Bola.com, Jakarta - Gianni Infantino berpeluang kembali terpilih sebagai Presiden FIFA, meski terus mendapat kritik.
AFP melaporkan, sejumlah pengamat menilai, belum munculnya kandidat kuat yang mampu menantangnya menjadi keuntungan bagi pria asal Swiss tersebut dalam pemilihan Maret 2027.
Infantino kehilangan dukungan sejumlah asosiasi sepak bola setelah meluncurkan rencana FIFA Forward Enterprise (FFE), sebelum akhirnya membatalkannya dalam waktu singkat.
Program yang diperkenalkan pada Juli lalu itu bertujuan membentuk anak perusahaan komersial untuk mengelola turnamen utama FIFA, termasuk Piala Dunia, dengan membuka peluang investasi swasta.
Meski demikian, Infantino masih memiliki basis dukungan kuat di Afrika dan Amerika Selatan.
Sementara itu, dua pengkritik utamanya, Aleksander Ceferin dan Victor Montagliani, dilaporkan memilih kembali mencalonkan diri sebagai pimpinan UEFA dan CONCACAF.
Kondisi tersebut membuat kubu oposisi kesulitan menemukan kandidat yang sepadan. Batas pendaftaran calon ditetapkan pada 18 November 2026.
Infantino Masih Pegang Kendali
Terrence Burns, ahli strategi pemasaran yang terlibat dalam dua pencalonan tuan rumah Piala Dunia yang sukses, menilai Infantino masih memegang kendali.
"Dia memegang semua kartu dan sejak awal memang selalu demikian," kata Burns kepada AFP.
Menurutnya, calon penantang yang muncul saat ini berpotensi sekadar menjadi bagian dari manuver politik atau upaya membuat kesepakatan.
Mantan kepala pemasaran Komite Olimpiade Internasional (IOC), Michael Payne, juga mempertanyakan belum munculnya kandidat serius.
"Jika dia terpilih kembali, yang tampaknya makin mungkin terjadi, itu akan mendefinisikan ulang istilah Houdini," ujarnya, merujuk pada pesulap legendaris yang dikenal mampu meloloskan diri dari situasi sulit.
Pengkritik Infantino
Presiden Federasi Sepak Bola Norwegia (NFF), Lise Klaveness, termasuk pengkritik Infantino yang mendapat perhatian, tetapi telah menutup kemungkinan maju dalam pemilihan.
Kalaupun berubah pikiran, ia akan menghadapi tantangan besar sebagai calon perempuan pertama yang memimpin sepak bola dunia, mengikuti Kirsty Coventry yang menjadi perempuan pertama terpilih sebagai Presiden IOC tahun lalu.
Seorang sumber yang memahami tata kelola sepak bola dunia mengatakan kepada AFP bahwa situasi Klaveness berbeda dengan Coventry.
Jika jajaran IOC mendukung Coventry sesuai keinginan pendahulunya, Thomas Bach, staf FIFA justru diperkirakan akan berupaya menghalangi Klaveness terpilih.
Tantangan Hukum
Meski begitu, posisi Infantino belum sepenuhnya aman. Pihak oposisi telah mengajukan gugatan di Amerika Serikat dan menyampaikan pengaduan resmi kepada komite FIFA.
Klaveness dan NFF menyoroti tiga persoalan yang salah satunya berkaitan dengan hubungan Infantino dan Presiden AS, Donald Trump.
Perusahaan modal ventura milik Josh Kushner, saudara dari menantu Trump, Jared Kushner, sebelumnya direncanakan menjadi investor utama FFE.
Namun, sumber tersebut meragukan pengaduan yang diajukan akan segera ditindaklanjuti. Jika tidak puas dengan keputusan FIFA, pihak Norwegia dikhawatirkan membawa perkara itu ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS).
Burns menilai ancaman lebih besar datang dari langkah hukum UEFA di pengadilan AS untuk memperoleh dokumen terkait FFE. FIFA saat ini berupaya keras menentang langkah tersebut.
"Jika FFE hanya merupakan kesalahan dalam proses dan strategi komunikasi, mengapa detailnya harus disembunyikan?" kata Burns.
Menurutnya, persoalan transparansi itu akan terus membayangi Infantino.
Perpecahan Internal
Payne juga menilai berkurangnya dukungan dari negara-negara sepak bola terkemuka, seperti Spanyol, Prancis, dan Inggris, dapat merugikan Infantino.
Ia memperingatkan FIFA berisiko mengalami perpecahan internal yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam organisasi olahraga global.
Burns, sebaliknya, memperkirakan federasi-federasi sepak bola pada akhirnya akan memilih berdamai dengan Infantino demi menghindari perpecahan, kecuali terdapat bukti kuat aktivitas kriminal yang membenarkan upaya penyingkirannya.
Ia menilai tidak ada keuntungan finansial yang cukup besar bagi federasi jika Infantino disingkirkan.
Burns bahkan memperkirakan polemik tersebut justru akan memperkuat konsolidasi kekuasaan dan pengaruh Infantino ketika seluruh proses berakhir.
Sumber: AFP via Japan Today