Bola.com, Jakarta - Bagi sebuah klub sepak bola, pengeluaran dana besar biasanya diikuti dengan tuntutan untuk bisa mendapatkan prestasi. Namun, tak menutup kemungkinan dana masif yang dikeluarkan tak memberi dampak apa pun, malah klubnya bisa sampai terancam terdegradasi.
Seperti dilansir dari Yahoo Sports, Kamis (29/10/2026), anggaran belanja pemain yang fantastis idealnya menjadi jaminan bagi klub untuk terhindar dari jurang degradasi.
Namun, realita di lapangan sering kali tidak sejalan dengan besarnya nilai investasi yang telah dikeluarkan oleh manajemen.
Sepanjang sejarah kompetisi kasta tertinggi Liga Inggris, banyak klub tercatat menggelontorkan dana transfer dalam jumlah sangat besar.
Berdasarkan data pengeluaran kotor Transfermarkt pada bursa transfer musim panas dan dingin, berikut lima klub terboros yang tetap terdegradasi dari Premier League.
1. West Ham (Rp4,1 triliun)
Posisi puncak daftar ini ditempati oleh West Ham United pada musim 2025/2026 dengan total belanja mencapai 203,3 juta euro atau sekitar Rp4,1 triliun.
Angka itu menjadi rekor pengeluaran tertinggi bagi klub yang akhirnya harus turun kasta dari Premier League.
Pada musim itu, The Hammers mendatangkan Mateus Fernandes dari Southampton seharga 52,25 juta euro, mempermanenkan Jean-Clair Todibo dari Nice senilai 40 juta euro, serta memboyong Taty Castellanos dari Lazio seharga 23,95 juta euro. Namun, performa di lapangan justru berbanding terbalik.
Rentetan hasil buruk membuat Graham Potter dipecat pada September 2025 dan digantikan oleh Nuno Espirito Santo.
Meski menang 3-0 atas Leeds pada laga pamungkas, West Ham tetap terdegradasi di posisi ke-18 dengan 39 poin usai Tottenham menang atas Everton.
2. Leeds United (Rp3,3 triliun)
Di urutan kedua ada Leeds United pada musim 2022-2023 yang mengelurkan dana transfer hingga 163,9 juta euro atau sekitar Rp3,3 triliun.
Setelah menjual Raphinha dan Kalvin Phillips, Leeds mendatangkan Georginio Rutter seharga 40,5 juta euro, Brenden Aaronson 32,84 juta euro, dan Luis Sinisterra 25 juta euro.
Pergantian manajer dari Jesse Marsch, Javi Gracia, hingga Sam Allardyce di empat laga terakhir gagal menyelamatkan Leeds United.
Kekalahan 1-4 dari Tottenham Hotspur di laga penutup memastikan mereka finis di peringkat ke-19 dengan koleksi 31 poin.
3. Southamthon (Rp3,1 triliun)
Nasib serupa dialami Southampton pada musim 2022/2023 dengan belanja mencapai 154,2 juta euro atau sekitar Rp3,1 triliun.
Sebagian besar dana dialokasikan untuk pemain muda serta memboyong Kamaldeen Sulemana seharga 25 juta euro, tetapi The Saints tetap terbenam di dasar klasemen dengan 25 poin.
4. Ipswich Town (Rp3 triliun)
Sementara itu, Ipswich Town pada musim 2024/2025 menghabiskan 152,6 juta euro atau sekitar Rp3 triliun usai promosi ke Premier League. Ipswich Town diberi dana untuk menutupi defisit.
Dengan mendatangkan Jaden Philogene 23,7 juta euro, Omari Hutchinson 23,5 juta euro, dan Liam Delap 17,85 juta euro, dengan daftar 17 pemain baru.
Hasil penjualan pemain hanya menghasilkan 2,36 juta euro.
Ipswich Town dipastikan degradasi setelah kekalahan 3-0 dari Newcastle United. Ipswich hanya memenangkan empat pertandingan sepanjang musim dan finis di peringkat ke-19 dengan 22 poin.
5. Fulham (Rp2,3 triliun)
Fulham pada musim 2018/2019 membelanjakan 116,5 juta euro atau sekitar Rp2,3 triliun. Fulham gagal mempertahankan tempat di kasta tertinggi dan harus kembali terdegradasi.
Setelah mendatangkan Jean Michael Seri 30 juta euro, Andre Frank Zambo Anguissa 24,85 juta euro, dan Aleksandar Mitrovic 24,7 juta euro merupakan rekrutan termahal setelah promosi melalui babak play-off.
Pelatih Fulham saat itu Slavisa Jokanovic dipecat pada bulan November, dan Claudio Ranieri bertahan hingga akhir Februari.
Sebelum digantikan oleh Scott Parker hingga akhir musim. Fulham kebobolan 81 gol dan finis di peringkat ke-19 dengan 26 poin.
Sumber: Yahoo Sports