukan formula terbaiknya untuk membalikkan keadaan. Terbukti, saat ini The Gunners berhasil menempati peringkat ke-4 klasemen Liga Inggris. (AFP/Pool/Tim Keeton)

Ketika Arteta datang dari Manchester City pada Desember 2019, Arsenal berada dalam kondisi rusak secara struktural, taktik, dan emosional setelah kehilangan identitas di akhir era Arsene Wenger serta kegagalan era Unai Emery.

Kontrak mahal menumpuk, perekrutan pemain tidak jelas arah, dan standar di ruang ganti menurun drastis. Arsenal finis di posisi kedelapan pada musim 2019/2020 dan 2020/2021. Itu merupakan pencapaian terburuk mereka dalam beberapa dekade, sementara rival terus mengejek kemunduran klub.

Bulan-bulan pertama Arteta sangat berat. Arsenal menelan kekalahan memalukan dari Burnley, Wolves, dan Aston Villa sebelum terpuruk ke posisi ke-15 klasemen pada Desember 2020. Muncul seruan agar Arteta dipecat.

Slogan “Trust the Process” (Mempercayai Proses) menjadi bahan lelucon fans rival, sementara Arteta dijuluki “cone man” karena pernah menjadi asisten Pep Guardiola di Manchester City.

Meski dihujani kritik, manajemen Arsenal menolak panik. Stan Kroenke dan Josh Kroenke tetap mendukung Arteta secara publik dan finansial meski protes fans meningkat.

Pada fase ini, Arteta fokus besar pada disiplin dan budaya tim dengan melepas pemain senior yang tidak lagi sesuai visinya, termasuk Mesut Ozil, Pierre-Emerick Aubameyang, Nicolas Pepe, Alexandre Lacazette, dan Shkodran Mustafi.

Arsenal merombak struktur gaji dan dinamika ruang ganti dalam proses yang terkadang menyakitkan dan tidak populer, tetapi Arteta percaya standar harus lebih penting daripada sentimentalitas.

 


Fase Kedua: Membangun Kembali Identitas

Rekor Mikel Arteta saat menghadapi Manchester City terbilang buruk. Ia hanya menang 1 kali, tidak pernah imbang dan 4 kali menderita kekalahan. (Foto: AFP/Adrian Dennis)

Setelah budaya ruang ganti mulai berubah, Arsenal masuk ke fase kedua dengan membangun inti skuad muda dan ambisius yang bisa berkembang bersama.

Martin Odegaard, Ben White, Aaron Ramsdale, Gabriel Magalhaes, William Saliba, dan Thomas Partey menjadi pilar tim baru, sementara Bukayo Saka, Gabriel Martinelli, dan Emile Smith Rowe muncul sebagai simbol masa depan klub.

Banyak transfer tersebut awalnya mendapat kritik besar. Ramsdale diejek setelah terdegradasi bersama Bournemouth dan Sheffield United, harga transfer White dipertanyakan, dan Odegaard dianggap buangan Real Madrid.

Namun Arteta menilai kepribadian dan mentalitas sama pentingnya dengan bakat saat membangun kembali identitas Arsenal.

Pelatih asal Spanyol itu juga membangun ulang sisi emosional tim lewat metode motivasi unik, termasuk menempatkan pohon zaitun di pusat latihan sebagai simbol ketahanan, menghadirkan pembicara dari luar sepak bola, bahkan mendatangkan pencopet untuk mencuri ponsel pemain saat acara publik.

Meski begitu, kemunduran tetap terjadi. Arsenal gagal finis empat besar pada musim 2021/2022, memunculkan lagi tudingan bahwa Arteta kurang pengalaman di level elite.

 


Fase Ketiga: Kembali ke Liga Champions

Pemain Arsenal David Raya, Martin Odegaard, Bukayo Saka, Ben White dan Declan Rice (kiri ke kanan melakukan selebrasi setelah memenangkan adu penalti pada pertandingan sepak bola leg kedua babak 16 besar Liga Champions melawan Porto FC di Emirates Stadium, London utara, 12 Maret 2024. (Adrian DENNIS/AFP)

Tahap berikutnya dari proyek Arteta berfokus mengembalikan Arsenal ke Liga Champions setelah bertahun-tahun absen dari kompetisi elite Eropa.

