Bola.com, Jakarta - Ada hal-hal yang tidak pernah benar-benar hilang dari hidup manusia.
Ia tidak lenyap. Tidak musnah. Ia hanya berdiam di sudut-sudut ingatan, menunggu waktu yang tepat untuk kembali mengetuk pintu kesadaran.
Kadang ia datang bersama aroma tanah yang basah setelah hujan.
Kadang melalui lagu lama yang tiba-tiba terdengar di perjalanan.
Kadang melalui foto usang yang ditemukan di antara tumpukan buku yang telah lama tidak dibuka.
Dan kadang-kadang, ia datang bersama sebuah siaran sepak bola.
Musim panas 2026 menghadirkan pemandangan yang ganjil sekaligus mengharukan.
Di berbagai belahan dunia, manusia masih sibuk mempertahankan batas-batas wilayah, pengaruh, dan kepentingannya. Di beberapa kawasan, konflik bersenjata masih menyisakan luka yang belum sepenuhnya sembuh. Sebagian negara peserta Piala Dunia datang dengan cerita tentang perang, ketegangan geopolitik, dan masa depan yang belum pasti.
Momen Langka Merasakan Kegembiraan
Tetapi di tengah semua itu, sebuah bola kembali digulirkan.
Lapangan hijau kembali terbentang.
Lagu-lagu kebangsaan kembali berkumandang.
Dan miliaran manusia kembali melakukan sesuatu yang tampaknya sederhana, tetapi sesungguhnya semakin langka pada zaman ini: merasakan kegembiraan yang sama pada saat yang sama.
Mungkin itulah keajaiban terakhir yang masih dimiliki sepak bola.
Ketika para pemimpin negara berunding, para ekonom memperdebatkan angka, para analis menghitung risiko, dan para jenderal mengukur kekuatan, manusia biasa tetap bisa duduk berdampingan selama sembilan puluh menit untuk melupakan sejenak segala kecemasan yang memenuhi dunia.
Bukan Tentang Sepak Bola
Karena itu, Piala Dunia tidak pernah sekadar tentang sepak bola.
Ia adalah perayaan harapan.
Perayaan kemungkinan.
Perayaan keyakinan bahwa dalam hidup, selalu ada ruang bagi kejutan.
Dan entah mengapa, ketika layar televisi mulai menampilkan pertandingan-pertandingan Piala Dunia tahun ini, yang terlintas di benak banyak orang Indonesia bukanlah stadion-stadion megah di Amerika Utara.
Melainkan rumah.
Rumah yang mungkin kini sudah berubah.
Rumah yang mungkin telah direnovasi.
Rumah yang mungkin bahkan sudah tidak ada lagi.
Tetapi di sanalah dahulu Piala Dunia pertama kali datang.
Datang melalui televisi tabung yang kadang lebih banyak semutnya daripada gambarnya.
Datang melalui antena yang harus diputar ke kiri dan ke kanan.
Datang melalui suara komentator yang sesekali hilang ditelan cuaca.
Memahami Kegembiraan
Datang melalui mata seorang anak yang belum memahami apa itu formasi, apa itu taktik, bahkan apa itu offside, tetapi sudah mengerti apa itu kegembiraan.
Generasi Indonesia yang tumbuh pada tahun 1980-an dan 1990-an memahami perasaan itu.
Piala Dunia bukan sekadar turnamen empat tahunan.
Ia adalah musim yang ditunggu.
Perayaan yang datang dari tempat yang jauh.
Alasan yang sah untuk begadang.
Momen ketika orang tua sedikit melonggarkan aturan.
Malam ketika ruang tamu menjadi lebih hidup daripada siang hari.
Ada ayah yang menyeduh kopi.
Ada ibu yang diam-diam menyiapkan teh hangat dan gorengan atau rebusan.
Ada anak-anak yang berusaha melawan kantuk demi menyaksikan pertandingan hingga peluit akhir.
Ada tetangga yang keluar masuk rumah tanpa perlu undangan.
Ada warung kopi yang penuh sesak.
Ada pos ronda yang berubah menjadi tribun stadion.
Ada kampung yang mendadak memiliki satu topik pembicaraan yang sama.
Pada masa itu, Piala Dunia belum terasa jauh dari rakyat.
