Terpuruk, Masalah MU Jauh Lebih Besar Ketimbang Mengklaim Michael Carrick Gagal

Persoalan Setan Merah diyakini jauh lebih besar daripada sekadar kegagalan sang pelatih.

Bola.com, Jakarta - Manchester United (MU) kembali terjerembap dalam periode sulit. Rentetan hasil buruk membuat posisi Michael Carrick sebagai manajer berada di ujung tanduk.

Namun, persoalan Setan Merah diyakini jauh lebih besar daripada sekadar kegagalan sang pelatih.

Carrick sempat dianggap sebagai sosok yang mampu memberikan harapan baru di Old Trafford.

Setelah mengambil alih tim pada Januari, ia bahkan mencatatkan rekor terbaik di Premier League pada musim sebelumnya.

Ia datang dengan ide permainan yang jelas, mampu mendapatkan dukungan pemain, dan beberapa kali membuat keputusan pergantian pemain yang tepat.

Kini, situasinya berubah drastis. MU terpuruk di papan bawah Premier League dan kesulitan bersaing di Liga Champions.

Delapan pertandingan tanpa kemenangan, ditambah dua kekalahan telak beruntun dari klub-klub yang dianggap lebih kecil, membuat masa depan Carrick semakin tidak pasti.

 

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Michael Carrick Kehilangan Jawaban untuk MU

Carrick mengakui dirinya masih mencari solusi atas kemerosotan performa MU. Ia menyadari banyak pertanyaan yang harus dijawab setelah timnya kembali gagal mendapatkan hasil positif.

“Jika saya benar-benar memiliki jawabannya, saya tidak akan membiarkan hal ini terjadi,” ujar Carrick.

“Jika ada sesuatu yang benar-benar bisa saya kendalikan untuk mengubah situasi ini, saya tentu tidak akan membiarkannya terjadi. Saya sudah berusaha melakukan segala yang saya bisa agar kami tidak berada dalam posisi seperti sekarang.”

Kemerosotan itu terasa semakin menyakitkan karena Carrick sebelumnya memberikan sikap optimistis.

Ia mampu menemukan formasi yang tepat, mendapatkan kepercayaan para pemain, dan membuat keputusan taktis yang efektif.

Namun, dalam pertandingan melawan Bournemouth, Carrick justru menggunakan sistem 3-4-3 yang mengingatkan pada pendekatan Ruben Amorim. Hasilnya, MU kembali gagal menunjukkan performa meyakinkan.

Situasi semakin rumit setelah Bruno Fernandes tidak dimainkan. Kapten yang sebelumnya menjadi salah satu pemain paling berpengaruh di tim itu dicadangkan setelah mengkritik taktik sang manajer.

Carrick bahkan memilih memasukkan Joshua Zirkzee dan pemain muda Shea Lacey sebelum memberikan kesempatan kepada gelandang asal Portugal tersebut.

Keputusan itu memunculkan pertanyaan mengenai hubungan Carrick dengan Fernandes.

Bukan tidak mungkin, keputusan tersebut mencerminkan retaknya hubungan di antara keduanya ketika tekanan terhadap sang pelatih semakin besar.

Performa Pemain dan Masalah Fisik Ikut Menjadi Sorotan

Kegagalan MU tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada Carrick. Performa sejumlah pemain juga jauh dari harapan.

Fernandes dan Harry Maguire termasuk nama yang mengalami kesulitan, tetapi persoalan tersebut tidak berhenti pada dua pemain senior itu.

Senne Lammens, Diogo Dalot, Lisandro Martinez, Ayden Heaven, Andrey Santos, Youri Tielemans, hingga Matheus Cunha juga disebut belum mampu tampil konsisten.

Persoalan lain adalah minimnya mobilitas pemain. MU kesulitan menjaga intensitas permainan karena terlalu banyak pemain yang tidak mampu berlari cukup jauh atau mempertahankan kecepatan yang dibutuhkan.

Hal ini memunculkan pertanyaan mengenai kondisi fisik skuad sekaligus kualitas komposisi tim yang dibangun sebelum musim berjalan.

Formasi tiga bek yang digunakan Carrick saat menghadapi Bournemouth bahkan terkesan menjadi upaya untuk menutupi kelemahan pemain di sejumlah posisi sentral.

Di sisi pertahanan, MU juga belum menemukan kestabilan. Mereka kerap kebobolan pada awal pertandingan di kompetisi Eropa maupun pada menit-menit akhir di Inggris.

