Bola.com, Jakarta - Siapa striker nomor 9 terbaik di dunia saat ini? Tiga nama teratas rasanya sudah cukup jelas, tetapi menentukan urutan mereka bukan perkara mudah.
Lalu, siapa saja yang paling mendekati para penyerang elite dari Manchester City, Real Madrid, dan Bayern Munchen?
Sebelum masuk ke daftar, ada sedikit penjelasan. Daftar ini khusus membahas striker dan pemain yang memang berposisi sebagai No. 9. Artinya, tidak ada pemain sayap, penyerang dari sisi lapangan, atau pemain ofensif yang kerap bergerak ke area tengah.
Fokusnya adalah para penyerang murni yang menjadi ujung tombak tim. Dengan pertimbangan tersebut, berikut 10 striker terbaik di dunia saat ini, seperti dikutip dari Planet Football, Selasa (12/8/2026).
7. Julian Alvarez
Julian Alvarez bisa dibilang masih menjadi teka-teki. Ada kalanya penyerang asal Argentina itu seperti menghilang dari permainan dalam waktu yang cukup lama pada musim lalu, terutama ketika Atletico Madrid menghadapi lawan-lawan yang tidak terlalu glamor di La Liga.
Catatan delapan gol di liga juga terbilang mengecewakan untuk pemain yang kabarnya memiliki banderol mencapai 150 juta euro. Jika benar pindah ke Arsenal atau Barcelona, tuntutan terhadap Alvarez tentu akan jauh lebih besar.
Namun, ketika melihat rekam jejaknya dalam pertandingan-pertandingan besar, Alvarez tetap punya daya tarik tersendiri.
Ia memainkan peran penting dalam keberhasilan Manchester City meraih treble, menjadi bagian dari kesuksesan Argentina menjuarai Piala Dunia 2022, mencetak gol spektakuler ke gawang Swiss pada musim panas ini, serta tampil impresif saat Atletico Madrid melaju hingga semifinal Liga Champions.
Alvarez seperti pemain yang hanya membutuhkan sistem yang tepat untuk benar-benar meledak. Namun, konsistensi masih menjadi pekerjaan rumah jika ia ingin disejajarkan dengan para legenda modern di posisi teratas daftar ini.
6. Mikel Oyarzabal
Ada anggapan bahwa Spanyol hanya membutuhkan seorang superstar sejati di lini depan untuk berubah menjadi tim yang tak terbendung. Seolah-olah satu-satunya alasan mereka gagal menghancurkan lawan-lawannya di Piala Dunia adalah karena kurang tajam di depan gawang.
Anggapan itu sedikit tidak adil bagi Mikel Oyarzabal.
Ia mencetak gol kemenangan pada final Euro 2024, kemudian mengakhiri Piala Dunia kali ini dengan lima gol. Jumlah tersebut bahkan sudah cukup untuk menjadi pencetak gol terbanyak di sejumlah edisi Piala Dunia sebelumnya. Oyarzabal juga mengemas 18 gol dalam 21 penampilan terakhirnya bersama Timnas Spanyol.
Namun, Oyarzabal seolah tidak terlalu tertarik mengejar status superstar. Jika ia memilih pindah ke klub yang lebih besar dan membangun profil yang lebih mencolok, mungkin sekarang dirinya sudah menjadi ujung tombak salah satu klub elite Eropa.
Sebaliknya, ia memilih bertahan bersama klub masa kecilnya, Real Sociedad. Sebuah keputusan yang patut dihormati.
5. Lautaro Martinez
Lautaro Martinez harus menerima kenyataan pahit pada final Piala Dunia 2026. Dua pergantian pemain di posisi bek tengah membuat striker Inter Milan itu harus memulai pertandingan dari bangku cadangan.
Padahal, Lautaro sebelumnya menjadi sosok penting lewat aksi-aksi menentukan saat Argentina menghadapi Mesir, Swiss, dan Inggris. Alhasil, pertanyaan "bagaimana jika Lautaro dimainkan?" mungkin akan terus menghantui Argentina untuk waktu yang lama.
