Bola.com, Jakarta - FIFA membuka proses disipliner terhadap tiga anggota Timnas Mesir menyusul pernyataan kontroversial setelah kekalahan dari Argentina pada babak 16 besar Piala Dunia 2026.
Asosiasi Sepak Bola Mesir (EFA) mengonfirmasi bahwa proses tersebut ditujukan kepada Hossam Hassan (pelatih Timnas Mesir), Ibrahim Hassan (manajer tim), dan Mostafa Ziko (pemain)
Ketiganya sebelumnya melontarkan tudingan keras setelah Mesir tersingkir dari Piala Dunia 2026.
Hossam Hassan menilai Mesir sebenarnya tampil lebih baik daripada Argentina, tetapi keputusan wasit membuat hasil pertandingan terasa tidak adil."
Kami adalah tim yang lebih baik hari ini melawan Argentina, tetapi sepak bola tidak adil dan apa yang terjadi tidak adil, meski FIFA mengangkat slogan fair play," ujar Hossam Hassan, seperti dikutip GOAL.
Hossam kemudian mempertanyakan kemungkinan adanya faktor komersial di balik keberlanjutan Argentina di Piala Dunia 2026.
"Bisa jadi masalah pemasaran menjadi alasannya. Mereka tidak ingin Lionel Messi tersingkir, mereka ingin sang juara dunia terus melaju di Piala Dunia," lanjutnya.
Komentar Gelandang Mesir
Pernyataan serupa disampaikan Mostafa Ziko. Gelandang serang Timnas Mesir itu bahkan menuding Piala Dunia 2026 telah diatur setelah negaranya kalah dari Argentina.
"Selamat untuk Argentina atas gelar Piala Dunia. Turnamen ini sudah diatur, wasit tidak adil. Sejak awal pertandingan, dia sudah merugikan kami dan menghancurkan kerja keras sebuah bangsa," sentil Ziko.
Pemain berusia 29 tahun itu juga mempertanyakan apakah Mesir memang tidak diperbolehkan mengalahkan Argentina dengan skor 2-0.
"Apakah mereka akan membiarkan kami mengalahkan Argentina 2-0? Turnamen ini sudah diatur. Selamat untuk Argentina," sindir pemain Pyramids di Premier League Mesir tersebut.
Komentar Manajer
Ibrahim Hassan turut menyampaikan kritik terhadap kepemimpinan wasit. Ia menilai Mesir sebenarnya mampu melanjutkan perjalanan di Piala Dunia 2026 setelah sempat unggul 2-0.
"Kami unggul 2-0 atas Argentina dan mampu melanjutkan perjalanan, seandainya bukan karena kesalahan-kesalahan wasit yang mencolok dan disaksikan semua orang," ujar Ibrahim.
Pernyataan dari kubu Mesir tersebut muncul di tengah gelombang tudingan mengenai keberpihakan terhadap Argentina selama Piala Dunia 2026.
Sejumlah teori konspirasi terkait Timnas Argentina berkembang di media sosial sepanjang turnamen yang berlangsung di Amerika Utara.
FIFA dan para perangkat pertandingan bahkan dituduh memberikan perlakuan khusus kepada Argentina dan para pemainnya, terutama Lionel Messi.
Tuduhan Keberpihakan
Kapten Timnas Argentina itu menjadi satu di antara pemain yang mendapat sorotan sepanjang turnamen, meski telah berusia 39 tahun pada Juni lalu.
Sejumlah suporter juga mempermasalahkan keputusan wasit dalam pertandingan Argentina.
Tuduhan mengenai keberpihakan kian ramai setelah sejumlah keputusan kontroversial kembali dinilai menguntungkan Argentina.
Kondisi tersebut bahkan memicu petisi dari sejumlah penggemar yang meminta Argentina dikeluarkan dari Piala Dunia karena tudingan korupsi.
Namun, Chief Refereeing Officer FIFA, Pierluigi Collina, telah membantah secara tegas tudingan bahwa Piala Dunia telah diatur.
Jalani Proses Disipliner
Kini, EFA mengonfirmasi proses disipliner FIFA terhadap Hossam Hassan, Ibrahim Hassan, dan Mustafa Ziko.
Dalam pernyataan resminya, EFA menyebut pihaknya mengikuti proses disipliner yang dijalankan FIFA terhadap ketiganya menyusul pernyataan mereka setelah pertandingan Mesir melawan Argentina.
EFA juga menegaskan akan memberikan tanggapan serta dokumen pembelaan dalam batas waktu yang telah ditentukan.
EFA menyatakan tetap mendukung pihak-pihak yang menjalani proses tersebut sekaligus membela kepentingan sepak bola Mesir melalui jalur resmi.
"Asosiasi menegaskan penghormatannya terhadap prinsip fair play dan badan-badan penyelenggara, sekaligus mempertahankan hak penuh untuk membela kepentingan staf pelatih dan para pemain di hadapan badan-badan FIFA yang berwenang," tulis EFA, dilansir Give Me Sport.
Argentina melanjutkan perjalanan hingga final Piala Dunia 2026. Namun, langkah mereka akhirnya terhenti setelah kalah 0-1 dari Spanyol dalam pertandingan final di New York New Jersey Stadium pada 19 Juli.
Sumber: Give Me Sport