Di Balik Pilihan Kontroversial Tuchel: Mengapa Jordan Henderson Masih Dibutuhkan Inggris di Piala Dunia 2026?

Mengapa Inggris tetap membawa Jordan Henderson ke Piala Dunia 2026? Berikut ulasannya.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 23 Mei 2026, 12:00 WIB
Pelatih Timnas Inggris asal Jerman, Thomas Tuchel (kanan), berbicara dengan gelandang Timnas Inggris, Jordan Henderson (kiri), saat jeda pertandingan persahabatan internasional antara Inggris dan Uruguay di Stadion Wembley, London barat, pada 27 Maret 2026. (Henry NICHOLLS/AFP)

Bola.com, Jakarta - Keputusan memasukkan Jordan Henderson ke skuad Inggris untuk Piala Dunia 2026 langsung memantik perdebatan. Di tengah melimpahnya stok gelandang muda dan kreatif, Thomas Tuchel justru tetap memberi tempat kepada pemain berusia 35 tahun itu.

Nama-nama seperti Cole Palmer, Phil Foden, Adam Wharton, hingga Morgan Gibbs-White akhirnya tersisih dari skuad final. Situasi itu memperlihatkan dengan jelas apa yang dicari Tuchel dalam komposisi timnya.

Advertisement

Persaingan di lini tengah Inggris memang sangat padat. Declan Rice dan Jude Bellingham sudah hampir pasti mendapat tempat sejak awal.

Penampilan konsisten Elliot Anderson juga sulit diabaikan. Belum lagi keberadaan Morgan Rogers, Eberechi Eze, dan Kobbie Mainoo yang menawarkan energi serta kreativitas berbeda.

Namun, Henderson tidak masuk kategori gelandang muda eksplosif atau pemain pembeda di sepertiga akhir lapangan. Dalam beberapa bulan terakhir, menit bermainnya bersama Brentford juga tidak terlalu banyak akibat rotasi dan masalah kebugaran.

Sejak pergantian tahun, ia hanya empat kali bermain penuh selama 90 menit.

Meski begitu, Tuchel tampaknya melihat hal lain yang tidak selalu tecermin lewat statistik.


Kualitas Nonteknis

Gelandang Brentford asal Inggris #06, Jordan Henderson, bertepuk tangan kepada para penggemar setelah peluit akhir berbunyi dalam pertandingan Premier League Inggris antara Brentford dan Liverpool di Stadion Komunitas Gtech, London, pada 25 Oktober 2025. (Glyn KIRK/AFP)

Henderson dianggap membawa kualitas nonteknis yang penting untuk turnamen sebesar Piala Dunia: kepemimpinan, pengalaman, dan profesionalisme.

Sosok seperti itu dinilai mampu menjaga atmosfer ruang ganti tetap stabil sekaligus membantu pemain muda tetap fokus ketika tekanan mulai meningkat.

Pada laga pembuka Inggris melawan Kroasia nanti, Henderson bahkan akan genap berusia 36 tahun. Jika tampil, ia berpeluang mencatat sejarah sebagai pemain pertama yang membela Inggris di tujuh turnamen besar berbeda dan empat edisi Piala Dunia.

Secara teknis, Inggris sebenarnya bisa saja memilih gelandang dengan umpan lebih progresif, kreativitas lebih tinggi, atau kemampuan menyerang kotak penalti yang lebih tajam.

Akan tetapi, dari sisi psikologis, keberadaan Henderson dianggap sangat berharga bagi Tuchel dan staf pelatih karena pengalamannya menghadapi situasi-situasi besar sebelumnya.


Peran Masih Relevan

Gelandang Brentford asal Inggris #06, Jordan Henderson (C), melompat untuk merebut bola dalam pertandingan Premier League Inggris antara Brentford dan Liverpool di Stadion Komunitas Gtech, London, pada 25 Oktober 2025. (Glyn KIRK/AFP)

Di lapangan, peran Henderson juga tetap dianggap relevan.

Dalam sistem lini tengah Keith Andrews di Brentford, kontribusinya lebih banyak berfungsi sebagai penyeimbang permainan. Ia kerap turun membantu pertahanan, menjaga sirkulasi bola, lalu membuka ruang bagi rekan setim lewat pergerakan tanpa bola.

Data SkillCorner menunjukkan sebagian besar pergerakan Henderson memang diarahkan untuk membantu fase pembangunan serangan.

Ia sering bergerak mendekati bola agar menjadi opsi umpan, maju mendukung serangan, bahkan melakukan overlap untuk menarik pemain lawan keluar dari posisinya.