Lautaro telah mencetak 40 gol untuk Argentina dan 175 gol bersama Inter Milan. Ia masing-masing menjadi pencetak gol terbanyak keempat sepanjang sejarah Argentina dan ketiga sepanjang sejarah Inter.
Ia juga telah memenangkan tiga gelar Scudetto, dua di antaranya dilengkapi penghargaan sebagai top scorer Serie A. Lautaro turut membawa Nerazzurri mencapai dua final Liga Champions.
Rasanya Lautaro belum mendapatkan apresiasi sebesar yang layak diterimanya. Namun, melihat catatan tersebut, tidak ada keraguan bahwa El Toro merupakan salah satu pencetak gol kelas dunia.
4. Victor Osimhen
Bayangkan, striker terbaik keempat di dunia saat ini justru bermain di Liga Super Turki. Begitulah sepak bola modern.
Selain beberapa nama yang berada di posisi teratas daftar ini, dunia sepak bola memang sedang kekurangan penyerang tengah yang benar-benar berstatus kelas dunia. Besarnya nilai transfer yang dikaitkan dengan sejumlah striker menjadi bukti nyata.
Namun, ketika melihat Victor Osimhen, muncul pertanyaan: mengapa penyerang Nigeria itu belum menjadi ujung tombak salah satu klub elite Eropa?
Penampilannya di Liga Champions ketika menghadapi Liverpool dan Juventus menunjukkan kualitas striker yang seharusnya mampu bermain untuk klub seperti Barcelona atau Manchester United.
Osimhen memiliki kombinasi kecepatan, kekuatan fisik, naluri mencetak gol, dan kemampuan mencari ruang yang membuatnya sangat sulit dihentikan. Jika berada dalam sistem yang tepat, bukan tidak mungkin ia bisa kembali menunjukkan level terbaiknya.
3. Erling Haaland
Tiga nama teratas berada di level yang berbeda. Sulit menemukan jarak yang berarti di antara mereka. Bahkan, ada argumen kuat bahwa ketiganya merupakan tiga pemain terbaik di dunia, terlepas dari posisi yang dimainkan.
Jadi, jangan menganggap posisi ketiga sebagai bentuk meremehkan Erling Haaland. Justru sebaliknya, ini merupakan bukti betapa luar biasanya dua pemain yang berada di atasnya.
Sekilas, peta sentuhan Haaland bersama Manchester City memang bisa membuat orang menyimpulkan bahwa permainan sang striker cukup terbatas. Ia seolah sangat bergantung pada kreativitas pemain-pemain di sekitarnya. Berbeda dengan Harry Kane, misalnya, yang bisa turun jauh ke belakang dan ikut mengatur permainan.
Namun, penilaian seperti itu justru gagal memahami kekuatan utama Haaland.
Ia pertama kali mencuri perhatian dunia setelah mencetak sembilan gol dalam satu pertandingan Piala Dunia U-20. Haaland kemudian langsung mencetak hattrick pada debutnya di Liga Champions bersama RB Salzburg. Ia bahkan mengakhiri fase grup dengan delapan gol, termasuk dua gol ke gawang Napoli dan satu gol kontra Liverpool.
Catatan gilanya berlanjut bersama Borussia Dortmund sebelum membantu Manchester City meraih treble di bawah Pep Guardiola, pelatih yang sebenarnya tidak dikenal sering membangun tim dengan mengandalkan striker nomor 9 tradisional.
Bersama Timnas Norwegia, Haaland juga sudah mengemas 62 gol hanya dalam 55 pertandingan. Ia menjadi bagian penting dari keberhasilan Norwegia menyingkirkan Brasil dan mencatat kiprah terbaik mereka sepanjang sejarah Piala Dunia.
Sebagai striker nomor 9 murni, Haaland sudah mulai masuk dalam pembicaraan mengenai legenda sepak bola sepanjang masa meski baru berusia 26 tahun.
