Protes Politik FIFA, Petinggi Asosiasi Sepak Bola Jepang Pilih Mundur

Takeshi Okada Mundur dari Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA), protes politik FIFA di Era Gianni Infantino.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 29 Oktober 2026, 14:15 WIB
Gianni Infantino, Presiden FIFA, melambaikan tangan kepada penonton sebelum pertandingan babak 16 besar Piala Dunia Antarklub 2025 antara CR Flamengo dan FC Bayern München di Hard Rock Stadium pada 29 Juni 2025 di Miami Gardens, Florida. (Michael Reaves/Getty Images via AFP)

Bola.com, Jakarta - Takeshi Okada, pelatih yang dua kali menangani Timnas Jepang di Piala Dunia, mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA).

AP News melaporkan, keputusan itu diambil sebagai bentuk protes terhadap dinamika politik di FIFA menjelang upaya Gianni Infantino mempertahankan kursi presiden.

Advertisement

JFA mengumumkan pernyataan pengunduran diri Okada, Rabu kemarin. Surat itu bertanggal Sabtu pekan lalu, sehari setelah Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) secara terbuka menyatakan dukungan kepada Infantino.

Infantino membidik masa jabatan keempat sekaligus terakhir dalam pemilihan presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027.

Infantino menghadapi gelombang kritik sejak Juli. Rencana penjualan sebagian keuntungan Piala Dunia yang gagal terlaksana serta gaya kepemimpinannya, termasuk hubungannya dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, memicu polemik di kalangan pemimpin sepak bola Eropa, Amerika Utara, dan pada awalnya Asia.


Harus Menjunjung Integritas

(Kiri/Kanan) Presiden AS, Donald Trump, memperhatikan saat menerima Hadiah Perdamaian FIFA (FIFA Peace Award) dari Presiden FIFA, Gianni Infantino, selama pengundian Piala Dunia 2026 yang berlangsung di AS, Kanada, dan Meksiko, di Kennedy Center, Washington, DC, pada 5 Desember 2025. (Brendan SMIALOWSKI/AFP)

Okada, yang kini berusia 70 tahun, memimpin Jepang pada Piala Dunia 1998 dan 2010. Dalam pernyataan pengunduran dirinya, ia menegaskan keyakinannya bahwa olahraga harus menjunjung tinggi integritas.

"Namun, rangkaian tindakan yang berkaitan dengan Piala Dunia tahun ini sangat bertentangan dengan keyakinan pribadi saya. Sebagai seorang insan olahraga, saya tidak bisa menerimanya," tulis Okada.

Kendati menyampaikan keberatannya, Okada mengakui posisi Jepang dalam dinamika politik sepak bola dunia dan Asia bukan perkara sederhana.

Ia juga memahami ada pertimbangan praktis yang membuat Jepang perlu mengikuti sikap AFC.

Jepang memiliki ambisi menjadi tuan rumah Piala Dunia putra sebelum 2050.

Presiden JFA, Tsuneyasu Miyamoto, pernah menyampaikan keinginan itu dalam pertemuan daring AFC pada Oktober 2023. Pertemuan tersebut turut mengesahkan dukungan bagi Arab Saudi untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034.


Dukungan untuk Infantino Picu Polemik di Asia

AFC, CONCACAF dan UEFA menantang FIFA pimpinan Gianni Infantino.

Agustus lalu, Presiden AFC, Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa, bergabung dengan dua wakil presiden FIFA lainnya, Aleksander Ceferin dari UEFA dan Victor Montagliani dari CONCACAF, dalam mengkritik Infantino.

Mereka menudingnya melakukan "penipuan" dan melakukan "pelanggaran mendasar terhadap kepercayaan" terkait upayanya menjual sebagian keuntungan Piala Dunia secara permanen.

Infantino sebelumnya menyusun kesepakatan senilai 4,2 miliar dolar AS dengan investor swasta yang dipimpin Joshua Kushner. Joshua merupakan adik Jared Kushner, suami Ivanka Trump, putri Presiden Donald Trump.

Meski mendapat kritik, Infantino tetap memperoleh dukungan Qatar, tuan rumah Piala Dunia 2022. Ia juga tampak kembali mendapatkan kepercayaan Arab Saudi sejak Agustus.

Negara yang akan menggelar Piala Dunia 2034 itu sebelumnya belum memberikan dukungan secara terbuka sebelum menjamu Infantino di Jeddah, bulan ini.

Arab Saudi dan Qatar memiliki pengaruh besar dalam sepak bola Asia. Karena itu, keputusan Sheikh Salman yang berasal dari keluarga kerajaan Bahrain untuk mendukung Infantino mengejutkan banyak pengamat sepak bola dunia.


UEFA Cari Penantang

Logo UEFA. (AFP/Fabrice Coffrini)

Pengumuman dukungan itu disampaikan dalam pertemuan AFC di Tokyo, Jumat pekan lalu.

AFC memiliki 46 dari total 211 federasi anggota FIFA yang akan memberikan suara dalam pemilihan presiden pada 18 Maret di Rabat, Maroko.

Sebagai organisasi nirlaba yang berbasis di Swiss, FIFA pada dasarnya dimiliki oleh 211 federasi anggotanya.

Infantino telah menjanjikan masing-masing federasi dana sebesar 25 juta dolar AS untuk proyek pengembangan dan biaya operasional selama empat tahun ke depan.

Sementara itu, UEFA menyatakan akan mencari kandidat untuk menantang Infantino. Badan sepak bola Eropa itu harus menentukan calon sebelum batas waktu pendaftaran yang ditetapkan FIFA pada 18 November.


Pangeran Ali Kritik Sikap AFC

Prince Ali Bin Al Hussein (NORBERTO DUARTE / AFP)

Polemik setelah pertemuan AFC di Tokyo berlanjut hingga pekan ini. Mantan Wakil Presiden FIFA asal Yordania, Pangeran Ali bin Al Hussein, melontarkan kritik melalui media sosial terhadap pertemuan terakhir AFC, Jumat.

Ia menyebut pertemuan itu sebagai "politik murni atas kehendak Gianni Infantino". Pangeran Ali pernah menjadi salah satu dari empat kandidat yang menantang Infantino dalam pemilihan presiden FIFA pada 2016.

Ia juga menegaskan Asia tidak sepenuhnya bersatu mendukung presiden petahana tersebut.

"Tidak boleh ada paksaan, ancaman, atau suap dalam bentuk apa pun," tulisnya.

AFC membantah tuduhan Pangeran Ali dan menyebutnya tidak memiliki dasar. Mereka juga menolak klaim tidak ada anggota yang diberi kesempatan untuk berbicara dalam pertemuan tersebut.

"Tuduhan seserius ini harus didukung bukti yang kredibel," demikian pernyataan AFC.

AFC turut menyerahkan komentar Pangeran Ali kepada pejabat yudisialnya untuk dipertimbangkan dalam kemungkinan proses disipliner.

 

Sumber: AP News

Berita Terkait