Contoh itu terlihat saat menghadapi Manchester United. Henderson bergerak turun menerima bola dari bek Sepp van den Berg. Pergerakan tersebut membuat Yehor Yarmolyuk dan Mikkel Damsgaard bisa bergerak lebih tinggi dan menekan pertahanan lawan.

Selain membantu mengurangi tekanan terhadap bek tengah, Henderson kemudian mengirim umpan vertikal yang memecah garis pertahanan kepada Damsgaard dan mengubah situasi menjadi serangan berbahaya bagi Brentford.


Nyaman Bermain dalam Tekanan

Gelandang Timnas Uruguay, Federico Valverde (kanan), berlari menjauhi gelandang Timnas Inggris, Jordan Henderson, (kiri) selama pertandingan persahabatan internasional antara Inggris dan Uruguay di Stadion Wembley, London barat, pada 27 Maret 2026. (Henry NICHOLLS/AFP)

Ia juga dikenal nyaman bermain dalam tekanan.

Dalam pertandingan kontra Newcastle United, Henderson bergerak cepat mendekati Yarmolyuk yang sedang ditekan lawan. Sebelum menerima bola, ia sudah lebih dulu membaca arah permainan dan melihat pergerakan Dango Ouattara di depan.

Dengan satu sentuhan, Henderson melepaskan umpan pendek memutar yang langsung melewati dua gelandang lawan.

Momen seperti itu memang tidak terlalu mencolok. Namun, situasi semacam tersebut berulang kali diselesaikan Henderson sepanjang pertandingan, terutama ketika rekan setim membutuhkan jalan keluar di area sempit.

Kemampuan mengirim umpan jauh juga masih menjadi nilai tambahnya. Musim ini ia mencatat dua assist lewat umpan panjang yang menembus garis pertahanan lawan.

Momen itu terjadi saat melawan Manchester United dan Chelsea. Dalam kedua situasi tersebut, Henderson berada dekat area perebutan bola ketika serangan lawan gagal berkembang. Setelah merebut penguasaan, ia langsung mencari pergerakan pemain depan dengan umpan cepat ke ruang kosong.


Kecocokan dengan Lini Tengah Inggris

Pemain timnas Inggris, Jordan Henderson (kanan) merayakan golnya ke gawang Senegal bersama rekan setimnya, Jude Bellingham, dalam pertandingan 16 besar Piala Dunia 2022 yang berlangsung di Al Bayt Stadium, Qatar, Senin (5/12/2022). (AP Photo/Francisco Seco)

Hal lain yang ikut dipertimbangkan adalah kecocokan profil Henderson dengan komposisi lini tengah Inggris secara keseluruhan.

Berdasarkan model analisis The Athletic yang memakai data Opta dan SkillCorner, tujuh gelandang pilihan Tuchel memiliki enam tipe peran berbeda. Jude Bellingham, misalnya, digolongkan sebagai gelandang serbabisa, sementara Elliot Anderson lebih berfungsi sebagai pengatur tempo.

Dalam analisis tersebut, Henderson memiliki profil unik sebagai "Channel-ball Progressor", yakni gelandang yang bertugas mengalirkan permainan dari area dalam menggunakan variasi umpannya, terutama dari sisi kanan lini tengah.

Meski begitu, profil khusus itu saja sebenarnya belum cukup menjadi alasan utama pemilihannya.

Model tersebut juga menunjukkan Inggris justru kekurangan gelandang kreatif murni, tipe yang bisa diisi Palmer atau Foden. Adam Wharton dengan karakter "Anchoring Midfielder" serta kemampuan mengirim umpan progresif cepat juga dinilai bisa memberi warna berbeda.

Memang ada irisan peran antargelandang. Declan Rice, misalnya, tetap mampu bergerak ke area permainan Henderson, walaupun dikategorikan sebagai "Midfield Catalyst".

Namun, ketika kemampuan teknis Henderson dipadukan dengan kualitas kepemimpinan dan pengaruhnya di dalam tim, Tuchel tampaknya merasa Inggris membutuhkan sosok seperti dirinya di Piala Dunia 2026.

Henderson mungkin bukan pilihan paling eksplosif atau paling menarik dibanding opsi lain di lini tengah Inggris. Akan tetapi, pengalaman dan ketenangannya diyakini bisa menjadi elemen penting, baik di dalam maupun di luar lapangan.

 

Sumber: The Athletic

Berita Terkait