Merebak Fenomena Pemecatan Pelatih di Awal Musim BRI Super League: Persaingan Kejam, Nasib Sejumlah Nama Terancam

Terbaru, Arema FC memutuskan berpisah dengan Marquinhos Santos pada pekan keenam BRI Super League.

Bola.com, Jakarta - Fenomena pemecatan pelatih mulai marak terjadi memasuki pekan ketujuh BRI Super League 2026/2027. Sejauh ini, sudah ada empat juru taktik yang kehilangan pekerjaannya di awal musim.

Terbaru, Arema FC memutuskan berpisah dengan Marquinhos Santos pada pekan keenam BRI Super League.

Penyebabnya, Singo Edan melalui lima pertandingan tanpa kemenangan. Situasi ini makin pelik setelah mereka dihajar Persija Jakarta dengan skor 1-5.

Sebelum momen itu, PSIM Yogyakarta juga telah menghentikan Jean-Paul van Gastel dari posisinya sebagai pelatih kepala.

Juru taktik asal Belanda ini terdepak dari Laskar Mataram karena gagal mempersembahkan kemenangan pada lima laga awal.

Yang lebih pelik lagi, Persijap Jepara jadi tim yang paling rajin gonta-ganti pelatih pada awal musim.

Sejauh ini, Laskar Kalinyamat telah memecat dua pelatih, yakni Juan Cortes dan Mario Lemos, dan satu caretaker, Antonio Claudio.

Jika mendalami fenomena ini, ada beberapa faktor yang mendasari. Tekanan suporter menjadi salah satu sumber yang membuat manajemen bertindak tegas untuk mencopot pelatih.

Berikut Bola.com menyajikan ulasannya.

 

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Faktor Tekanan Suporter

Keputusan klub-klub mendepak pelatihnya pada awal musim ini memang tak bisa dilepaskan dari faktor tekanan suporter yang sangat terasa.

Sebagian besar klub yang berpisah dengan pelatihnya memang kerap mendapatkan tekanan itu.

Misalnya, PSIM Yogyakarta sering kali mendapatkan protes dari suporternya akibat hasil jeblok yang diraih Laskar Mataram.

Bahkan, suporter PSIM sempat menggeruduk manajemen untuk meluapkan kekecewaannya.

Momen itu tepatnya terjadi seusai PSIM Yogyakarta tumbang dari PSM Makassar pada pekan kelima.

Bermain di kandang sendiri, Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul, Laskar Mataram justru kalah dengan skor 1-2 dari Juku Eja.

Seusai laga, para suporter mendatangi Wisma PSIM. Mereka meluapkan kekecewaannya, sekaligus mendesak manajemen untuk segera mencopot Van Gastel dari posisinya.

Langkah ini akhirnya diambil manajemen jelang pekan keenam dan menunjuk Guntur Cahyo Utomo sebagai caretaker.

Situasi yang sama juga dialami oleh manajemen Persijap Jepara. Keputusan mereka memecat dua pelatihnya, yakni Juan Cortes dan Mario Lemos, juga tak bisa dilepaskan dari desakan para suporter yang cukup kencang.

Namun, langkah yang diambil manajemen Persijap memang sering kali sulit ditebak. Setelah sempat menunjuk Juan Cortes di awal musim, mereka kemudian menunjuk Direktur Teknik-nya, Mario Lemos, menjadi pelatih kepala.

Sebagai gantinya, Juan Cortes mengisi jabatan sebagai direktur teknik. Setelah berpisah dengan Mario Lemos pada pekan keempat, mereka menunjuk Antonio Claudio sebagai caretaker. Setelah hasilnya tak berubah, Juan Cortes kembali ditunjuk jadi pelatih kepala.

Klub Tanpa Suporter

Kondisi yang dialami tim-tim tersebut tentu berbeda jika dibandingkan dengan kontestan BRI Super League yang tak punya basis suporter. Lihat saja apa yang dialami oleh dua tim promosi, Isenmulang FC dan Garudayaksa FC.

Garudayaksa FC mengalami situasi yang buruk di awal musim ini. Berstatus sebagai jawara kasta kedua musim lalu, mereka gagal mengamankan kemenangan pada empat pekan awal, dengan rekor dua imbang dan dua kali kalah.

Kemenangan baru didapatkan Milos Joksic pada pekan kelima setelah menumbangkan Arema FC. Setelah laga ini, mereka kembali dihantam dua kekalahan beruntun menghadapi Bali United (0-5) dan Persib Bandung (1-2).

Namun, tampaknya nasib Milos Joksic masih aman-aman saja karena tidak ada tekanan dari fans. Hal semacam ini juga dialami Isenmulang FC. Tim ini malah mengalami catatan yang jauh lebih buruk di awal musim.

Isenmulang FC sempat dihantam empat kekalahan beruntun di BRI Super League dan menduduki posisi juru kunci. Setelah itu, mereka mulai bangkit dengan catatan satu kemenangan dan dua imbang.

Meskipun demikian, hasil ini belum menyelamatkan Laskar Tambun Bungai dari klasemen papan bawah. Mereka sempat mendapatkan sanksi pengurangan dua poin di awal musim karena berpindah kandang setelah proses Club Licensing Cycle usai.

Nasib Pelatih Terancam

Selain itu, masih ada beberapa pelatih yang nasibnya bisa terancam pada pekan-pekan berikutnya.

Ini tak terlepas dari hasil negatif yang dialami klub-klub tersebut pada pekan ketujuh BRI Super League 2026/2027. Yang layak ditunggu kelanjutan nasibnya ialah Pieter Huistra, arsitek PSS Sleman.

Laskar Sembada sejauh ini hanya bisa mengamankan empat poin hasil dari satu kemenangan dan satu imbang. Empat laga lainnya berakhir dengan kekalahan.

Nasib juru taktik asal Belanda itu bisa berada di ujung tanduk ketika bersua Borneo FC pada pekan ketujuh.

Sebab, mereka akan bersua Borneo FC di kandang. Jika kembali kalah, bukan tak mungkin Huistra akan menyusul pelatih lainnya yang sudah lebih dahulu dipecat.

Menariknya, di kubu seberang, Borneo FC juga sedang tidak baik-baik saja.

Meski mengukir capaian oke di AFC Challenge League, Pesut Etam dihantui dua kekalahan beruntun di kompetisi domestik seusai digebuk Java United (1-2) dan Dewa United (1-3).

Apabila kembali mengukir capaian buruk pada pekan ke-7, nasib pelatihnya, Mauro Jeronimo, bisa saja berujung pemecatan. Ini akan menjadi pertaruhan yang sangat penting bagi kedua klub.

Video Populer

Foto Populer