Ia mengalir seperti udara malam.
Masuk ke rumah-rumah tanpa memandang isi dompet penghuninya.
Keseteraan
Seorang anak petani di kaki gunung Sumbing di Wonosobo dapat menyaksikan pertandingan yang sama dengan seorang anak konglomerat di ibu kota.
Seorang nelayan di pesisir Natuna dapat berdebat tentang calon juara dunia dengan seorang dosen di kota besar.
Sepak bola menghadirkan sesuatu yang semakin jarang ditemukan dalam kehidupan modern: kesetaraan.
Untuk beberapa minggu, seluruh bangsa menatap layar yang sama.
Menunggu gol yang sama.
Membicarakan pemain yang sama.
Menyimpan mimpi yang sama.
Lalu waktu bergerak.
Penonton yang Terpisah
Sebagaimana semua hal dalam kehidupan, sepak bola pun berubah.
Teknologi berkembang.
Penyiaran menjadi semakin modern.
Industri olahraga tumbuh menjadi salah satu bisnis terbesar di dunia.
Hak siar melambung.
Platform bertambah.
Layar semakin canggih.
Dunia semakin terkoneksi.
Namun secara paradoks, pengalaman menonton bersama justru perlahan menyusut.
Menonton menjadi semakin personal.
Masing-masing dengan layar dan dunianya sendiri.
Masing-masing dengan algoritma dan pilihannya sendiri.
Masing-masing menjadi penonton yang terpisah.
Perayaan Rakyat
Padahal kekuatan terbesar Piala Dunia tidak pernah terletak pada stadion yang megah, teknologi yang canggih, atau sponsor yang berlimpah.
Kekuatan terbesarnya selalu berada pada kemampuannya membuat jutaan manusia merasakan emosi yang sama pada saat yang sama.
Karena itu, ketika hari ini Piala Dunia kembali hadir sebagai tontonan rakyat Indonesia, yang kembali bukan hanya siaran pertandingan.
Yang kembali adalah suasana.
Yang kembali adalah rasa.
Yang kembali adalah tradisi.
Yang kembali adalah memori kolektif sebuah bangsa.
Dan ternyata memori itu tidak pernah benar-benar mati.
Ia tetap hidup di kampung-kampung.
Ia tetap hidup di desa-desa.
Ia tetap hidup di tempat-tempat yang mungkin tidak pernah masuk dalam hitungan bisnis olahraga global.
Di Desa Pambusuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, misalnya, Piala Dunia tidak datang sebagai sebuah siaran televisi.
Ia datang sebagai perayaan rakyat.
Kampung Bola
Ratusan warga turun ke jalan membawa bendera negara-negara peserta. Rumah-rumah dihiasi warna tim favorit. Jalan-jalan berubah menjadi lautan warna. Kampung nelayan itu kembali menjelma menjadi “Kampung Bola”, sebuah tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi setiap kali Piala Dunia tiba.
Di Pasuruan, Jawa Timur, warga Desa Gerongan kembali memasang bendera-bendera negara peserta di sepanjang jalan desa. Mereka menyebut dirinya “Kampung Gila Bola”. Tidak ada sponsor besar. Tidak ada panggung mewah. Hanya ada kecintaan yang tulus terhadap sepak bola dan kegembiraan yang ingin dibagikan bersama.
Di Ambon, di Papua, di berbagai sudut Indonesia lainnya, cerita yang serupa muncul kembali.
Jalan-jalan dihiasi bendera.
Warung kopi dipenuhi pelanggan.
Anak-anak mulai menghafal nama pemain idolanya.
Penjahit bendera menerima pesanan lebih banyak dari biasanya.
Pedagang jersey kembali ramai.
Piala Dunia menghidupkan sesuatu yang jauh melampaui pertandingan.
Ia menghidupkan ruang perjumpaan.
Betapa indahnya pemandangan itu.
Ingatan Kolektif
Di saat dunia sibuk menghitung nilai kontrak sponsor bernilai miliaran dolar, sebuah kampung nelayan di Sulawesi justru mengingatkan bahwa inti sepak bola tidak pernah berada pada uang.
Ia berada pada kegembiraan.
Pada rasa memiliki.
Pada kemampuan sebuah permainan menyatukan manusia ke dalam satu cerita yang sama.