Gol dari situasi bola mati, kesalahan individu, hingga kebobolan ketika lawan bermain dengan 10 orang menjadi gambaran rapuhnya pertahanan Setan Merah.

Mereka juga berulang kali kemasukan dua gol dalam rentang waktu singkat. Carrick dikenal sebagai pelatih yang berusaha membangun kepercayaan diri pemain dan memberikan dukungan kepada skuadnya.

Namun, pendekatan itu belum menghasilkan respons yang diharapkan. Ketika tim membutuhkan penampilan terbaik, MU justru dua kali menyerah dalam lima hari.

Rekrutmen Pemain Membuat Carrick Kesulitan Menentukan Formasi

Persoalan MU juga berkaitan dengan ketidakseimbangan komposisi skuad. Direktur olahraga Jason Wilcox dinilai belum mampu menyediakan kedalaman dan kualitas yang memadai di sejumlah posisi.

Matheus Cunha, misalnya, kesulitan ketika dimainkan sebagai penyerang tengah. Sementara itu, pilihan pemain spesialis di posisi tersebut terbatas pada Benjamin Sesko yang rentan cedera dan Zirkzee yang belum memberikan kontribusi sesuai harapan.

Masalah serupa muncul di sektor bek kiri. Luke Shaw menjadi satu-satunya pemain yang secara alami menempati posisi tersebut, tetapi ia sedang mengalami cedera.

Akibatnya, empat pemain lain harus bergantian mengisi posisi itu tanpa hasil yang benar-benar memuaskan.

Lini tengah, yang dahulu menjadi area permainan Carrick ketika masih aktif sebagai pemain, juga belum menemukan formula ideal.

Duet Casemiro dan Kobbie Mainoo sempat menjadi kombinasi yang menjanjikan, tetapi kini keduanya tidak lagi tersedia sebagai pasangan reguler.

Perombakan lini tengah senilai 155 juta poundsterling yang dipimpin Wilcox seharusnya membawa perubahan besar.

Namun, hasilnya belum sesuai harapan. Carlos Baleba sempat menunjukkan awal yang menjanjikan sebelum performanya menurun, sedangkan Tielemans dinilai kesulitan bermain dalam duet gelandang dan akhirnya ditempatkan lebih maju.

Andrey Santos pun belum mampu memberikan dampak positif secara konsisten. Ia telah menjadi starter dalam enam pertandingan, tetapi MU menelan kekalahan dalam lima di antaranya.

Kondisi itu membuat Carrick harus bekerja dengan pilihan pemain yang terbatas. Ketika komposisi skuad tidak seimbang, menentukan susunan pemain terbaik menjadi tantangan tersendiri bagi seorang manajer.

Pemecatan Carrick Belum Tentu Menyelesaikan Masalah

Masa depan Carrick kini makin tidak menentu. Pengalamannya sebagai manajer Middlesbrough juga memperlihatkan pola serupa: mulai dengan menjanjikan, tapi kemudian menurun.

Meski demikian, penunjukannya sebagai pelatih interim MU sebelumnya memiliki dasar yang cukup kuat.

Ia mengumpulkan 39 poin dari 17 pertandingan ketika menjalankan tugas tersebut, sehingga mendapatkan kesempatan untuk memimpin tim di Old Trafford.

Keputusan menunjuk Carrick sebagai pelatih sementara merupakan salah satu langkah yang dinilai tepat dari Wilcox dan CEO Omar Berrada.

Memecatnya hanya dua bulan setelah musim berjalan justru berpotensi mempertegas buruknya keputusan manajemen dalam mengelola klub.

Carrick memang belum menemukan jawaban untuk mengatasi krisis MU. Akan tetapi, persoalannya tidak hanya terletak pada taktik atau keputusan sang pelatih.

Kualitas skuad, keseimbangan komposisi pemain, kebugaran, kesalahan individu, dan lemahnya ketahanan mental menjadi pekerjaan rumah yang lebih besar.

Pergantian manajer mungkin memberikan perubahan jangka pendek, tetapi tidak otomatis memperbaiki akar persoalan tersebut.

Jika Carrick akhirnya kehilangan pekerjaannya, manajemen MU tetap harus menjawab pertanyaan yang sama: siapa yang benar-benar memiliki rencana untuk membawa klub keluar dari lingkaran kegagalan yang terus berulang di Old Trafford?

Sumber: Independent

Persaingan di Premier League

Video Populer

Foto Populer