Mengulik Penyebab Cole Palmer Plus Phil Foden Tercoret dari Skuad Timnas Inggris untuk Piala Dunia 2026

Dunia sepak bola bergerak sangat cepat. Apa yang terasa mustahil dua tahun lalu, kini justru menjadi kenyataan pahit bagi Phil Foden dan Cole Palmer: keduanya diklaim tercoret dari skuad Timnas Inggris untuk Piala Dunia 2026.

BolaCom | Hendry WibowoDiterbitkan 22 Mei 2026, 12:15 WIB
Pemain Timnas Inggris, Phil Foden, memprotes wasit dalam pertandingan persahabatan internasional melawan Jepang di Wembley Stadium, Rabu (1/4/2026) dini hari WIB. (Adrian Dennis / AFP)

Bola.com, Jakarta - Dunia sepak bola bergerak sangat cepat. Apa yang terasa mustahil dua tahun lalu, kini justru menjadi kenyataan pahit bagi Phil Foden dan Cole Palmer.

Dua pemain yang sebelumnya diprediksi menjadi masa depan Timnas Inggris kini justru terancam gagal masuk skuad Timnas Inggris untuk Piala Dunia 2026. 

Advertisement

Media Inggris, BBC merilis daftar 26 nama pemain yang kemungkinan bocoran yang akan diumumkan Thomas Tuchel. Pada daftar tersebut tidak ada nama Harry Maguire, Phil Foden sampai Cole Palmer. 

Tidak adanya nama ketiga pemain top di atas menjadi bukti bahwa reputasi besar tidak selalu menjamin tempat di bawah kepemimpinan pelatih anyar Inggris, Thomas Tuchel.

Dua tahun lalu, Foden dan Palmer dianggap sebagai generasi emas baru The Three Lions. Foden bahkan tampil sebagai starter ketika Inggris kalah dari Spanyol di final Euro 2024, sementara Palmer masuk dari bangku cadangan dan mencetak gol yang sempat menghidupkan harapan Inggris.

Keduanya sama-sama merupakan produk akademi Manchester City. Foden berkembang menjadi bintang utama di bawah arahan Pep Guardiola, sedangkan Palmer memilih hengkang ke Chelsea demi mendapatkan menit bermain lebih banyak.

 

 


Nama Besar Bukan Jaminan

(Dari kiri ke kanan) Bek Inggris #02 Kyle Walker, kiper Inggris #01 Jordan Pickford, bek Inggris #05 Ezri Konsa, bek Inggris #12 Dan Burn, gelandang Inggris #17 Curtis Jones, gelandang Inggris #10 Jude Bellingham, dan penyerang Inggris #11 Marcus Rashford, (dari kiri ke kanan) gelandang Inggris #04 Declan Rice, penyerang Inggris #09 Harry Kane, bek Inggris #23 Myles Lewis-Skelly, dan gelandang Inggris #07 Phil Foden, berpose untuk foto bersama sebelum kick-off pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2026 Grup K antara Inggris dan Albania, di stadion Wembley di London, Sabtu dini hari WIB (22-3-2025). (Glyn KIRK/AFP)

Namun kini, jalur karier keduanya kembali bertemu dalam situasi yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya: sama-sama berpotensi dicoret dari skuad Piala Dunia Inggris.

Tuchel tampaknya benar-benar memegang prinsip bahwa performa terkini jauh lebih penting dibanding nama besar. Jika performa menurun, selalu ada pemain lain yang siap mengambil tempat.

Keberadaan dua nama pemain yang tampil apik di musim ini: Morgan Rogers dari Aston Villa dan Eberechi Eze dari Arsenal turut menyingkirkan Cole Palmer dan Phil Foden. 


Faktor Rogers dan Eze

Morgan Rogers merayakan golnya ke gawang Manchester United, Minggu (21/12/2025) (Jacob King/PA via AP)

Thomas Tuchel memang menaruh kepercayaan besar kepada Morgan Rogers. Rogers terus mendapat kesempatan selama era Tuchel dan kembali menunjukkan kualitasnya saat mencetak gol dalam kemenangan 3-0 Aston Villa atas Freiburg di final Liga Europa.

Lalu Eberechi Eze, secara statistik, kontribusi tujuh gol dan dua assist dalam musim juara Arsenal memang tidak terlalu mencolok. Namun, Eze berhasil mencetak tiga gol dalam enam laga kualifikasi Piala Dunia bersama Tuchel.

Cedera yang membuatnya absen pada laga persahabatan Maret lalu sempat membuka peluang bagi Foden dan Palmer untuk kembali merebut perhatian sang pelatih.

Namun Inggris justru tampil mengecewakan dengan hasil imbang 1-1 melawan Uruguay dan kalah 0-1 dari Japan national football team.

Situasi itu justru membuat Tuchel semakin sadar pentingnya sosok seperti Eze dalam skuadnya. Eze dianggap mampu memberikan kecepatan, kreativitas, dan unsur kejutan yang berbeda dibanding Bellingham maupun Rogers.

Dulu, Foden dan Palmer diprediksi menjadi starter utama Inggris di Piala Dunia. Kini, kenyataan berubah drastis. Mereka bukan lagi pilihan utama, bahkan untuk sekadar masuk skuad pun harus berjuang keras.

Itulah kerasnya sepak bola modern: performa hari ini jauh lebih penting daripada reputasi masa lalu.

Berita Terkait