Arteta menganggap lolos ke Liga Champions penting bagi pertumbuhan finansial klub sekaligus kredibilitas jangka panjang di hadapan tim-tim terbaik Eropa.

Walau Arsenal akhirnya kalah dalam persaingan gelar Premier League musim 2022/2023 dari Manchester City, musim itu membuktikan perkembangan tim dengan membawa mereka kembali ke Liga Champions.

Musim-musim berikutnya membawa luka serupa, dengan Arsenal kembali finis di bawah Manchester City dan Liverpool meski memainkan salah satu sepak bola terbaik di Eropa.

Para pengkritik melabeli mereka “bottlers”, sementara pundit mempertanyakan apakah kontrol taktik obsesif Arteta benar-benar bisa menghasilkan trofi besar.

Kegagalan di turnamen piala, kekalahan krusial dalam perebutan gelar, dan keputusan taktik yang berujung buruk membuat Arteta terus disorot, terutama setelah kekalahan dari Southampton di Piala FA dan Manchester City di final Piala Liga musim ini.

Bahkan sempat muncul laporan bahwa masa depan Arteta bisa dievaluasi jika Arsenal kembali menutup musim tanpa trofi. Namun bukannya hancur secara emosional, Arsenal justru menjadi lebih tangguh secara mental.

 

 


Fase Keempat: Membangun Tim Pemenang

Selebrasi Alex Scott usai mencetak gol kedua Bournemouth ke gawang Arsenal dalam laga Premier League di Emirates Stadium, London, 11 April 2026. (Gyln Klark/AFP)

Setelah bertahun-tahun belajar dari rasa sakit, Arsenal akhirnya menjadi tim yang komplet ketika Arteta sadar sepak bola indah saja tidak cukup untuk mengalahkan Manchester City dalam musim sepanjang 38 pertandingan.

Klub berinvestasi besar untuk menambah fisik, kontrol permainan, dan ketajaman skuad, dengan David Raya menggantikan Ramsdale untuk membawa ketenangan di lini belakang.

Kai Havertz, Jurrien Timber, dan Mikel Merino menambah fleksibilitas dan kekuatan fisik. Declan Rice membawa kepemimpinan dan dominasi lini tengah, sementara Martin Zubimendi menghadirkan kecerdasan taktik dan ketenangan.

Kedalaman skuad juga meningkat drastis dengan hadirnya Viktor Gyokeres, Eberechi Eze, Noni Madueke, Piero Hincapie, Cristhian Mosquera, Christian Norgaard, dan Kepa Arrizabalaga.

Di bawah arahan Nicolas Jover, Arsenal juga menjadi salah satu tim bola mati paling berbahaya di Eropa setelah mencetak rekor 18 gol dari situasi set-piece selama musim juara.

Secara defensif, Arsenal berkembang menjadi tim paling komplet di liga berkat pressing agresif, organisasi permainan rapat, dan kemampuan mendominasi penguasaan bola maupun memenangkan laga sulit.

 

 


Fase Kelima: Menyabet Trofi

Selebrasi Bukayo Saka dkk. dalam laga Arsenal vs Atletico Madrid di leg kedua semifinal Liga Champions 2025/2026, Rabu (6/5/2026). (AP Photo/Alastair Grant)

Fase terakhir proyek Arteta selalu tentang memenangkan trofi besar. Tekanan menjadi sangat besar setelah bertahun-tahun nyaris juara karena apa pun selain trofi mulai dianggap sebagai kegagalan.

Kini Arsenal akhirnya berhasil melewati garis finis. Gelar Premier League ini menjadi pembuktian bagi semua pihak yang tetap percaya selama masa-masa tergelap proyek pembangunan ulang.

Mulai dari pemilik klub yang menolak mengganti pelatih hingga suporter yang bertahan meski terus diejek karena “trust the process”, semua akhirnya mendapat hadiah atas kesabaran mereka.

Hubungan Josh Kroenke dan Arteta menjadi salah satu elemen terpenting dalam kebangkitan Arsenal, dengan sang pelatih kini berkembang menjadi salah satu figur paling berpengaruh dalam sejarah modern klub.

Kepercayaan pemilik klub akhirnya dibayar lunas lewat gelar Premier League pertama sejak 2004.

Sumber: Sportmole

 

Berita Terkait