Bola.com, Jakarta - Gianni Infantino kembali menjadi sorotan setelah laporan The Times menyebut Presiden FIFA itu sedang mempertimbangkan penjualan sebagian kepemilikan komersial Piala Dunia kepada investor swasta.
Laporan tersebut memicu kritik baru terhadap kepemimpinannya yang sejak lama dinilai penuh kontroversi.
Selain rencana tersebut, sejumlah kebijakan dan keputusan Infantino selama menjabat sebagai Presiden FIFA terus menuai perdebatan. Ia lantas dibandingkan dengan pendahulunya, Sepp Blatter.
Seperti diketahui, saat memimpin FIFA, Sepp Blatter juga mencatatkan sejumlah kontroversi. Pun demikian, kepemimpinan Infantino dinilai lebih buruk.
Benarkah? Berikut senbilan alasan yang membuat kepemimpinan Infantino di FIFA dinilai lebih buruk dibandingkan pendahulunya, Sepp Blatter, versi Planet Football.
1. Perluasan Format Piala Dunia
FIFA di bawah kepemimpinan Gianni Infantino memperluas jumlah peserta Piala Dunia menjadi 48 tim mulai edisi 2026.
Kebijakan tersebut mendapat kritik karena dianggap mengurangi tingkat persaingan di fase grup dan membuat setiap pertandingan kehilangan nilai pentingnya.
Di sisi lain, format baru itu juga dinilai memberi kesempatan lebih besar kepada negara-negara yang sebelumnya sulit lolos ke putaran final.
Pada Piala Dunia 2026, sembilan dari sepuluh wakil Afrika berhasil melaju ke fase gugur.
2. Pidato Kontroversial di Qatar
Infantino menjadi sorotan setelah menyampaikan pidato kontroversial menjelang dimulainya Piala Dunia 2022 di Qatar.
Dalam pidatonya, ia mengatakan merasa sebagai orang Qatar, Arab, Afrika, gay, penyandang disabilitas, dan pekerja migran. Infantino juga mengaku memahami diskriminasi karena pernah mengalami perundungan saat kecil akibat rambut merah dan bintik-bintik di wajahnya.
Pernyataan tersebut menuai kritik karena dianggap tidak sensitif terhadap isu hak asasi manusia yang sedang menjadi perhatian dunia.
3. Kedekatan dengan Donald Trump
Hubungan Infantino dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, juga menjadi sasaran kritik.
Di tengah berbagai kontroversi terkait penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Infantino dinilai terlalu dekat dengan Trump.
Penilaian itu muncul setelah FIFA membuka kantor di Trump Tower dan Infantino beberapa kali tampil bersama Trump.
4. Pertunjukan Hiburan pada Final Piala Dunia
FIFA memastikan final Piala Dunia 2026 akan menghadirkan pertunjukan hiburan saat jeda pertandingan untuk pertama kalinya. Coldplay dilibatkan dalam proses pemilihan artis yang akan tampil.
Namun, keputusan tersebut memicu kritik karena dinilai mengadopsi konsep Super Bowl dan menggeser fokus utama dari pertandingan sepak bola.
5. Minim Menghadapi Media
Jika pada era Blatter konferensi pers masih menjadi bagian dari aktivitas Presiden FIFA, situasi tersebut dinilai berubah di bawah Infantino.
Infantino disebut lebih sering menyampaikan pengumuman melalui Instagram daripada menjawab pertanyaan para jurnalis, termasuk saat Kongres FIFA.
6. Era Selebritas di FIFA
Keterlibatan figur publik dalam berbagai acara FIFA juga menuai kritik selama kepemimpinan Infantino.
Kehadiran YouTuber iShowSpeed, Salt Bae, dan sejumlah selebritas lain dalam berbagai ajang FIFA dinilai sebagian penggemar mengurangi kesan eksklusif dan kehormatan turnamen sepak bola dunia.
7. Masuk ke Album Stiker
Infantino menjadi perhatian setelah wajahnya dimasukkan ke album stiker Panini edisi Piala Dunia Antarklub.
Keputusan tersebut dianggap tidak perlu oleh sebagian penggemar karena album stiker dinilai seharusnya lebih menonjolkan para pemain, bukan administrator sepak bola.
8. Perubahan Keputusan Hukuman Pemain
FIFA menuai kritik setelah hukuman larangan bermain terhadap Cristiano Ronaldo dan Folarin Balogun dibatalkan.
Keputusan tersebut memunculkan anggapan bahwa FIFA tidak menerapkan aturan secara konsisten terhadap seluruh pemain.
Kendati tidak ada bukti Infantino terlibat langsung, perubahan keputusan itu tetap menjadi sorotan.
9. Rencana Menjual Piala Dunia
Laporan The Times menyebut Infantino tengah menyiapkan skema penjualan sebagian kepemilikan komersial Piala Dunia kepada investor swasta.
Menurut laporan tersebut, FIFA berencana membentuk perusahaan baru yang akan mengelola aset komersial Piala Dunia.
Setelah masa jabatannya sebagai Presiden FIFA berakhir pada 2031, Infantino disebut berpotensi memimpin perusahaan tersebut.
Rencana itu memicu kritik karena dinilai dapat mengubah Piala Dunia menjadi aset bisnis yang lebih berorientasi pada kepentingan investor dibandingkan kepentingan sepak bola.
Sumber: Planet Football
Penulis: Fauzi Ananta Dharmawan