Ia mungkin merupakan bentuk paling sempurna dari seni seorang penyerang tengah sejak era Gerd Muller, ketika legenda Jerman itu mendominasi dengan gelar Ballon d'Or, Piala Eropa, dan Piala Dunia pada era 1970-an.
2. Kylian Mbappe
"Jika Anda tidak pernah melihat Ronaldo Nazario bermain, kira-kira seperti inilah rasanya."
Kalimat tersebut menjadi salah satu unggahan paling menarik selama Piala Dunia setelah Kylian Mbappe kembali menghancurkan pertahanan lawan. Entah saat menghadapi Senegal, Swedia, maupun Maroko, sulit dibedakan karena penampilan luar biasa pemain nomor 10 Prancis itu sudah terasa seperti rutinitas.
Membandingkan Mbappe dengan Ronaldo Nazario mungkin terdengar berlebihan. Namun, dalam kasus penyerang Prancis tersebut, perbandingan itu ternyata memang cukup masuk akal.
Bahkan Wayne Rooney pernah memberikan penilaian serupa.
"Messi dan Ronaldo adalah dua pemain terbaik, tetapi Kylian Mbappe adalah pemain yang paling mendekati R9," ujar Rooney.
"Dia punya skill, berani menghadapi pemain lawan, mampu berlari di belakang pertahanan, mencetak gol, dan saya pikir kita justru berisiko tidak cukup menghargai apa yang dia lakukan."
Ronaldo Nazario sendiri juga pernah mengakui kemiripan tersebut.
"Ketika saya melihat Kylian Mbappe, dia mengingatkan saya pada diri saya sendiri saat berada di masa terbaik," kata Il Fenomeno kepada L'Equipe.
Mbappe kini merupakan pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia. Ia juga menjadi pemain pertama yang mampu memenangkan dua Sepatu Emas Piala Dunia.
Kita sedang menyaksikan sesuatu yang bersejarah.
Memang ada beberapa pertanyaan mengenai kontribusinya dalam bertahan dan apakah kelemahan tersebut akan terekspos di level tertinggi. Mbappe juga belum pernah memenangkan Liga Champions. Bahkan, hanya meraih satu trofi mayor bersama Prancis bisa dianggap kurang maksimal jika melihat kualitas skuad yang dimiliki.
Namun, masalahnya adalah kita sering mencampurkan kualitas individu dengan performa kolektif.
Jika Mbappe bermain di depan lini tengah yang solid, seperti milik Spanyol atau PSG saat ini, rasanya sulit membayangkan dirinya tidak berkembang menjadi pemain yang lebih dahsyat lagi.
1. Harry Kane
Gol bukanlah satu-satunya ukuran untuk menilai seorang striker. Namun, jika sedang membicarakan penyerang tengah, jumlah gol tetap menjadi faktor yang sangat penting.
Harry Kane mencetak 61 gol di semua kompetisi bersama Bayern Munchen pada musim lalu.
Sebagai gambaran, jumlah tersebut bahkan lebih banyak daripada yang pernah dibukukan Cristiano Ronaldo dalam satu musim terbaiknya.
Kane juga meraih Sepatu Emas Eropa untuk kedua kalinya dan menutup musim dengan mencetak hattrick dalam kemenangan Bayern Munchen di final DFB Pokal. Enam gol di Piala Dunia juga bukan catatan yang buruk.
Bukan hanya mengungguli Haaland dan Mbappe dalam urusan mencetak gol musim lalu, Kane melakukannya sambil tetap berperan dalam permainan kolektif.
Ia kerap turun lebih dalam, membuka ruang, mengalirkan bola, serta menjalankan fungsi layaknya seorang playmaker kelas dunia.
Berbeda dengan Haaland, Kane memang belum memenangkan Liga Champions. Berbeda pula dengan Mbappe, ia belum mengangkat trofi Piala Dunia.
Namun, melihat performanya, Kane berpeluang menjadi pemain pertama di antara ketiganya yang memenangkan Ballon d'Or.
Dan jika itu terjadi, penghargaan tersebut akan menjadi pengakuan atas salah satu striker paling komplet di generasinya.
Sumber: Planet Football