Mungkin malam ini ada seorang ayah yang mengajak anaknya menonton pertandingan sebagaimana dulu ia diajak oleh ayahnya.
Mungkin ada seorang ibu yang tersenyum melihat ruang tamunya kembali ramai.
Mungkin ada seorang kakek yang bercerita tentang para pemain yang pernah membuat generasinya jatuh cinta kepada sepak bola.
Mungkin ada anak kecil yang baru pertama kali melihat bendera-bendera dunia berbaris di layar televisi dan mulai bermimpi mengenakan seragam Indonesia di panggung terbesar sepak bola dunia.
Dan mungkin, tanpa disadari siapa pun, sebuah estafet kenangan sedang berlangsung.
Dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dari satu ruang tamu ke ruang tamu yang lain.
Dari masa lalu menuju masa depan.
Bukankah semua bangsa besar pada akhirnya dibangun oleh cerita-cerita seperti itu?
Bukan hanya oleh jalan raya, pelabuhan, kawasan industri, atau angka pertumbuhan ekonomi.
Tetapi juga oleh pengalaman bersama yang membentuk ingatan kolektif warganya.
Menanti Kejutan
Turnamen ini masih panjang.
Kejutan-kejutan masih menunggu di tikungan waktu.
Selalu ada tim unggulan yang tumbang ketika dunia terlalu cepat menjagokannya.
Selalu ada negara yang datang tanpa banyak harapan lalu pulang membawa sejarah.
Selalu ada pemain muda yang datang tanpa sorotan lalu pergi sebagai legenda.
Selalu ada gol pada menit-menit terakhir yang membuat jutaan manusia melompat dari tempat duduknya secara bersamaan.
Dan selalu ada kisah yang tidak mampu diprediksi oleh statistik mana pun.
Karena sepak bola, pada akhirnya, adalah seni dari ketidakpastian.
Ia mengajarkan bahwa harapan selalu memiliki tempat, sekecil apa pun peluangnya.
Mungkin karena itulah dunia tidak pernah bosan menunggunya.
Di Tengah Dunia yang Gaduh
Di tengah zaman yang semakin gaduh, Piala Dunia mengingatkan kita pada sesuatu yang sering terlupakan.
Bahwa manusia tidak hidup hanya dari pekerjaan.
Tidak hidup hanya dari angka.
Tidak hidup hanya dari transaksi.
Manusia juga hidup dari kenangan.
Dari cerita.
Dari kegembiraan yang dibagikan bersama.
Dan ketika untuk pertama kalinya setelah sekian lama Piala Dunia kembali hadir sebagai tontonan rakyat Indonesia, yang sesungguhnya sedang dipulihkan bukanlah akses terhadap siaran.
Yang sedang dipulihkan adalah sebuah pengalaman kebangsaan.
Pengalaman tentang berkumpul.
Tentang berbagi.
Tentang menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada diri kita sendiri.
Sebab pada akhirnya, yang paling dikenang dari sebuah pertandingan bukanlah skor akhirnya.
Melainkan dengan siapa kita menontonnya.
Di mana kita menontonnya.
Dan bagaimana perasaan kita ketika malam itu berlalu.
Rumah Rakyat
Bertahun-tahun dari sekarang, banyak orang mungkin lupa siapa yang mencetak gol pertama di Piala Dunia 2026.
Banyak yang mungkin lupa hasil pertandingan tertentu.
Bahkan mungkin lupa siapa yang menjadi juara.
Tetapi mereka akan mengingat malam-malam itu.
Malam ketika keluarga berkumpul.
Malam ketika kampung kembali hidup.
Malam ketika anak-anak diperbolehkan begadang.
Malam ketika dunia terasa sedikit lebih damai daripada biasanya.
Malam ketika kenangan lama menemukan jalan pulangnya.
Dan bersama kenangan itu, Piala Dunia pun pulang.
Pulang ke ruang tamu.
Pulang ke warung kopi.
Pulang ke pos ronda.
Pulang ke kampung-kampung.
Pulang ke hati jutaan rakyat Indonesia.
Pulang ke rumahnya yang paling sejati.
Rumah rakyat.
Azis Subekti
*)Pemerhati sepakbola, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra