Bola.com, Jakarta - Cesc Fabregas membuktikan dirinya bukan sekadar mantan pemain hebat yang mencoba peruntungan di dunia kepelatihan.
Dalam waktu kurang dari dua musim sejak memulai karier sebagai pelatih, Fabregas sukses membawa Como 1907 mencatat sejarah dengan tampil di Liga Champions untuk pertama kalinya dalam 119 tahun sejarah klub.
Menariknya, kesuksesan tersebut tidak lahir begitu saja. Fabregas meracik filosofi kepelatihannya dengan mengambil pelajaran dari sejumlah pelatih top yang pernah bekerja dengannya sepanjang karier sebagai pemain.
Arsene Wenger, Pep Guardiola, Jose Mourinho, Antonio Conte, Vicente del Bosque, hingga Luis Aragones pernah menjadi bagian dari perjalanan Fabregas. Masing-masing memberikan pelajaran berbeda yang kemudian ia kombinasikan saat menangani Como.
Arsene Wenger, Bagaikan Ayah Kedua
Wenger menjadi salah satu figur paling penting dalam perkembangan Fabregas. Pelatih asal Prancis itu memberikan kesempatan kepada Fabregas yang masih berusia 16 tahun setelah sang gelandang meninggalkan Barcelona dan bergabung dengan Arsenal pada 2003.
Selama delapan tahun memperkuat The Gunners, Fabregas tampil 303 kali dengan torehan 57 gol dan 97 assist. Ia juga mempersembahkan FA Cup serta Community Shield untuk Arsenal.
Bagi Fabregas, pengaruh Wenger tidak hanya soal sepak bola. "Arsene Wenger seperti ayah kedua bagi saya," kata Fabregas, seperti dikutip dari The Sun, Jumat (11/9/2026).
Ia mengaku banyak belajar tentang transisi permainan dan bagaimana menyerang ruang dari Wenger. Filosofi sepak bola menyerang dan berpikir ke depan yang diterapkan Wenger pun kemudian menjadi salah satu fondasi gaya kepelatihannya.
Namun, ada satu pelajaran lain yang menurut Fabregas sangat penting, yaitu kesabaran.
Fabregas menyadari mengembangkan pemain muda membutuhkan waktu. Ia pun berusaha menerapkan pendekatan tersebut di Como.
Menurutnya, pelatih zaman sekarang sering kali tidak memiliki banyak waktu. Kekalahan dalam dua pertandingan saja bisa membuat posisi seorang pelatih berada di ujung tanduk.
Fabregas memilih pendekatan berbeda. Ia ingin memberikan kesempatan kepada pemain muda untuk berkembang, meski proses tersebut tidak selalu berjalan mulus.
Pep Guardiola Jadi Guru Taktik Utama
Jika Wenger menjadi sosok yang membentuk karakter dan filosofi sepak bolanya, Pep Guardiola merupakan guru terbesar Fabregas dalam urusan taktik.
Fabregas kembali ke Barcelona pada 2011 dan berada di bawah arahan Guardiola. Di Camp Nou, ia bermain bersama Lionel Messi, Andres Iniesta, dan Xavi. Pengalaman tersebut memberikan pengaruh besar terhadap cara Fabregas melihat permainan.
"Secara taktik, Pep adalah pelatih yang paling banyak saya pelajari," ujar Fabregas.
Menurutnya, Guardiola selalu mempelajari lawan secara mendalam. Ia mengetahui apa yang mungkin dilakukan lawan dan kemudian memberikan solusi kepada para pemainnya.
Pendekatan tersebut kini coba diterapkan Fabregas di Como. Ia ingin para pemainnya mampu memahami apa yang terjadi di lapangan dan mengetahui solusi ketika menghadapi situasi berbeda.
"Para pemain selalu membutuhkan bantuan untuk mengidentifikasi apa yang terjadi di lapangan," tuturnya.
Mourinho Mengajarkan Seni Mengelola Ruang Ganti
Jose Mourinho juga meninggalkan pelajaran penting bagi Fabregas ketika keduanya bekerja sama di Chelsea pada 2014.
Bersama Mourinho, Fabregas belajar bahwa menjadi pelatih bukan hanya perkara taktik. Kemampuan membaca kondisi mental pemain dan mengelola ruang ganti juga sangat penting.
Fabregas mengagumi keberanian Mourinho dalam mengambil keputusan. Bahkan, ia mengingat bagaimana Mourinho terkadang melakukan tiga pergantian pemain sekaligus saat jeda pertandingan demi mengubah jalannya laga.
"Dia sangat cepat memahami pemain, apa yang dibutuhkan tim pada setiap momen, dan siapa yang bisa memberikan apa yang dibutuhkan untuk memenangkan pertandingan," kata Fabregas.
Ada satu pesan Mourinho yang terus diingat Fabregas. Ketika menemukan masalah, segera selesaikan dan jangan membiarkannya berlarut-larut.
Pelajaran tersebut turut membentuk keberanian Fabregas dalam mengambil keputusan sebagai pelatih.
Antonio Conte Justru Paling Sedikit Ditiru
Menariknya, dari seluruh pelatih yang pernah bekerja dengannya, Antonio Conte justru menjadi sosok yang paling sedikit ditiru Fabregas.
Conte memang sukses membawa Chelsea meraih gelar Liga Inggris dan Piala FA ketika Fabregas berada di dalam skuad.
Fabregas bahkan mengakui Conte sebagai pelatih yang paling banyak bekerja dengannya secara taktik dan fisik. Namun, ada satu hal yang membuat Fabregas tidak sepenuhnya cocok dengan pendekatan Conte.
Conte memberikan instruksi sangat spesifik kepada pemain mengenai apa yang harus dilakukan di lapangan. Bagi Fabregas, pendekatan tersebut terlalu membatasi intuisi pemain.
Menurut Fabregas, sepak bola tidak bisa dimainkan dengan pola yang sama setiap saat. Ketika lawan sudah memahami cara bermain sebuah tim, pemain harus mampu beradaptasi.
"Anda tidak bisa memberi tahu pemain untuk melakukan hal yang sama setiap saat," ujarnya.
Karena itulah Fabregas ingin pemain Como mampu mengambil keputusan sendiri berdasarkan situasi yang mereka hadapi di lapangan.
Dari Timnas Spanyol, Ada Pelajaran soal Kebebasan dan Ketenangan
Fabregas juga mendapat banyak pelajaran ketika membela Timnas Spanyol di bawah Luis Aragones dan Vicente del Bosque.
Di bawah Aragones, Fabregas mendapatkan kebebasan untuk bermain lebih fleksibel. Prinsip tersebut kini ia coba terapkan kepada para pemain Como.
Sementara itu, Del Bosque mengajarkannya tentang ketenangan. Pendekatan tersebut membantu Fabregas bermain lebih nyaman dan tidak terlalu terbebani ketika melakukan kesalahan.
Bersama Spanyol, Fabregas turut merasakan kesuksesan besar dengan menjuarai Euro 2008, Piala Dunia 2010, dan Euro 2012.
Racikan Fabregas Mulai Terlihat di Como
Kini seluruh pelajaran tersebut berpadu dalam filosofi Fabregas di Como.
Tim asal Italia itu banyak mengandalkan formasi 4-3-3 dengan permainan umpan-umpan pendek dan jarak antarlini yang rapat. Fabregas juga mengutamakan permainan melalui area tengah untuk mempercepat transisi.
Ketika kehilangan bola, Como dapat berubah menjadi 4-1-4-1 dengan struktur pertahanan yang solid. Menariknya, para gelandang juga diberikan kebebasan untuk terus bertukar posisi dan menjalankan peran berbeda sepanjang pertandingan.
Filosofi tersebut memperlihatkan pengaruh Wenger dan Guardiola yang sangat kuat: membangun serangan secara terstruktur, menciptakan keunggulan jumlah pemain, serta menguasai lini tengah. Namun, Fabregas juga memasukkan unsur keberanian dari Mourinho serta fleksibilitas yang ia pelajari dari Aragones dan Del Bosque. Hasilnya mulai terlihat.
Dalam waktu kurang dari dua musim sebagai pelatih, Fabregas membawa Como menembus Liga Champions untuk kali pertama sepanjang sejarah klub. Bahkan, Como mengawali petualangan Eropa mereka dengan gemilang setelah menghajar RB Leipzig 4-1 pada laga debut Liga Champions, Jumat (11/9/2026).
Fabregas memang belajar dari para pelatih terbaik yang pernah menanganinya. Namun, ia tidak sekadar meniru.
Ia mengambil bagian terbaik dari setiap gurunya, kemudian meramunya menjadi identitasnya sendiri.
Sumber: The Sun