Bola.com, Kediri - Liga Indonesia terkenal kejam bagi para pelatih klub. Hingga pekan keenam, sebanyak empat nakhoda ti harus menepi dari pentas BRI Super League 2026/2027.
Hasil buruk jadi alasan bagi Persijap Jepara, PSIM Yogyakarta, dan Arema FC memutus kerja sama dengan Mario Lemos, Juan Cortes, Jean-Paul van Gastel, dan Marcos Santos.
Kasus yang terjadi di Persijap cukup unik dan menarik karena Mario Lemos dan Juan Cortes dua kali saling tukar posisi.
Di awal musim ini, Mario Lemos yang edisi lalu berhasil menyelamatkan Laskar Kalinyamat dari degradasi, diberi jabatan Direktur Teknik.
Persijap memilih merekrut Juan Cortes untuk menukangi tim. Namun, dalam perjalanan, lantaran dinilai gagal, Juan Cortes tukar jabatan dengan Mario Lemos dari pelatih kepala menjadi direktur teknik.
Akan tetapi, saat Mario Lemos memegang kendali tim lagi, dia akhirnya harus benar-benar meninggalkan Persijap.
Fenomena Kejam?
Dalam hitungan hari, pelatih asal Portugal itu ditampung Persis sebagai direktur teknik untuk kompetisi Pegadaian Championship 2026/2027.
Sementara PSIM dan Arema FC langsung memberhentikan Jean-Paul van Gastel dan Marcos Santos karena gagal memenuhi target dan ekspektasi manajemen.
Andre Caldas yang ditunjuk sebagai pelatih interim Singo Edan langsung unjuk gigi. Arema FC menghajar Dewa United 4-0 pada laga pekan ketujuh di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang, Minggu (25-10-2026).
Pengamat sepak bola nasional, Gusnul Yakin, tak heran lagi dengan fenomena "kejam" di kompetisi Tanah Air.
"Bagi pelatih, baik lokal maupun asing, yang pernah berkarier di Indonesia, sudah tahu liga kita memang kejam. Jadi, mereka pun paham risiko akan dipecat di tengah jalan," katanya.
Pahit Perjalanan Karier
Pengamat sepak bola senior asal Malang ini pernah merasakan pahitnya perjalanan kariernya ketika dilengserkan dari kursi melatih Persik pada 2011.
"Alasan utama pelatih dipecat karena dinilai gagal memberi prestasi. Saya kira itu wajar dan realistis. Saya dulu dipecat Persik juga akibat prestasi buruk. Tapi, sejak awal saya tahu karena materi pemain Persik tak cukup kuat untuk bersaing di kompetisi. Jadi, saya legawa diberhentikan. Saya kira pelatih lain yang dipecat juga sadar diri," ungkapnya.
Namun, Gusnul Yakin pernah terpaksa meninggalkan Persibo Bojonegoro karena masalah finansial klub. Padahal, dia sudah membangun tim cukup mumpuni sesuai bujet manajemen.
"Saya pernah mundur dari Persibo karena keuangan klub sangat minim. Saat itu manajemen membelikan sepatu pemain saja tak mampu. Padahal, saya bekerja dengan pemain. Setelah pertandingan melawan Persebaya dan Manokwari dengan hasil seri, saya pamit baik-baik kepada manajemen Persibo," ujarnya.