Kutukan Pemain Spesialis Penalti Menghantui Piala Dunia 2026, Inggris Patut Waspada

Data Opta bikin Inggris waswas, strategi pemain spesialis penalti lebih sering gagal.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 01 Juli 2026, 16:30 WIB
Thomas Tuchel, pelatih Timnas Inggris, berbicara kepada para pemain Inggris saat istirahat minum selama pertandingan Grup L Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Ghana di Stadion Boston pada 24 Juni 2026 di Foxborough, Massachusetts. (Mattia Ozbot/Getty Images via AFP)

Bola.com, Jakarta - Adu penalti kembali menjadi momok yang menghantui turnamen besar. Kekalahan Jerman dari Paraguay di babak 32 besar Piala Dunia 2026 memunculkan lagi satu fakta menarik, yakni strategi memasukkan pemain khusus untuk menjadi algojo penalti ternyata lebih sering gagal daripada berhasil.

Kondisi ini sekaligus menjadi peringatan bagi Timnas Inggris.

Advertisement

Paraguay memang berhasil menyingkirkan Jerman lewat adu penalti. Namun, satu keputusan pelatih Gustavo Alfaro justru kembali menyoroti efektivitas strategi pergantian pemain pada menit-menit akhir, khusus untuk menghadapi tos-tosan.

Beberapa detik sebelum perpanjangan waktu berakhir, Alfaro memasukkan mantan bek West Ham United, Fabian Balbuena. Bek berusia 34 tahun itu dipersiapkan untuk mengeksekusi penalti.

Balbuena kemudian dipercaya menjadi penendang kelima Paraguay. Seandainya berhasil mencetak gol, ia akan langsung memastikan kemenangan timnya. Namun, eksekusinya mampu digagalkan kiper Jerman, Manuel Neuer.

Beruntung bagi Paraguay, kegagalan Jonathan Tah pada kesempatan berikutnya kembali membuka peluang. Jose Canale akhirnya sukses mengeksekusi penalti penentu yang memastikan langkah Paraguay ke babak 16 besar.


Statistik Bicara

Pemain Bolivia Roberto Fernandez (kiri) berebut bola dengan pemain Paraguay Fabián Balbuena pada pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2022 di Stadion Hernando Siles, La Paz, Bolivia, Kamis (14/10/2021). Bolivia menang 4-0. (Javier Mamani/Pool via AP)

Menurut data Opta, delapan dari 10 pemain yang masuk sebagai pemain pengganti setelah menit ke-115 dalam pertandingan Piala Dunia atau Euro, gagal menjalankan tugasnya pada adu penalti.

Balbuena menjadi nama terbaru dalam daftar tersebut. Sebelumnya, Justin Kluivert hampir masuk kategori yang sama.

Pemain Bournemouth itu masuk menggantikan Cody Gakpo pada menit ke-112 saat Belanda menghadapi Maroko. Dalam adu penalti, tendangannya membentur tiang gawang sehingga Belanda harus mengakui keunggulan lawannya.

Inggris menjadi satu di antara tim yang paling sering merasakan pahitnya strategi tersebut.


Pahitnya Inggris

Kiper Portugal, Ricardo (C), menyelamatkan penalti bek Inggris, Jamie Carragher (L), selama adu penalti pertandingan perempat final Piala Dunia 2006 antara Inggris vs. Portugal, 1 Juli 2006 di stadion Gelsenkirchen. Portugal menang 3-1 melalui adu penalti. (FOTO AFP/ODD ANDERSEN ODD ANDERSEN/AFP)

Pada Piala Dunia 2006, Jamie Carragher awalnya sukses mengeksekusi penalti ke gawang Portugal. Namun, wasit Horacio Elizondo memerintahkan tendangan diulang.

Pada percobaan kedua, sepakannya ditepis hingga mengenai mistar gawang, sebelum Portugal memastikan kemenangan dan menyingkirkan Inggris di perempat final.

Kisah serupa terjadi pada final Euro 2020. Marcus Rashford dan Jadon Sancho dimasukkan pada menit-menit akhir untuk menghadapi adu penalti, tetapi keduanya gagal menjalankan tugas saat Inggris kalah dari Italia.


Contoh yang Berhasil

Reaksi penyerang Argentina #21, Paulo Dybala, setelah dia mencetak gol dalam adu penalti pada pertandingan final Piala Dunia Qatar 2022 antara Argentina dan Prancis di Stadion Lusail di Lusail, utara Doha pada 18 Desember 2022. (AFP/Kirill Kudryavtsev)

Menariknya, dalam 20 tahun terakhir hanya ada satu contoh tim yang berhasil menerapkan strategi serupa saat menghadapi Inggris.

Penyerang Burnley, Zeki Amdouni, yang masuk sebagai pemain pengganti mampu menaklukkan Jordan Pickford dari titik putih. Namun, gol tersebut tidak mengubah hasil akhir karena tim asuhan Gareth Southgate tetap menang 5-3.

Sementara itu, satu-satunya contoh sukses di Piala Dunia dalam dua dekade terakhir terjadi pada final edisi Qatar, 2022.

Paulo Dybala, yang hanya lima kali menyentuh bola setelah masuk sebagai pemain pengganti, sukses mengeksekusi penalti dan membantu Argentina mengalahkan Prancis untuk menjadi juara dunia.


Harapan Toney

Penyerang Inggris Ahli bernomor punggung 99, Ivan Toney, merayakan kemenangannya dengan medali setelah memenangkan pertandingan final Liga Champions AFC antara Al-Ahli dari Arab Saudi dan Kawasaki dari Jepang di King Abdullah Sports City di Jeddah pada 3 Mei 2025. (AFP)

Statistik tersebut juga memperkuat pandangan penyerang Inggris, Ivan Toney, yang berharap bisa memberikan kontribusi lebih dari sekadar menjadi spesialis penalti.

"Saya ingin berpikir bahwa saya bisa memberikan lebih dari sekadar penalti," kata Toney.

"Namun, jika saya hanya dimainkan satu menit untuk mengambil penalti, saya tidak akan pernah menolaknya. Saya berada di sini untuk membantu tim. Sepak bola berubah sangat cepat dan kami melihatnya di Euro. Saya hanya bermain satu menit, lalu merasa kecewa."

"Kemudian kami mencetak gol dan lolos. Tidak ada yang bisa menganggap pertandingan sudah selesai. Anda hanya harus siap ketika kesempatan itu datang," ucap striker Al Ahli itu.

 

Sumber: Talksport


Berita Terkait