Pep Guardiola Menyimpan Satu Penyesalan Mendalam Sepanjang Karier Gemilangnya di Manchester City

Ada satu penyesalan yang Pep Guardiola pendam jauh di dalam hati sepanjang kariernya sebagai manajer Manchester City. Apakah itu?

BolaCom | Yus Mei SawitriDiterbitkan 23 Mei 2026, 20:30 WIB
Kekecewaan tersebut bertambah menyusul isu Pep Guardiola yang akan meninggalkan Manchester City pada akhir musim ini. (AFP/Glyn Kirk)

Bola.com, Jakarta - Pep Guardiola menikmati karier yang luar biasa selama 10 tahun menangani Manchester City. Kini, dia sudah memutuskan akan meninggalkan The Sky Blues pada akhir musim ini. 

Selama satu dekade bersama City, Guardiola berhasil mempersembahkan enam gelar Liga Inggris, satu trofi Liga Champions, serta beberapa titel lainnya. 

Advertisement

Namun, Guardiola baru-baru ini gagal mendapatkan perpisahan ideal di Etihad Stadium setelah mantan anak buahnya, Mikel Arteta, sukses membawa Arsenal meraih gelar Premier League bersejarah.

Meski sulit membayangkan Guardiola memiliki banyak penyesalan setelah era yang nyaris sempurna di Manchester City, para penggemar setia klub tampaknya sudah bisa menebak keputusan apa yang masih menghantui pria berusia 55 tahun tersebut.

Ya, ada satu penyesalan yang ia pendam jauh di dalam hati sepanjang kariernya sebagai manajer Manchester City.  Apakah itu? 


Menyesal Tak Kasih Kesempatan Joe Hart

Ekspresi kekecewaan Joe Hart usai pertandingan. (c) AFP

Guardiola datang ke City pada 2016 dan langsung membawa klub meraih gelar Premier League semusim kemudian dengan torehan bersejarah 100 poin. Ia menjadikan City tim pertama dalam sejarah Liga Inggris yang menjadi juara dengan raihan tiga digit poin.

Namun, di tengah perjalanan menuju pencapaian tersebut, Guardiola mencoret salah satu pemain favorit fans dari skuadnya. Keputusan itu hingga kini masih ia sesali.

Joe Hart, legenda Manchester City dan Timnas Inggris, hanya memainkan satu pertandingan kompetitif di bawah Guardiola, yakni laga kualifikasi Liga Champions.

Tak lama setelah itu, Hart meninggalkan klub karena Guardiola lebih memilih Claudio Bravo sebagai kiper utama.

Dalam wawancara dengan Sky Sports, Guardiola mengaku keputusan tersebut menjadi penyesalan yang telah lama ia pendam.

“Saya tidak memberi Joe Hart kesempatan untuk bersama saya, untuk membuktikan dirinya dan menunjukkan betapa hebatnya dia sebagai kiper. Dan saya seharusnya melakukan itu,” kata Guardiola, seperti dikutip dari Sportbible, Sabtu (23/5/2026). 

“Saya sangat menghormati Claudio Bravo dan Ederson. Tetapi saat itu saya seharusnya berkata, ‘Oke Joe, mari kita coba bersama. Kalau tidak berhasil, baru kita ubah.’”

“Tetapi semuanya sudah terjadi. Dalam hidup, terkadang saya harus mengambil keputusan dan kadang saya tidak cukup adil,” lanjutnya.

 

Setelah satu-satunya penampilannya di bawah Guardiola, Hart dipinjamkan ke Torino dan West Ham sebelum akhirnya bergabung permanen dengan Burnley pada 2018.

Hart, yang pernah memenangkan penghargaan Golden Glove Premier League tiga musim beruntun dari 2010 hingga 2013, juga sempat mengungkapkan pada 2020 bahwa Guardiola secara jelas memberinya sinyal untuk meninggalkan klub.

“Itu emosional. Tidak menyenangkan, tetapi juga luar biasa karena berada di stadion yang penuh cinta dari para fans,” ujar Hart tentang laga terakhirnya bersama City.

“Pep membuat semuanya sangat jelas bahwa saya harus meninggalkan Manchester City. Para fans di stadion juga menunjukkan bahwa keputusan itu bukan berasal dari mereka.”

Pengakuan Guardiola soal penyesalannya terhadap situasi Joe Hart diyakini akan sangat berarti bagi banyak fans Manchester City yang merasa sang legenda diperlakukan tidak adil.

Dan meski Guardiola telah memberikan kesuksesan luar biasa yang dulu nyaris mustahil dibayangkan para pendukung City, komentar terbarunya menunjukkan bahwa sosok Guardiola sebagai manusia mungkin akan lebih dirindukan daripada sekadar deretan trofi yang ia persembahkan.   


Sangat Berarti bagi Fans

Meskipun begitu, Pep Guardiola telah memberikan dua gelar juara untuk Manchester City pada musim ini dengan trofi FA Cup dan trofi Carabao Cup. (AP Photo/Ian Walton)

Setelah satu-satunya penampilannya di bawah Guardiola, Hart dipinjamkan ke Torino dan West Ham sebelum akhirnya bergabung permanen dengan Burnley pada 2018.

Hart, yang pernah memenangkan penghargaan Golden Glove Premier League tiga musim beruntun dari 2010 hingga 2013, juga sempat mengungkapkan bahwa Guardiola secara jelas memberinya sinyal untuk meninggalkan klub. 

“Itu emosional. Tidak menyenangkan, tetapi juga luar biasa karena berada di stadion yang penuh cinta dari para fans,” ujar Hart pada 2020 tentang laga terakhirnya bersama City.

“Pep membuat semuanya sangat jelas bahwa saya harus meninggalkan Manchester City. Para fans di stadion juga menunjukkan bahwa keputusan itu bukan berasal dari mereka.”

Pengakuan Guardiola soal penyesalannya terhadap situasi Joe Hart diyakini akan sangat berarti bagi banyak fans Manchester City yang merasa sang legenda diperlakukan tidak adil.

Meski Guardiola telah memberikan kesuksesan luar biasa yang dulu nyaris mustahil dibayangkan para pendukung City, komentar terbarunya menunjukkan bahwa sosok Guardiola sebagai manusia mungkin akan lebih dirindukan daripada sekadar deretan trofi yang ia persembahkan.   

Sumber: Sportbible

Berita Terkait